tirto.id - Pada 1994, Haji Hamid mempelajari teknologi pupuk organik di Saraburi, Thailand. Ia ingin menerapkannya di Cimande, kampung halamannya. Namun, pembuatan pupuk itu membutuhkan banyak bahan baku, terutama kotoran ternak.
Hamid mempertimbangkan peternakan sapi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bersama penyuluh pertanian bernama Deden Tatang Suwardi, ia mempelajari peternakan sapi potong di Gunungkidul dan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Harga seekor sapi saat itu berkisar 5–6 juta rupiah. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pupuk, Hamid harus membeli puluhan ekor sapi. Biaya pengadaan dan pemeliharaannya terlalu besar bagi petani Cimande.
Di Sleman, Hamid bertemu Widi Atmodjo, seorang tukang bangunan yang memiliki kebun salak di samping rumahnya. Widi merawat kebun itu di sela-sela pekerjaannya.
"Dari situ beliau melihat prospek tanaman salak bagus. Akhirnya beliau terus mengembangkannya, dan dari kebun salak itu beliau bisa menyekolahkan anak-anaknya. Bapak terinspirasi dari situ. Itulah awal mula kenapa beralih dari sapi ke menanam salak," ujar Nur Ichwan, anak sulung Hamid.
Perawatan dan Keunggulan Salak Slebor
Hamid ingin membuktikan bahwa salak dapat tumbuh tanpa pupuk kimia dan pestisida. Ia menyiapkan lahan seluas satu hektare di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Lahan itu sebelumnya digunakan untuk kebun pepaya organik selama delapan tahun.
Saat itu, budidaya salak di Bogor tengah menghadapi persoalan. Menurut Deden Tatang Suwardi, Bogor dahulu dikenal sebagai daerah penghasil salak. Nama Gunung Salak dan Cisalak menjadi penanda sejarah tersebut. Namun, banyak salak lokal berasa asam dan berair, hanya salak condet dikenal manis dan sempat mendominasi pasar Jakarta pada 1970-an. Populasinya di Jakarta dan Bogor kemudian hampir punah pada 1997. Hamid melihat peluang untuk mengembangkan salak yang lebih diminati pasar.
Hamid menerapkan bokashi berbahan kotoran kambing yang difermentasi menggunakan EM4. Menurut keterangan yang dihimpun, proses ini mempercepat pengomposan. Jika pengomposan biasa membutuhkan waktu hingga sebulan, bokashi dapat matang dalam tiga hingga empat hari. Di Cimande, pupuk ini dikenal sebagai bokashi pupuk kandang arang.
Pemupukan dilakukan secara berkala dengan bokashi. Untuk mengelola sisa tanaman, petani membuat selokan di tepi bedengan, sekitar 50 sentimeter dari rumpun salak, dengan lebar dan kedalaman masing-masing 50 sentimeter. Daun dan pelepah hasil pemangkasan dimasukkan ke dalamnya, lalu ditaburi sedikit bokashi untuk membantu penguraian.
Salak baru berbuah sekitar tiga tahun setelah ditanam. Agar kebun tetap menghasilkan selama masa tunggu, Hamid menanam pisang tanduk di antara tanaman salak. Pisang ini dapat berbuah sekitar satu tahun setelah ditanam. Akarnya dangkal, anakannya tidak terlalu banyak, dan harga jualnya relatif tinggi.
Menurut Agus Asmara, salah seorang pekebun salak slebor yang belajar budidaya langsung dari Haji Hamid, batang pisang yang sudah ditebang dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk bokashi. Ia menduga gedebog pisang juga dapat menambah unsur kalium bagi tanah.
Beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor yang berkunjung ke perkebunan salak slebor milik keluarga Haji Hamid pada 12 Oktober 2026, menilai salak slebor memiliki perpaduan rasa manis dan sepet yang seimbang. Menurut mereka, kulitnya tipis sehingga mudah dikupas, sedangkan daging buahnya padat dan renyah.

Kebun yang Menopang Pendidikan Keluarga
Hamid mengembangkan kebun salak sebagai investasi jangka panjang bersama anggota Kelompok Tani Antanan. Kelompok ini berdiri pada 1975 dengan nama Kelompok Tani Siluman, singkatan dari Sisa Modal Tambah Lumayan. Pada 1978, namanya berubah menjadi Kelompok Tani Mekar. Nama Antanan baru digunakan pada 1980, singkatan dari Anak Petani Nan Harapan.
Nama Antanan merujuk pada tumbuhan yang tetap tumbuh meski kerap terinjak dan dapat dimanfaatkan sebagai lalapan maupun obat. Filosofi ini mencerminkan harapan agar petani bertahan menghadapi kesulitan ekonomi.
Saat ditemui, Agus Asmara mengatakan bahwa pada masa awal penanaman, Hamid membudidayakan salak di lahan seluas satu hektare. Bendahara kelompok, Haji Nu’man, menggarap setengah hektare. Haji Hasanuddin juga menanam di lahan setengah hektare, sedangkan Mang Aban dan Haji Dili masing-masing menggarap seperempat hektare. Penanaman kemudian meluas ke wilayah belakang, Babakan, Cinagara, hingga Pancawati. Menurut catatan yang dihimpun, pengembangan kebun akhirnya mencakup sekitar enam hektare yang dikelola 20 pekebun.
Salak mulai dipanen pada 1999. Kebun Hamid seluas satu hektare menghasilkan 556 kilogram pada panen perdana. Pada tahun yang sama, Kelompok Tani Antanan mengikuti pameran buah di Jakarta. Di antara salak dari sejumlah daerah, kelompok ini berusaha menarik perhatian pengunjung dengan memberi nama khusus pada salak pondoh yang mereka bawa.
"Supaya pengunjung tertarik datang ke stan kami, akhirnya kami membuat nama. Kami bilang, 'ini salak pondoh, dan teknologinya organik, tanpa pupuk kimia.’ Bibitnya dari Sleman dan ditanam di Bogor, jadi kami singkat menjadi slebor. Slebor itu singkatan dari Sleman-Bogor," ujar Nur Ichwan.
Sejak itu, buah tersebut dikenal sebagai salak slebor. Tanamannya tetap salak pondoh, bukan varietas baru hasil perubahan genetika. Data yang dihimpun menyebut hasil panen kebun Hamid mencapai enam ton per hektare pada 2000, naik menjadi 11,7 ton pada 2005, lalu 16,4 ton pada 2006.
Ketika Nur Ichwan mulai kuliah pada 2000, hasil panen salak belum banyak. Pendapatan dari tanaman sela dan hasil kebun lainnya turut membantu membiayai pendidikan anak-anak Hamid.
Hamid juga meneruskan pengetahuan budidaya kepada orang lain. Sekitar 2002, ia menawarkan Agus Asmara kesempatan mengelola kebun salak di Pancawati. Setelah bertahun-tahun mengelola kebun, Agus memahami berbagai aspek budidaya salak slebor.
Wadah tani Antanan kemudian berkembang menjadi Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Antanan. Tempat ini menerima kunjungan mahasiswa, peneliti, petani, pelajar, dan pengusaha. Petani dari daerah lain serta pengunjung mancanegara juga pernah belajar pertanian organik di Cimande.

Menjaga Kebun, Meneruskan Pengetahuan
Kondisi perkebunan salak slebor di Cimande berubah seiring waktu. Kebun utama peninggalan Hamid yang semula seluas satu hektare kini hanya menyisakan sekitar 1.500 tanaman dari perkiraan awal 3.300 pohon. Kebun Haji Nu’man dan Mang Aban masing-masing menyisakan sekitar 500 pohon, sedangkan kebun Haji Dili tinggal sekitar 200 pohon. Data ini menunjukkan penyusutan populasi tanaman, meski penyebabnya belum diketahui secara pasti.
Meski jumlah tanaman berkurang, petani tetap mempertahankan pengetahuan budidaya. Mereka melakukan penyerbukan manual dengan perbandingan satu tanaman jantan untuk sepuluh tanaman betina. Menurut Agus, frekuensi panen bergantung pada luas kebun dan rutinitas penyerbukan.
Kebun seluas satu hektare dapat dipanen setiap hari jika penyerbukan dilakukan rutin, sedangkan kebun kecil umumnya dipanen mingguan atau beberapa kali sebulan. Pengetahuan lain mencakup pemupukan, pemangkasan pelepah, dan pencangkokan bibit.
Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor, Sekti Raharjo, melihat pertanian sebagai bagian dari upaya menjaga budaya Cimande yang dikenal dengan pencak silat dan pengobatan patah tulang tradisional. Masyarakat juga mengenal taleq Cimande, seperangkat nilai dan larangan moral.
Menurut Sekti, "Pertanian ini adalah sumber mata pencaharian warga Cimande, sehingga budaya Cimande tetap terjaga." Ia mengaitkannya dengan taleq yang, menurutnya, melarang pencak silat dan pengobatan patah tulang dijadikan bisnis.
Upaya pengembangan eduwisata salak slebor diperkuat melalui penelitian yang dimulai pada 2025 oleh Maidar Simanihuruk dan tim dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor. Penelitian tersebut mengkaji pengembangan petak percontohan (demoplot) sebagai sarana wisata edukasi yang memadukan budidaya dan pengalaman pengunjung.
Pada 2026, hasil penelitian itu ditindaklanjuti melalui program pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang dipimpin Maidar bersama timnya. Bekerja sama dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan petani Desa Wisata Cimande, mereka mengembangkan demoplot sebagai produk eduwisata. Pendampingan mencakup penguatan pengelolaan, penyediaan media informasi, serta kegiatan yang memperkenalkan sejarah salak slebor, proses budidaya, dan kehidupan petani kepada pengunjung.

"Kami melihat salak slebor sebagai salah satu komoditas yang unik dan original dari Cimande sehingga patut untuk terus dilestarikan dan dikembangkan," kata Maidar Simanihuruk.
Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam Tourism Research Journal pada April 2026. Penelitian yang melibatkan 35 responden dan 10 informan kunci itu menunjukkan bahwa daya tarik destinasi dan pengalaman langsung berpengaruh signifikan terhadap niat pengunjung untuk kembali. Sementara itu, manfaat pendidikan dan kesadaran lingkungan tidak terbukti berpengaruh langsung secara statistik terhadap niat tersebut, meskipun hasil wawancara menunjukkan bahwa keduanya tetap penting bagi keberlanjutan eduwisata.
Tim merumuskan empat unsur pengembangan, yaitu budidaya, pendidikan, keterlibatan sosial-ekonomi masyarakat, serta pengelolaan dan promosi destinasi. Mereka juga merancang papan informasi berkode QR yang memuat sejarah Salak Slebor, panduan budidaya, kegiatan, dan paket wisata. Pengembangan eduwisata masih membutuhkan penataan jalur kunjungan, penyusunan kegiatan belajar, pembagian peran pengelola, peremajaan tanaman, dan penyediaan bibit.
Kini, kebun yang dirintis Haji Hamid menjadi ruang belajar budidaya salak. Tantangannya adalah menjaga agar kebun tetap produktif dan pengetahuan yang diwariskannya terus bertahan.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id
































