Menuju konten utama

Harga Avtur Bergejolak, Maskapai Mulai Kurangi Rute Penerbangan

Kemenhub mengungkap maskapai mulai mengurangi rute domestik dan internasional sejak April 2026 akibat gejolak harga avtur dan fuel surcharge.

Harga Avtur Bergejolak, Maskapai Mulai Kurangi Rute Penerbangan
Penumpang pesawat tiba di area Terminal Domestik Bandara I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Senin (6/7/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) ke berbagai daerah di Indonesia pada periode Januari-Mei 2026 mencapai 523,22 juta perjalanan yang meningkat 2,86 persen dibandingkan periode Januari-Mei 2025 dengan 508,67 juta perjalanan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Direktur Angkutan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Agustinus Budi Hartono, mengungkapkan bahwa sejumlah maskapai telah melakukan penghentian sementara operasional pada sejumlah rute sejak April 2026.

Penutupan rute penerbangan tersebut dilakukan perusahaan-perusahaan aviasi seiring dengan adanya penyesuaian batas maksimum fuel surcharge (FS) atau biaya tambahan bahan bakar penerbangan sebesar 50 persen pada bulan itu.

“Terus terang, sebenarnya dampak daripada kenaikan harga ini sebenarnya untuk teman-teman airlines udah mulai banyak mengurangi rute penerbangan. Itu bukan cuma rute domestik saja lho, internasional juga. Nanti saya kasih datanya di sini. Jadi, mulai bulan April, Mei itu beberapa rute penerbangan yang dikurangi oleh airlines, baik domestik sama internasional, saya punya datanya,” ungkapnya saat temu media, di Aroem Resto & Cafe, Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2026).

Berdasarkan data Kemenhub, penghentian sementara rute penerbangan mulai terjadi sejak April 2026. Pada penerbangan internasional, sebanyak 26 rute atau 16 persen dari total rute yang beroperasi terdampak penghentian sementara karena penyesuaian fuel surcharge. Angka tersebut meningkat menjadi 46 rute atau 28 persen dari total rute pada Mei, dan tetap tinggi pada Juni dengan 46 rute atau 29 persen dari total rute dihentikan sementara.

Pada Juli, jumlah rute internasional yang terdampak penghentian sementara turun menjadi 37 rute atau 23 persen dari jumlah total rute, sebelum kembali naik pada Agustus dengan rute yang dihentikan sebanyak 28 rute atau 18 persen dari total rute penerbangan internasional.

Dari sisi frekuensi, pengurangan juga terlihat signifikan. Pada April terdapat 212 frekuensi penerbangan per minggu yang terdampak. Jumlahnya melonjak menjadi 406 frekuensi per minggu pada Mei dan 368 frekuensi per minggu pada Juni.

Sementara itu, pada Juli frekuensi yang terdampak turun menjadi 249 penerbangan per minggu dan kembali menjadi 193 penerbangan per minggu pada Agustus.

Secara kumulatif, data Kemenhub menunjukkan pola serupa pada penerbangan domestik. Pada April terdapat 107 rute domestik yang mengalami penghentian sementara dengan 629 frekuensi per minggu terdampak. Angka tersebut turun menjadi 79 rute dan 581 frekuensi per minggu pada Mei, kemudian 83 rute dan 568 frekuensi per minggu pada Juni.

Pada Juli, jumlah penerbangan yang ditutup menyusut menjadi 21 rute dengan 175 frekuensi per minggu, sebelum mencapai 17 rute dengan 108 frekuensi per minggu pada Agustus.

“Sebenarnya udah banyak [maskapai] mulai mengurangi [rute penerbangan]. Mau tidak mau seperti itu untuk mengurangi efisiensi operasional perusahaannya, mereka memang mengurangi,” sambung Agustinus.

Baca juga artikel terkait PENERBANGAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra