Menuju konten utama

Gempa M6,7 Guncang Peru: 2 Orang Luka dan 29 Bangunan Rusak

Gempa M6,7 mengguncang Peru dan melukai dua orang. Puluhan bangunan rusak, termasuk rumah, fasilitas kesehatan, dan sekolah. Gempa tidak berpotensi tsunami.

Gempa M6,7 Guncang Peru: 2 Orang Luka dan 29 Bangunan Rusak
Debu melayang di udara setelah gempa bumi di Pausa, Peru, pada 20 Agustus 2026. Foto/Reuters
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Pegunungan Andes bagian selatan, Peru, pada Kamis (20/8/2026). Gempa tersebut menyebabkan sedikitnya dua orang terluka dan puluhan bangunan rusak. Angkatan laut Peru menyebut gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Guncangan yang terjadi sekitar pukul 13.00 waktu setempat itu berpusat sekitar 38 kilometer barat laut Kota Upahuacho, Provinsi Parinacochas, Region Ayacucho, dengan kedalaman sekitar 66 kilometer. Getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Ica, Arequipa, Huancavelica, Apurimac, Cusco, hingga ibu kota Lima.

Sedikitnya dua orang terluka saat berupaya menyelamatkan diri dari rumah mereka di Coracora. Otoritas juga melaporkan kerusakan pada 22 rumah, enam fasilitas kesehatan, dan satu sekolah di sejumlah wilayah Ayacucho dan Cusco.

Dampak dan Penyebab Gempa M6,7 di Peru

Berdasarkan laporan U.S. Geological Survey (USGS), gempa terjadi sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Episentrum gempa berada di wilayah pegunungan, sekitar 38 kilometer barat laut Kota Upahuacho, Provinsi Parinacochas, Region Ayacucho, dengan kedalaman sekitar 66 kilometer.

Guncangan gempa terasa cukup luas di bagian selatan dan tengah Peru. Selain wilayah Ayacucho, getaran dilaporkan dirasakan di Ica, Arequipa, Huancavelica, Apurímac, dan Cusco, bahkan hingga Lima, ibu kota Peru. Meski kekuatannya cukup besar, kedalaman gempa yang relatif dalam membantu mengurangi potensi kerusakan parah di permukaan.

Kepala Institut Geofisika Peru, Hernando Tavera, mengatakan kedalaman gempa menjadi salah satu faktor yang membuat dampaknya tidak terlalu besar. Warga di sejumlah daerah dilaporkan sempat keluar dari rumah dan menuju jalanan karena khawatir terhadap guncangan.

"Warga berhamburan ke jalan karena khawatir, tetapi tidak ada dampak," katanya kepada stasiun radio lokal RPP dikutip USA Today (20/8/2026).

Namun, laporan otoritas pertahanan sipil kemudian menunjukkan bahwa gempa tetap menimbulkan dampak di sejumlah wilayah. Kepala Civil Defense Peru, Luis Vasquez, mengatakan sedikitnya dua orang mengalami luka-luka ketika berusaha mengevakuasi diri dari rumah mereka di Coracora, ibu kota Provinsi Parinacochas.

Selain korban luka, kerusakan juga dilaporkan terjadi pada 22 rumah, enam fasilitas kesehatan, dan satu sekolah yang tersebar di sejumlah distrik di Ayacucho dan Cusco. Beberapa lokasi yang terdampak antara lain Puquio, Pullo, Coracora, Upahuacho, San Pedro, dan Pichari, seperti dilaporkan AP News (20/8/2026).

Otoritas Coracora melaporkan adanya longsoran atau jatuhan batu dari lereng perbukitan setelah gempa mengguncang kawasan tersebut. Meski demikian, Angkatan Laut Peru menyatakan tidak ada ancaman tsunami akibat gempa tersebut.

Penyebab gempa di Peru diyakini karena Peru berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Ini adalah zona yang mengelilingi Samudra Pasifik dan dikenal sebagai salah satu kawasan dengan aktivitas gempa serta vulkanik paling tinggi di dunia.

Aktivitas tersebut terutama berkaitan dengan pergerakan dan interaksi lempeng tektonik di sekitar kawasan Pasifik. Karena kondisi geologisnya, gempa bumi merupakan fenomena yang relatif sering terjadi di Peru, meskipun tingkat kekuatan dan dampaknya berbeda-beda.

Cincin Api membentang melewati banyak negara di sekitar Samudra Pasifik. Di Asia Timur dan Asia Tenggara, negara yang termasuk antara lain Indonesia, Jepang, Filipina, Taiwan, dan Papua Nugini.

Di kawasan Oseania, Cincin Api mencakup Selandia Baru dan Vanuatu. Sedangkan di Amerika Utara dan Amerika Tengah, jalurnya meliputi Amerika Serikat, terutama Alaska serta negara bagian di pantai barat seperti California dan Oregon, kemudian Kanada, Meksiko, Guatemala, El Salvador, dan Kosta Rika.

Jalur Cincin Api kemudian berlanjut ke Amerika Selatan, termasuk Kolombia, Ekuador, Peru, dan Chile.

Baca juga artikel terkait GEMPA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra