tirto.id - Baru-baru ini seorang anggota parlemen Malaysia, Kalam Salan, menyampaikan desakan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Uniknya pidato tersebut ia sampaikan dengan menggunakan Bahasa Jawa.
Pidato disampaikan Kalam ketika sidang membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran 2027 di Dewan Rakyat Malaysia, hari Rabu (21/10/2026).
Dalam pidato Berbahasa Jawa itu, Kalam Salan berharap Presiden Prabowo Subianto dapat mempercepat upaya pemadaman karhutla, serta memastikan masalah karhutla serta asap lintas negara tidak berulang. Kefasihan Bahasa Jawa bagi sebagian warga Malaysia tak lepas dari sejarah.
Secara historis, diaspora masyarakat suku Jawa sudah berlangsung sejak era kolonial. Beberapa wilayah yang banyak dijumpai diaspora Jawa antara lain Suriname, Malaysia, dan New Caledonia (Kaledonia Baru).
Seiring berkembangnya waktu, penggunaan Bahasa Jawa kini sudah berakulturasi dengan bahasa setempat, beberapa di antaranya bahkan menemui tantangan dari sisi kelestarian oleh generasi muda.

Gelombang Migrasi dan Kelahiran Diaspora Jawa
Gelombang migrasi masyarakat Jawa ke Suriname merupakan bagian dari kebijakan kolonial Belanda, yang bertujuan menopang kebutuhan tenaga kerja atau indentured labourers sektor perkebunan di wilayah jajahan lainnya.
Praktik ini diperkirakan mulai berlangsung setelah berakhirnya sistem perbudakan wilayah benua Amerika pada 1863. Berakhirnya era perbudakan membuat banyak tenaga kerja meninggalkan pekerjaan mereka di perkebunan, kemudian beralih ke lapangan kerja lain sesuai dengan keinginan masing-masing.
Sektor perkebunan yang menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Belanda di Suriname mengalami kemerosotan. Untuk membuat bisnis tetap berjalan, pemerintah Belanda lantas mendatangkan orang Jawa (Hindia Belanda) untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan Suriname.
Secara ekologis, Suriname termasuk wilayah subur penghasil kakao, kopi, hingga gula. Wilayahnya terletak di pantai utara Amerika Selatan. Suriname dulunya dikenal sebagai Guyana Belanda, koloni perkebunan Belanda yang lantas memperoleh kemerdekaan pada 25 November 1975.

Studi Budaya, Identitas, Dan Migrasi : Penyebaran Suku Jawa Di Diaspora Suriname Abad XIX (2023) karya Ridwan Nugroho dan Eko Ribawati yang dimuat Jurnal Kala Manca, mencatat imigran Jawa pertama kali datang ke Suriname pada 9 Agustus 1890 dari Batavia, Tanjung Priok, dan Semarang. Mereka datang sebagai buruh kontrak di Marienburg, perkebunan terbesar di Suriname.
Selama periode 1890-1939, total imigran Jawa sekitar 33.000 orang di Suriname. Dari total tersebut, 80 persen di antaranya memilih tetap tinggal di Suriname. Kemudian tahun 1975 banyak orang Jawa ikut migrasi massal menuju Belanda, saat itu sebanyak 150.000 orang meninggalkan Suriname.
Secara identitas, orang Jawa-Suriname kini memiliki keterikatan yang kuat dengan Suriname, sebagaimana tercermin dalam pernyataan bangga mereka: "Ik ben een Javaan uit Suriname" (Saya adalah orang Jawa dari Suriname).
Selain Suriname, masyarakat Jawa bermigrasi ke Malaysia, terutama Selangor dan Johor. Penelitian Preserving Javanese identity and cultural heritage in Malaysia (2021) karya Linda Sunarti dan Teuku Reza Fadeli di Cogent Arts & Humanities, menjelaskan motif migrasi adalah tekanan ekonomi di Jawa. Mereka kemudian melihat peluang dari kebutuhan tenaga kerja di perkebunan karet atau kelapa sawit.
Migrasi orang Jawa ke Malaysia diperkirakan sudah dimulai akhir abad 19. Masyarakat Jawa yang tinggal di Malaysia atau komunitas Jawa-Melayu lebih mudah melebur karena kesamaan agama, pernikahan campur, hingga sistem pendidikan.
Banyak penduduk Jawa di Johor dan Selangor menghabiskan waktu mereka belajar di surau. Hal ini menciptakan ikatan yang mendorong terjadinya asimilasi di Malaysia karena memiliki kemiripan dengan penduduk lokal.
Kelompok ini berperan dalam merawat dan menghidupkan budaya Jawa di Malaysia. Mulai dari tradisi, seni tari, musik, tarian, wayang, batik, kuliner, dan ramuan obat tradisional.
Secara politis, imigran Jawa memiliki loyalitas dan nasionalisme terhadap pemerintahan Malaysia. Namun secara kultural, mereka masih menjaga keterikatan dengan akar tradisi Jawa.
Ini menjadi benang merah mengapa banyak sekali kesamaan budaya dan tradisi antara Indonesia dan Malaysia yang terkadang memicu ketegangan.
Thesis berjudul The Javanese diaspora in New Caledonia From indentured labourers to a fractured community (2023) karya Hayuningsih, mencatat pada periode 1896-1949 puluhan ribu orang Jawa didatangkan oleh pemerintah kolonial Prancis ke New Caledonia sebagai tenaga kerja kontrak (Indentured Labour). Mereka bekerja di pertambangan nikel, perkebunan, serta sektor layanan rumah tangga.
Setelah Perang Dunia II, sistem kontrak tersebut dihapuskan. Mayoritas imigran Jawa memilih tetap tinggal di New Caledonia lalu berakulturasi dengan budaya setempat.
Eksistensi dan Akulturasi Bahasa Jawa
Pada generasi awal migrasi, eksistensi Bahasa Jawa masih terjaga kemurniannya. Mulai dari penggunaan bahasa, tradisi, hingga kebiasaan sosial. Di lingkungan keluarga, penggunaan Bahasa Jawa cenderung masih digunakan bahkan sampai kini. Cara ini sebagai bagian merawat jati diri dan ingatan tentang leluhur.
Di Malaysia, Bahasa Jawa kerap digunakan dalam komunitas Jawa meski di tengah dominasi Bahasa Melayu. Namun seiring waktu, Bahasa Jawa yang berdampingan dengan bahasa nasional setempat kini mulai ditinggalkan generasi muda.
Di New Caledonia misalnya, generasi pertama cenderung mempertahankan identitas dan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Pada generasi kedua, mereka lebih fasih berbahasa Prancis ketimbang Bahasa Jawa. Akibatnya, penggunaan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari mulai menurun.
Di Suriname, kelompok etnis Jawa tetap menggunakan Bahasa Jawa ngoko sebagai bahasa keseharian, berdampingan dengan bahasa Sranan Tongo sebagai bahasa mayoritas. Seiring berkembangnya zaman, Bahasa Jawa kini berakulturaasi dengan bahasa Suriname, yang kerap disebut Surjavanen.
Hasil sensus penduduk tanggal 2 Agustus 2004, jumlah penduduk Republik Suriname tercatat sebanyak 492.829 orang. Dari total tersebut, diaspora Jawa berada di peringkat keempat terbanyak yakni 71.879 orang.

Dalam penelitian Javanese Cultural Traditions in Suriname (2011) karya Pamela Allen Bahasa Jawa berfungsi sebagai penanda identitas etnis yang kuat. Penggunaan bahasa ini terus dirawat lewat ruang-ruang publik, termasuk stasiun radio dan televisi berbahasa Jawa setempat.
Pelestarian tradisi Jawa di Suriname juga dilakukan melalui praktik tradisi yang berlangsung turun temurun maupun melalui kelembagaan. Secara khusus, Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie (VHJI) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) rutin mempromosikan seni tari klasik dan gamelan.
Penelitian Linda Sunarti dan tim yang dimuat di Cogent Arts & Humanities mengkaji bahwa penggunaan Bahasa Melayu yang kini lebih dominan di kalangan diaspora Jawa di Malaysia.
Salah satu faktornya yaitu bahasa Melayu menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah Jawa, sekaligus digunakan oleh pejabat pemerintah Malaysia untuk berkomunikasi dengan penduduk. Secara khusus, institusi pendidikan berperan penting dalam mengintegrasikan orang Jawa dan orang Melayu.
Sejumlah alat musik dan perangkat seni yang ada di Malaysia banyak diperoleh dari Jawa. Perangkat musik dan pertunjukan yang menjadi pusat kebudayaan Setia Budi Malaysia, meliputi gamelan, kepala reog, dan kuda kepang.
Tantangan Masa Depan Bahasa Jawa di Dunia
Bahasa Jawa termasuk bahasa daerah dengan penutur terbanyak. Selain dari jumlah populasi suku Jawa yang mendominasi, keberadaan diaspora di berbagai negara juga turut merawat kelangsungan Bahasa Jawa.
Di lingkungan keluarga atau komunitas diaspora, Bahasa Jawa tak jarang masih digunakan untuk komunikasi sehari-hari. Bahasa Jawa juga menjadi identitas untuk mengingat jati diri dan leluhur.
Namun Bahasa Jawa di lingkungan diaspora lebih banyak digunakan oleh generasi pertama dibanding generasi-generasi setelahnya. Pada era yang semakin modern, penggunaan Bahasa Jawa mulai ditinggalkan.
Bahasa nasional cenderung banyak digunakan di tempat kerja, sekolah, layanan publik, hingga media. Akibatnya banyak orang lebih fasih menggunakan bahasa nasional untuk berkomunikasi.
Oleh karenanya diperlukan cara khusus untuk merawat kelestarian Bahasa Jawa. Cara melestarikan bisa dengan menggunakan Bahasa Jawa di rumah untuk lintas generasi. Dengan demikian anak-anak cenderung memiliki kosa kata Bahasa Jawa yang lebih banyak.
Berikutnya, pelestarian Bahasa Jawa juga dapat dikemas melalui kegiatan komunitas, seperti pertemuan budaya, seni tradisional, kelas bahasa, dan dokumentasi cerita. Upaya pelestarian ini juga perlu didukung oleh pemerintah atau lembaga pendidikan.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id

































