Menuju konten utama

Pemerintah Tarik Utang Rp258,7 Triliun hingga Akhir Maret 2026

Kemenkeu menarik utang baru senilai Rp258,7 triliun atau setara 31,1 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN.

Pemerintah Tarik Utang Rp258,7 Triliun hingga Akhir Maret 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di acara Indonesia Fiskal Forum 2026. Hendra/Tirto.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menarik utang baru senilai Rp258,7 triliun hingga 31 Maret 2026. Angka tersebut setara 31,1 persen dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 senilai Rp832,2 triliun hingga 31 Maret 2026.

Pembiayaan utang tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan periode akhir Maret 2025 yang sebesar Rp272,1 triliun. Penarikan utang baru ini terungkap dari dokumen APBN KITA periode Maret 2026 yang sempat dirilis Kemenkeu, sebelum akhirnya ditarik.

Berbanding terbalik dengan pembiayaan utang, realisasi pembiayaan non-utang per 31 Maret 2026 tercatat minus sebesar Rp1,3 triliun atau 0,9 persen dari target APBN 2026 senilai minus Rp143,1 triliun.

Pun, realisasi pembiayaan non-utang ini juga lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, di mana mencapai Rp19,6 triliun atau 12,3 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp159,7 triliun.

Dus, secara keseluruhan realisasi pembiayaan anggaran di akhir triwulan I 2026 mencapai Rp257,4 triliun atau 37,3 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2026 yang senilai Rp689,1 triliun.

Kemenkeu menegaskan, pembiayaan APBN 2026 telah dikelola secara prudent dan terukur, serta memperhatikan likuiditas pemerintah, kondisi kas yang optimal dan dinamika pasar keuangan.

Tak hanya itu, pembiayaan utang juga berjalan on-track melalui langkah antisipatif dan active cash & debt management—strategi pengelolaan saldo kas dan utang secara aktif untuk menyeimbangkan likuiditas, meminimalkan biaya bunga, dan memaksimalkan imbal hasil kas menganggur yang melibatkan optimalisasi saldo harian (smoothing), investasi surplus kas, dan pinjaman efisien untuk memenuhi kebutuhan operasional jangka pendek.

“Pemenuhan target pembiayaan mempertimbangkan cost of fund yang efisien dan risiko yang termitigasi serta tata kelola yang baik dan terjaganya indikator utang pada level yang aman,” tulis Kementerian Keuangan.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana