tirto.id - Direktur Angkutan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Agustinus Budi Hartono, mengungkapkan bahwa sejumlah maskapai telah melakukan penghentian sementara operasional pada sejumlah rute sejak April 2026.
Penutupan rute penerbangan tersebut dilakukan perusahaan-perusahaan aviasi seiring dengan adanya penyesuaian batas maksimum fuel surcharge (FS) atau biaya tambahan bahan bakar penerbangan sebesar 50 persen pada bulan itu.
“Terus terang, sebenarnya dampak daripada kenaikan harga ini sebenarnya untuk teman-teman airlines udah mulai banyak mengurangi rute penerbangan. Itu bukan cuma rute domestik saja lho, internasional juga. Nanti saya kasih datanya di sini. Jadi, mulai bulan April, Mei itu beberapa rute penerbangan yang dikurangi oleh airlines, baik domestik sama internasional, saya punya datanya,” ungkapnya saat temu media, di Aroem Resto & Cafe, Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2026).
Berdasarkan data Kemenhub, penghentian sementara rute penerbangan mulai terjadi sejak April 2026. Pada penerbangan internasional, sebanyak 26 rute atau 16 persen dari total rute yang beroperasi terdampak penghentian sementara karena penyesuaian fuel surcharge. Angka tersebut meningkat menjadi 46 rute atau 28 persen dari total rute pada Mei, dan tetap tinggi pada Juni dengan 46 rute atau 29 persen dari total rute dihentikan sementara.
Pada Juli, jumlah rute internasional yang terdampak penghentian sementara turun menjadi 37 rute atau 23 persen dari jumlah total rute, sebelum kembali naik pada Agustus dengan rute yang dihentikan sebanyak 28 rute atau 18 persen dari total rute penerbangan internasional.
Dari sisi frekuensi, pengurangan juga terlihat signifikan. Pada April terdapat 212 frekuensi penerbangan per minggu yang terdampak. Jumlahnya melonjak menjadi 406 frekuensi per minggu pada Mei dan 368 frekuensi per minggu pada Juni.
Sementara itu, pada Juli frekuensi yang terdampak turun menjadi 249 penerbangan per minggu dan kembali menjadi 193 penerbangan per minggu pada Agustus.
Secara kumulatif, data Kemenhub menunjukkan pola serupa pada penerbangan domestik. Pada April terdapat 107 rute domestik yang mengalami penghentian sementara dengan 629 frekuensi per minggu terdampak. Angka tersebut turun menjadi 79 rute dan 581 frekuensi per minggu pada Mei, kemudian 83 rute dan 568 frekuensi per minggu pada Juni.
Pada Juli, jumlah penerbangan yang ditutup menyusut menjadi 21 rute dengan 175 frekuensi per minggu, sebelum mencapai 17 rute dengan 108 frekuensi per minggu pada Agustus.
“Sebenarnya udah banyak [maskapai] mulai mengurangi [rute penerbangan]. Mau tidak mau seperti itu untuk mengurangi efisiensi operasional perusahaannya, mereka memang mengurangi,” sambung Agustinus.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






































