Menuju konten utama

Harga Pertalite Akan Naik atau Tidak? Ini Jawaban Purbaya

Pemerintah akan mengalkulasi pergerakan harga minyak dunia terhadap asumsi makro dalam APBN, termasuk dalam mengevaluasi kebijakan subsidi BBM.

Harga Pertalite Akan Naik atau Tidak? Ini Jawaban Purbaya
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan kepada media pada konferensi pers APBN KiTa edisi November 2025 di Jakarta, Kamis (20/11/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah masih terus memantau pergerakan harga minyak dunia dan dampaknya terhadap APBN.

Hal tersebut ia sampaikan merespons harga minyak di pasar global yang telah menembus ke atas 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel pada hari ini. Senin (9/3/2026).

"Kita lihat kondisi APBN kita seperti apa. Yang jelas, kita coba absorb shock semaksimal mungkin," tuturnya usai sidak di Pasar Tanah Abang.

Purbaya mengatakan pemerintah akan mengalkulasi pergerakan harga minyak dunia terhadap asumsi makro dalam APBN. Termasuk dalam mengevaluasi kebijakan subsidi energi yang akan berpengaruh terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite.

"Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk merubahsubsidi BBM, dalam pengertiannaikin harga BBM. Karena kita lihat seperti apa kondisinya.Nanti kalau setelah sebulan semuanya berubah,kita akan evaluasi," jelas Purbaya.

"Jadi teman-teman yang lain,jangan cepat-cepat memastikan atau menyimpulkanharga akan 100 (dolar per barel) terus,bahkan ada yang bilang 150 (dolar per barel),dan kita anggarannya akan nggak kuat.Kita akan asses terus dari waktu ke waktu.Hitungan kita kan berubah terus-berubah setelah keadaan," sambungnya.

Ia meminta semua pihak tidak berspekulasi bahwa harga minyak bakal stabil di atas 100 dolar AS per barel, karena harga komoditas tersebut dapat berubah sewaktu-waktu.

"Yang jelas, kita monitor dari waktu ke waktu, dan saya tidak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan," ujar Purbaya. "Jadi kita lihat, sebulan ini gimana sih keadaannya. Nanti kita evaluasi secara menyeluruh. Tapi yang jelas kita akan pastikan momentum pertumbuhan ekonomi tidak terganggu," lanjut Purbaya.

Kenaikan Harga Minyak

Sebagai informasi, harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus 110 dolar Amerika Serikat (AS) per barel hari ini, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan berkepanjangan pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.

Data pasar yang dihimpun oleh Bloomberg menunjukkan, hingga Senin (9/3/2026) sekitar pukul 11.05 WIB, kontrak West Texas Intermediate Crude Oil (WTI) untuk pengiriman April 2026 diperdagangkan di kisaran 115,25 dolar AS per barel. Angka ini melonjak 24,35 dolar AS atau sekitar 26,79 persen dibandingkan penutupan sesi sebelumnya.

Sementara itu, harga Brent Crude—yang menjadi acuan utama perdagangan minyak global—tercatat berada di level 115,82 dolar AS per barel untuk kontrak Mei 2026. Harga tersebut naik 23,13 dolar AS atau sekitar 24,95 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Lonjakan harga energi juga dipicu oleh terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat sebagian besar aktivitas kapal tanker di jalur strategis tersebut terhenti sejak pekan lalu. Padahal, sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melewati jalur pelayaran ini.

Ekonom dari Peterson Institute for International Economics, Adnan Mazarei, menilai lonjakan harga minyak memang sulit dihindari dalam situasi seperti saat ini. Selain meningkatnya risiko konflik berkepanjangan, produksi minyak di sejumlah negara Teluk juga dilaporkan mengalami gangguan.

"Orang-orang menyadari bahwa ini tidak akan berakhir dengan cepat," katanya, menambahkan bahwa janji-janji asuransi dan tujuan yang ditetapkan oleh AS "menjadi lebih tidak realistis," tuturnya, dikutip BBC.

Kenaikan harga minyak mentah berpotensi mendorong peningkatan harga berbagai produk turunan energi, termasuk bahan bakar pesawat serta bahan baku penting untuk produksi pupuk.

Sebagian besar pasokan energi dari kawasan Teluk selama ini dikonsumsi oleh negara-negara Asia. Namun, situasi geopolitik yang memanas mulai memicu perubahan arus perdagangan energi global. Sejumlah pembeli di Asia dilaporkan mulai menawar harga gas dari Amerika Serikat, sementara beberapa kapal tanker yang semula menuju Eropa dilaporkan berbalik arah di tengah Samudra Atlantik.

Baca juga artikel terkait PURBAYA YUDHI SADEWA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana