tirto.id - Jahe termasuk salah satu primadona rempah-rempah. Jahe sudah digunakan untuk makanan dan resep kuliner sejak era Yunani kuno dengan berbagai khasiat yang dimiliki.
Selain masakan, jahe bisa dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan yang kaya khasiat. Kandungan di dalamnya dapat menjaga kadar gula darah, daya tahan tubuh, hingga peradangan.
Rimpang ini juga tergolong superfood asli Indonesia, jenis makanan yang kaya gizi. Kendati begitu, proses penanaman hingga pengolahan jahe perlu diperhatikan secara tepat guna mempertahankan gizi dan mendapat manfaat secara optimal.
Jahe mulanya berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Tanaman ini cocok dibudidaya di wilayah beriklim tropis subtropis. Baik untuk keperluan olahan maupun jahe segar, memiliki masa tanah yang berbeda.
Alasan Jahe Layak Menjadi Superfood Indonesia
Istilah superfood merujuk pada bahan makanan alami yang mengandung gizi dan nutrisi tinggi dibanding makanan lainnya. Namun, penyebutan ini bukanlah istilah ilmiah ataupun istilah resmi dalam regulasi kesehatan. Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan, superfood perlu memenuhi sejumlah karakteristik yang khas.
Pertama, jenis makanan mengandung gizi yang padat untuk kebutuhan tubuh. Berikutnya, makanan mengandung antioksidan yang berperan penting dalam menangkal radikal bebas. Tak hanya itu, superfood juga memiliki manfaat bagi kesehatan, baik untuk mendukung fungsi tubuh, meningkatkan energi, hingga mencegah penyakit.

Berdasarkan penelitian berjudul Ginger Bioactives: A Comprehensive Review of Health Benefits and Potential Food Applications (2023) karya Muhammad Nouman Shaukat dan tim, jahe (Zingiber officinale Roscoe) termasuk famili Zingiberaceae dan berkerabat dekat dengan kunyit, kapulaga, serta lengkuas.
Jahe termasuk tanaman herba dan berbunga yang terkenal dengan rimpangnya, yang banyak digunakan sebagai rempah dan herba. Tanaman ini umum dibudidayakan di wilayah beriklim tropis dan subtropis. Bagian akar yang tumbuh di tanah dari tumbuhan inilah yang kerap disebut sebagai jahe.
Jahe terdiri dari karbohidrat (60–70%), air (9–12%), protein (9%), lipid (3–6%), abu (8%), serat kasar (3–8%), dan minyak atsiri (2–3%). Selain makronutrien tersebut, jahe juga mengandung berbagai senyawa bioaktif dan beberapa unsur mineral seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, dan fosfor.
Melansir laman scienceinsights.org, jahe mengandung senyawa dengan rasa tajam yang disebut gingerol. Senyawa ini terdapat dalam kadar sekitar 6.200 mg per kilogram jahe kering. Jika merasakan sensasi pedas saat mengonsumsi jahe, maka molekul gingerol yang menyebabkan sensasi tajam dan pedas yang khas.
Secara fisiologis, jahe memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, dan antikarsinogenik. Sifat tersebut dapat meningkatkan kesehatan karena berbagai senyawa bioaktif yang ada di dalam jahe.

Dalam sejarahnya, jahe telah dikonsumsi sejak zaman kuno untuk pengobatan tradisional dan masakan. Di era Yunani Kuno (40–90 M), jahe digunakan untuk makanan dan resep kuliner.
Memasuki abad ke-13, Marco Polo (selama kunjungannya ke Cina dan Sumatra) mengenal jahe dan mengimpor ke Eropa. Pada era yang sama, orang Arab membawa jahe dari India ke Afrika Timur, sementara orang Portugis menyebarkan ke Afrika Barat.
Meski bukan rempah endemik Indonesia, beberapa jenis jahe yang disebut asli Indonesia adalah seperti jahe gajah, jahe emprit, dan jahe merah.
Kandungan Nutrusi dan Khasiatnya
Jahe memiliki rasa pedas yang khas dan mengandung senyawa keton bernama zingeron. Senyawa ini terdiri dari kandungan minyak asiri yang terdiri dari zingeberin, kamfena, lemonin, zingiberen, zingiberal, gingeral, dan shogool. Kandungan lainnya termasuk minyak damar, pati, asam organik, asam malat, asam aksolat, dan gingerin.
Saat jahe dikeringkan atau dimasak, senyawa gingerol berubah menjadi senyawa terkait yang disebut shogaol. Biasanya senyawa ini lebih terkonsentrasi pada jahe bubuk atau jahe yang telah dipanaskan.
Jahe segar hanya mengandung shogaol dalam jumlah sangat sedikit, yaitu sekitar 29 mg/kg dibandingkan ribuan mg/kg untuk gingerol. Sebab itu, cara mengonsumsi jahe juga berpengaruh terhadap profil kimia di dalamnya. Beberapa jenis shogaol merupakan penghambat enzim peradangan yang lebih kuat.

