tirto.id - Harga minyak naik sekitar 1 persen pada Rabu (10/6/2026), setelah sempat menyentuh level terendah dalam tujuh pekan pada sesi perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh serangan baru militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, serta data pasar yang menunjukkan kembali terjadinya penurunan besar pada cadangan minyak mentah AS.
Serangan militer AS terhadap sejumlah sasaran di Iran dilakukan setelah Presiden Donald Trump berjanji pada Selasa (9/6/2026) untuk memberikan respons atas jatuhnya helikopter serang Apache milik AS pada malam sebelumnya. Eskalasi terbaru ini berisiko menggagalkan gencatan senjata yang masih rapuh antara Washington dan Teheran.
Mengutip Reuters, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 83 sen atau 0,9 persen menjadi 92,29 dolar AS per barel. Sedangkan, minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 68 sen atau 0,8 persen ke level 88,97 dolar AS per barel.
Pada perdagangan Selasa, Brent ditutup di level terendah sejak 17 April, sedangkan WTI berakhir pada posisi terlemah sejak 29 Mei. Pelemahan tersebut terjadi setelah Israel dan Iran menghentikan serangan langsung satu sama lain menyusul desakan Presiden Donald Trump agar kedua pihak menghentikan eskalasi konflik.
Teheran menyatakan akan kembali melancarkan aksi militer apabila Israel terus menyerang milisi Hezbollah di Lebanon. Penolakan Israel untuk mengakhiri operasi militernya terhadap Hezbollah—kelompok yang didukung Iran—telah menghambat upaya Trump untuk memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh dalam konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dengan demikian, peluang untuk menjadi kesepakatan damai yang lebih permanen pun tampak semakin jauh.
Pada saat yang sama, Teheran masih terus menghambat sebagian besar aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Sementara itu, Washington juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Menteri Energi Amerika Serikat pada Selasa mengatakan bahwa lalu lintas kapal di kawasan Teluk serta ekspor minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat, meskipun Washington dan Teheran masih kesulitan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan antara kedua negara.
Dari sisi pasokan, persediaan minyak mentah Amerika Serikat tercatat turun pada pekan lalu untuk delapan minggu berturut-turut. Informasi tersebut disampaikan oleh sumber pasar yang mengutip data dari American Petroleum Institute (API) yang dirilis pada Selasa. Pada periode yang sama, stok bensin AS juga mengalami penurunan.
Sumber-sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa cadangan minyak mentah AS menyusut sebesar 9,12 juta barel dalam sepekan yang berakhir pada 5 Juni.
Sementara itu, selama berlangsungnya perang Amerika Serikat berperan sebagai pemasok tambahan (marginal supplier) minyak mentah dan produk olahan minyak untuk membantu memenuhi kebutuhan pasar global. Negara itu juga meningkatkan ekspor energi ke kawasan Asia dan Eropa.
Namun, menurunnya persediaan minyak mentah di AS berpotensi menghambat kapasitas ekspor negara tersebut. Jika pasokan ke pasar internasional berkurang, kondisi itu dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





































