tirto.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut bahwa perang antara Iran dan Israel dapat segera diakhiri melalui sebuah kesepakatan damai dalam dua atau tiga hari lagi. Ia juga mengatakan bahwa kedua pihak saat ini berada pada tahap akhir negosiasi.
Konflik antara Iran dan Israel semakin memanas setelah keduanya terlibat dalam aksi saling serang.
Amerika Serikat yang juga sekutu Israel memilih untuk bersikap netral dan mendorong Yerusalem dan Teheran untuk menyudahi perang dan memulai perundingan damai.
Dalam keterangannya kepada wartawan setelah menghadiri pertandingan final NBA Finals di New York, Trump mengatakan bahwa kedua pihak saat ini sudah sangat dekat dengan kesepakatan.
“Kesepakatan yang sangat, sangat bagus yang sama sekali tidak akan mengizinkan senjata nuklir.” ucap Trump dikutip CNBC Selasa (9/6/2026).
Selain itu, Trump juga mengklaim bahwa jika kesepakatan tersebut tercapai, jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akan kembali dibuka secara penuh dan sesegera mungkin, sehingga aktivitas perdagangan serta pengiriman energi global dapat kembali berjalan normal.
Lewat akun Truth Social nya, Trump berulang kali menyerukan pada Israel dan Iran untuk menyudahi perang mereka.
“Israel dan Iran harus segera menghentikan "penembakan.",” pinta Trump.
Meski melihat peluang tercapainya gencatan senjata dan kesepakatan damai antara Israel dan Iran, Trump menegaskan bahwa tekanan terhadap Iran akan tetap dipertahankan sampai tercapai perjanjian final yang permanen dan mengikat.
“Kedua belah pihak, Israel dan Iran, berupaya untuk segera melakukan gencatan senjata! Negosiasi akhir tentang "perdamaian" sedang berlangsung, dengan kemungkinan terhalang oleh ketidaktahuan atau kebodohan. Blokade akan tetap diberlakukan dan berlaku sepenuhnya hingga "kesepakatan akhir" tercapai. Segala sesuatunya harus berjalan cepat. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!” tegasnya di unggahan yang lain.
Kenapa Iran dan Israel Perang Lagi?
Gencatan senjata antara Iran dan AS yang berlaku sejak pertengahan April kembali mengalami tekanan setelah Iran dan Israel saling melancarkan serangan pada akhir pekan kemarin.
Iran menembakkan rudal ke wilayah utara Israel setelah menuduh Israel telah melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui serangan-serangan terhadap Lebanon, termasuk serangan di kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat kelompok Hizbullah.
Sebagai respons, Israel mengumumkan telah melakukan serangan berskala besar terhadap sistem pertahanan strategis Iran. Meskipun militer Iran kemudian menyatakan telah menghentikan serangan terhadap Israel, Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan bahwa mereka akan kembali melancarkan operasi militer jika Israel terus menyerang Lebanon.
Seperti diketahui sebelumnya, dalam kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan AS, disebutkan poin untuk menghentikan serangan ke wilayah Lebanon juga. AS menyepakati hal itu namun menekankan jika Israel masih boleh melakukan serangan ke Lebanon asalkan serangan bela diri.
Artinya, Israel hanya boleh menyerang Lebanon jika memang ada ancaman dari kelompok bersenjata Hizbullah yang selama ini disebut oleh Israel telah mengancam keamanan nasional negara itu.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga memberikan sinyal bahwa konflik Israel dan Iran belum benar-benar berakhir.
“(Perang melawan Iran dan proksinya yang berbasis di Lebanon, Hizbullah) belum berakhir," tandas Netanyahu.
Di sisi lain, kelompok Hizbullah secara terbuka mendukung tindakan Iran dengan menyerang Israel. Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menyebut serangan rudal Iran sebagai bentuk pembelaan terhadap rakyat Lebanon dan bukti komitmen Teheran terhadap keamanan negara tersebut.
Menurut Hizbullah, Israel terus melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata melalui serangan udara dan operasi militer di Lebanon dengan dukungan penuh Amerika Serikat.
“Oleh karena itu, tanggapan Iran datang untuk menekankan bahwa kepentingan stabilitas kawasan dan negara-negaranya terletak pada upaya maksimal untuk memastikan bahwa perjanjian tersebut ditegakkan dan bahwa musuh Zionis, sebelum siapa pun, mematuhinya,” kata Hizbullah dikutip Al Jazeera (9/6/2026).
Israel dilaporkan terus melancarkan operasi militer terhadap target-target yang diklaim terkait Hizbullah. Serangan terbaru menghantam kawasan pemukiman di kota Tirus, Lebanon selatan dan menewaskan sedikitnya sembilan orang serta melukai 28 orang lainnya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































