tirto.id - Lembaga pemeringkat Fitch Ratings memperkirakan pasar modal utang (debt capital market/DCM) Indonesia akan mencapai 800 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026, yang sebagian besar didorong oleh penerbitan surat utang pemerintah. Penerbitan obligasi korporasi di pasar domestik juga diperkirakan meningkat.
Kondisi ini membuat Indonesia akan tetap menjadi salah satu pasar sukuk terbesar di dunia dan penerbit utang utama di antara negara berkembang (emerging markets/EM) serta kawasan ASEAN pada tahun ini. Namun, keterlambatan pembayaran atau restrukturisasi utang oleh perusahaan kemungkinan masih akan terus terjadi.
Selain itu, pasar utang Indonesia juga harus menghadapi risiko utama yaitu volatilitas pasar domestik yang berkaitan dengan kekhawatiran terhadap tata kelola pasar modal, serta dampak perang Iran terhadap sentimen pasar negara berkembang dan harga minyak dunia.
Menurut laporan Fitch Ratings, faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi tren penerbitan utang dan memicu arus keluar modal, kenaikan biaya pendanaan, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah, yang sempat mencapai titik terendah sepanjang sejarah pada bulan April.
“Investor asing kembali mengurangi kepemilikan mereka atas surat berharga negara domestik yang dapat diperdagangkan, hingga turun di bawah 13 persen pada pertengahan April,” ujar Kepala Global Keuangan Syariah Fitch Ratings, Bashar Al Natoor, dalam keterangannya, dikutip Kamis (7/5/2026).
“Hal ini mencerminkan meningkatnya sikap hati-hati investor terhadap risiko (risk-off sentiment), pelemahan nilai tukar rupiah, dan kenaikan imbal hasil (yield),” tambahnya.
Kondisi ini juga terjadi setelah Fitch merevisi Outlook Indonesia menjadi Negatif pada Maret kemarin. Meski begitu, pemerintah saat ini lebih memprioritaskan pendanaan dalam rupiah sebagai bagian dari strategi utang 2026–2030.
“Di Fitch, kami memberikan peringkat pada hampir seluruh sukuk Indonesia berdenominasi dolar AS yang diterbitkan pemerintah dengan rating ‘BBB’. Kami juga memantau lebih dari 30 sukuk rupiah yang diterbitkan oleh pihak non-pemerintah, dengan peringkat mulai dari ‘AAA (idn)’ hingga ‘A-(idn)’,” jelas Bashar.
Sementara itu, Indonesia memiliki pasar modal utang terbesar keempat di antara negara berkembang— di luar Cina— dan terbesar di kawasan ASEAN. Pada akhir kuartal I 2026, entitas Indonesia juga menjadi penerbit sukuk terbesar di dunia.
Nilai outstanding pasar DCM Indonesia mencapai 755 miliar dolar AS pada akhir kuartal I 2026, meningkat 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Dari total tersebut, porsi sukuk mencapai 17,5 persen, naik 16,8 persen pada kuartal I 2025.
Sedangkan, total penerbitan utang pada kuartal I 2026 mencapai sekitar 47 miliar dolar AS, turun 6 persen secara tahunan dan turun 42 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/qoq). Penurunan ini terjadi di tengah volatilitas ekonomi makro dan lonjakan besar pembiayaan pada kuartal IV 2025. Sementara itu, likuiditas sukuk non-pemerintah (non-sovereign) masih relatif lemah dibandingkan dengan sukuk pemerintah.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































