tirto.id - Beredar di media sosial unggahan video, yang mengklaim sebagai peristiwa tsunami pasca gempa di NTT pada Agustus 2026.
Video tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Ruang Bertumbuh” (arsip) pada Sabtu(15/8/2026). Dalam video berdurasi 16 detik tersebut menampilkan cuplikan terjadinya terjangan gelombang besar menghantam pantai yang diklaim terjadi setelah gempa di NTT.
“Tsunami pasca gempa di NTT. Semoga tidak ada korban amin.” Begitu narasi tertulis dalam video.
Gelombang itu diklaim sebagai tsunami yang terjadi usai gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7, yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Sampai artikel ini ditulis pada Jumat (21/8/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 1,5 ribu tanda suka, 81 komentar, dan 53 kali dibagikan. Kolom komentar terbagi dua, sebagian warganet mempercayai informasi tersebut dan berharap warga NTT baik-baik saja. Sebagian lainnya mempertanyakan kebenaran video tersebut.
Tirto juga menemukan unggahan serupa ada akun Facebook “Aisya Hanun Aqilah,” yang menuliskan kejadian tempat dalam video di Labuan Bajo dan keterangan “Pray for NTT" "Tsunami Pasca-Gempa M7.7 NTT. Semoga gk ada kor64n jiw4 ya Allah.” Lalu pada akun Instagram @anha_ata12032019, @makassarterkini.id, dan TikTok @userridwan920 yang menampilkan video serupa terkait gelombang tsunami pasca gempa di NTT.
Lantas, benarkah video tersebut merupakan peristiwa tsunami pasca gempa 7,7 M yang melanda NTT?

Penelusuran Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasil penelusuran mengarah pada akun Facebook “102.5 Brigada News FM CdeO” dan “Ka Nillo” yang diunggah pada Minggu (9/11/2025).
Kedua akun melaporkan gelombang tinggi tersebut terjadi karena terpicu topan Uwan atau topan Fung-wong yang menerjang pesisir Dinalungan, Aurora, Filipina.
Dalam salah satu video dituliskan keterangan, “Badai surga, yang dialami di Dingalan, Aurora, terkena oleh Super Typhoon #Uwan. | via JM Salise Liputan Khusus #BagyongUwan, saksikan 102.5 MHz BRIGADA NEWS FM CAGAYAN DE ORO.”
Tirto juga menemukan video identik pada akun Instagram TVRI Nasional yang menjelaskan bahwa gelombang tsunami pada video tersebut terjadi di wilayah Filipina pada Minggu (9/11/2025) karena terjadi topan super Fung-wong dan mengakibatkan banjir besar menerjang wilayah pesisir.
“Topan Super Fung-wong menghantam wilayah Filipina pada Minggu (9/11) menewaskan dua orang dan memaksa satu juta warga dievakuasi. Banjir besar juga terjadi akibat gelombang yang menerjang wilayah pesisir dan meluap akibat topan tersebut.
Dengan kecepatan angin berkelanjutan 185 km/jam dan hembusan hingga 230 km/jam, Topan Super Fung-wong, yang dikenal secara lokal sebagai Uwan, diperkirakan akan mendarat di Provinsi Aurora, Luzon tengah.
Fung-wong mendekati Filipina hanya beberapa hari setelah negara itu dihantam Topan Kalmaegi, yang menewaskan 204 orang dan meninggalkan jejak kehancuran sebelum menghantam Vietnam, merenggut lima nyawa lagi dan menghancurkan masyarakat pesisir.” Begitu keterangan tertulis dalam video dan terdengar percakapan dengan bahasa Filipina dalam cuplikan tersebut.
Pencarian pada Google Search dengan kata kunci "topan Fung-wong yang menerjang pesisir Dinalungan, Aurora, Filipina, Minggu (9/11/2025)" membawa Tirto pada laman CNBC. Laman tersebut melaporkan bahwa topan Fung-wong memporak-porandakan Filipina utara dan menewaskan sedikitnya dua orang. Topan tersebut juga memutus akses ke beberapa kota.
Menurut CNBC, lebih dari satu juta orang dievakuasi sebelum topan tersebut menerjang daratan di kota timur Dinalungan, provinsi Aurora, pada Minggu malam. Topan super ini menghantam bagian utama Pulau Luzon dengan angin kencang, hujan lebat, dan gelombang badai sepanjang malam.
Topan yang secara lokal dinamai “Uwan” ini merusak rumah-rumah di kota utara Santiago, provinsi Isabela. Dahan-dahan pohon dan tiang listrik juga tumbang diterjang topan. Wakil Gubernur provinsi Aurora, Patrick Alexis Angara, mengatakan setidaknya tiga kota tidak dapat diakses akibat tanah longsor dan jalanan yang rusak.
Laman Associated Pressmelaporkan, kecepatan angin topan tersebut mencapai 185 kph (115 mph) dan hembusan hingga 230 kph (143 mph).
Sementara itu, pada konteks gempa NTT, laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat, pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04:58:23 WIB wilayah Flores, Nusa Tenggara timur diguncang gempa bumi tektonik.
Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M7,7 pada kedalaman 15 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,41° LS; 121,39° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 30 Km arah timur laut Nagegeo, Nusa Tenggara Timur.
Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini berpotensi tsunami di wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat.
BMKG sempat mengeluarkan peringatan tsunami setinggi 0,5 hingga 3 meter untuk empat wilayah berstatus siaga: Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, dan Flores Timur.
BMKG mencatat gelombang tsunami kecil di bawah satu meter memang muncul di sepuluh titik pesisir, termasuk Sikka, Flores Timur, Labuan Bajo, hingga Baubau. BMKG resmi mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan BMKG mengidentifikasi bahwa gempa bumi dangkal berkedalaman 15 km ini bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Hasil analisis pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa bumi berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, atau tepatnya 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT.
“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Nelly di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Senada dengan hal tersebut, Tirto melaporkan, Nelly Florida Riama menyatakan bahwa peringatan tsunami berakhir pada pukul 07.30 WIB, karena dari hasil pemantauan BMKG sudah tidak ada lagi kenaikan permukaan air laut.
“Maka peringatan tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB," kata Nelly, Sabtu (15/8/2026).
Ia meminta kepada masyarakat untuk tidak mudah panik dan selalu memperhatikan setiap peringatan yang diberikan oleh BMKG.
Dengan demikian video yang beredar, yang mengklaim menampilkan cuplikan peristiwa gelombang besar tsunami di Labuan Bajo dan wilayah sekitar NTT pasca gempa 7,7 M tidak didukung dengan fakta ilmiah.
Kesimpulan
Hasil pemeriksaan fakta menunjukkan cuplikan video yang diklaim sebagai peristiwa gelombang besar tsunami pasca gempa di NTT 7,7 M, bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).
Video tersebut direkam saat topan super Fung-wong pada 9 November 2025, bukan pasca gempa di NTT pada Agustus 2026.
Adapun gempa bumi yang memicu tsunami pasca gempa di NTT terjadi dalam skala kecil dengan tinggi gelombang sekitar 0,36 meter di Labuan Bajo dan 0,94 meter di Maurole-Ende dan tidak memicu kerusakan fisik besar pada bangunan.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id

