Laman webmd.com menjelaskan beberapa nutrisi dan khasiat yang terkandung dalam jahe. Senyawa kimia yang terkandung dalam jahe segar membantu tubuh menangkal kuman dan menghambat pertumbuhan bakteri seperti Shigella dan infeksi virus Respiratory syncytial virus (RSV).
Jahe juga mengandung antibakteri yang baik untuk menjaga kesehatan mulut. Senyawa aktif gingerol mencegah pertumbuhan bakteri mulut aga terhindar dari penyakit periodontal, yaitu infeksi gusi yang serius.
Sensasi panas jahe bisa membantu meredakan perut mual, terutama selama kehamilan. Jahe bekerja dengan cara memecah dan mengeluarkan penumpukan gas di dalam usus.
Selain itu, jahe memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat mengurangi peradangan. Senyawa ini mengatasi gejala artritis reumatoid maupun osteoartritis yang bisa melegakan rasa nyeri dan bengkak.
Jahe kaya akan antioksidan, senyawa yang mencegah stres dan kerusakan pada DNA tubuh. Zat ini dapat membantu tubuh melawan penyakit kronis, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan penyakit paru-paru, serta mendukung penuaan yang sehat.
Berikutnya, jahe juga dapat mempercepat pengosongan lambung, sehingga makanan tidak tertahan terlalu lama dalam sistem pencernaan.
Mengutip laman healthline.com, suplemen jahe dapat menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2. Tinjauan dilakukan melalui evaluasi hasil dari 10 uji coba. Para partisipan mengonsumsi 1.200 hingga 3.000 miligram (mg) per hari selama 8 hingga 13 minggu. Para peneliti juga menemukan bahwa suplemen ini menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien diabetes tipe 2.
Jahe juga dapat membantu menurunkan kolesterol. Dalam 26 uji coba, para peneliti menemukan bahwa konsumsi jahe menurunkan kadar trigliserida total dan kolesterol sekaligus meningkatkan high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik. Jahe juga dapat menurunkan indeks massa tubuh (IMT).
Berbagai kandungan di atas membuat jahe semakin dilirik untuk keperluan kuliner, pharmakologi, hingga berbagai olahan yang bermanfaat. Jahe yang digunakan untuk rempah, manisan jahe, acar, permen, dan minuman, maka waktu panennya disarankan sekitar 4–5 bulan setelah penanaman.
Sementara, jahe yang akan diolah untuk jahe kering atau produk fungsional seperti minyak jahe dan oleoresin, periode panen yang disarankan adalah sekitar 8–10 bulan.
Di Indonesia, jahe umum dikonsumsi dengan cara digeprek lalu dituang air panas untuk pembuatan wedang jahe. Ada pula jahe yang rebus dengan bahan lain untuk menciptakan cita rasa yang segar.
Cara Menanam dan Mengolah Jahe yang Baik
Sebagai rimpang superfood, jahe menjadi primadona bagi masyarakat untuk dibudidayakan. Selain kaya kasiat, penanaman jahe yang terawat juga mendatangkan cuan yang besar.
Di pasaran, harga jahe segar per kilogram ditaksir mulai Rp25 ribu hingga Rp50 ribu, tergantung grade dan jenis. Bahan ini juga semakin mahal jika telah diproses untuk campuran obat dan lainnya.
Meski begitu, jahe yang bagus dimulai dengan pemilihan bibit unggul, pengolahan lahan yang tepat, hingga pemilihan waktu tanam. Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang memberikan sejumlah tips pemilihan bibit jahe yang sehat. Pilihlah jahe yang berasal dari induk yang sehat, tidak terserang hama, dan cukup tua, yaitu umur 10-12 bulan.

Pastikan rimpang yang digunakan sebagai bibit mulus dan tidak busuk. Lalu tunaskan rimpang jahe selama 1-1,5 bulan. Jika rimpang sudah bertunas 2-3 cm, maka jahe telah siap ditanam.
Setelah itu, siapkan lahan yang subur dan gembur. Buat dengan dengan ukuran lebar 1 meter dan tinggi 25-30 cm. Sebelum ditanam, bikin lubang tanam secukupnya, lalu isi pupuk kandang hingga 0,5 kg per lubang.
Tanaman jahe dapat tumbuh optimal pada ketinggian 0-1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pastikan menanam jahe di awal kemarau atau musim kemarau. Sebagaimana dikutip dari laman Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Bulelang,pada kurun waktu tersebut, bibit jahe mendapat air yang cukup dan air hujan tidak terlalu melimpah.
Tanaman ini memerlukan sinar matahari yang banyak dengan suhu panas hingga sedang. Agar jahe tetap sehat, lakukan penyiraman 3—4 hari sekali, bersihkan gulma dan rumput 2-3 minggu sekali, dan lakukan pemupukan 2-3 kali hingga masa panen.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id


































