Menuju konten utama
GWS

Rebung, Superfood Terbaru 2026?

Sumber makanan yang paling mudah ditanam, ditumbuhkan, dan diperoleh manfaatnya: rebung. Bahan pangan yang sudah layak dilabeli superfood.

Rebung, Superfood Terbaru 2026?
Makanan rebung. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Superfood, atau makanan super, sebenarnya bukan konsep baru dalam dunia pangan. Manusia sudah memanfaatkan dan mengonsumsinya sejak zaman prasejarah, meski tanpa menyebut istilah khusus.

Namun, sebagai sebuah istilah pemasaran, yang kemudian melahirkan tren konsumsi kiwari, superfood memang baru diperkenalkan pada awal abad ke-20. Ketika itu, The United Fruit Company (UFC), perusahaan multinasional yang dikenal karena keterlibatannya dalam kudeta-kudeta di wilayah Amerika Tengah dan Karibia, sedang getol-getolnya memasarkan produk utamanya, yaitu pisang. Lewat berbagai cara, mulai dari menyebarkan pamflet, memasang iklan, menyewa dokter, sampai membagikan buku teks gratis, UFC mengubah pisang dari "penganan eksotis" menjadi makanan yang ada sehari-hari di meja makan orang AS.

Seiring waktu, istilah superfood pun makin ramai digunakan hingga akhirnya populer seperti sekarang. Bahan pangan, yang akhirnya diketahui secara penuh manfaatnya dan layak dinobatkan menjadi superfood, juga makin banyak. Dan kini, giliran itu layak jatuh pada rebung.

Ya, rebung, bahan pangan yang berasal dari tunas bambu. Ia biasa digunakan sebagai isian lumpia dan bahan sayur tumisan atau lodeh. Menurut hasil riset terbaru yang dilakukan sejumlah ilmuwan dari berbagai negara yang hasilnya tertuang dalam jurnal Advances in Bamboo Science, rebung sudah layak disebut sebagai superfood.

Dalam studi itu, para peneliti melakukan tinjauan menyeluruh terhadap seluruh bukti ilmiah terkait konsumsi rebung dan manfaatnya. Mereka memang tidak melakukan eksperimen apa pun, tetapi dalam prosesnya para peneliti tersebut memberlakukan standar sangat ketat dalam mengumpulkan, memilah, serta meneliti kualitas studi yang ada.

Mereka menyisir dua basis data ilmiah utama, yaitu PubMed/Medicine dan Web of Science, sejak awal basis data tersebut eksis sampai 26 Oktober 2024. Penelusuran itu tak cuma berbekal kata kunci, seperti bamboo 'bambu' dan bamboo shoots 'rebung', melainkan juga dikaitkan dengan pola makan, konsumsi pangan, nutrisi, serta perilaku makan. Itu dilakukan supaya studi yang terjaring benar-benar berkaitan dengan konsumsi rebung sebagai makanan, bukan untuk keperluan penelitian lain atau industri.

Awalnya, para peneliti menemukan lebih dari 1.000 artikel, lalu dieliminasi menjadi hanya 16 makalah. Semua itu lantas diklasifikasikan menjadi tiga: penelitian pada manusia, penelitian in vitro menggunakan sel manusia, dan studi laboratorium tentang rebung atau ekstraknya dalam konteks pangan.

Makanan rebung

Makanan rebung. (Facebook/Tine Phiyania)

Satu Makanan, Banyak Manfaat

Dari studi yang dilakukan dengan penelitian langsung terhadap manusia, para ilmuwan menemukan bahwa rebung terbukti dapat mengontrol gula darah, terutama bagi pengidap diabetes. Kemampuan itu muncul karena kandungan seratnya tinggi sehingga mampu memperlambat penyerapan glukosa di usus.

Dalam penelitian di Pakistan tersebut, para ilmuwan menguji 40 pengidap diabetes (20 laki-laki dan 20 perempuan) berusia rata-rata 51 tahun. Para partisipan diminta mengonsumsi biskuit yang diperkaya dengan rebung dalam berbagai dosis. Lalu, kadar gula mereka dipantau selama dua jam. Hasilnya, makin tinggi kadar rebung dalam biskuit, makin rendah pula kadar gula yang tercatat.

Manfaat lain yang ditemukan adalah kemampuan meningkatkan volume feses serta frekuensi buang air besar. Studi yang dilakukan pada sekelompok perempuan bertubuh sehat di Korea ini menunjukkan, serat rebung bekerja dengan dua cara sekaligus: mekanis dan metabolik.

Secara mekanis, serat rebung menyerap air dan menambah volume feses sehingga memperlancar pergerakan usus. Secara metabolis, serat difermentasikan oleh bakteri dalam usus untuk menghasilkan senyawa yang mendukung kesehatan dan metabolisme. Untuk itu, konsumsi rebung tidak hanya membantu mencegah sembelit, tetapi juga dapat memperbaiki fungsi usus keseluruhan.

Dalam studi yang sama, rebung juga disebut dapat menurunkan kolesterol total dan LDL alias kolesterol jahat. Itu berkat kandungan serat serta fitosterol yang ada di dalamnya. Serat dalam rebung mengikat asam empedu di usus dan membuangnya lewat feses. Dengan begitu, hati harus menggunakan kolesterol (khususnya LDL) dari darah untuk memproduksi asam empedu baru.

Di sisi lain, fitosterol adalah senyawa alami dari tumbuhan yang strukturnya mirip dengan kolesterol. Karena kemiripan ini, fitosterol akhirnya seperti berebut tempat dengan kolesterol di saluran pencernaan dan, hasilnya, penyerapan kolesterol pun terhambat. Proses ini membuat kolesterol yang masuk aliran darah jadi lebih sedikit sehingga kadar kolesterol total dan LDL pun menurun.

Bahaya yang Menyelinap di Balik Manfaat

Dari studi kategori kedua, yaitu in vitro, para peneliti menemukan berbagai manfaat, meskipun kebanyakan di antaranya secara khusus membahas bambu dan daunnya, yang dimanfaatkan sebagai konsumsi pangan.

Terlepas dari manfaat dan nutrisinya, pemanfaatan rebung sebagai bahan pangan perlu diperhatikan. Sebab, ada bahaya di balik pengolahan rebung yang tidak tepat.

Chandra dan kolega, dalam makalah yang diterbitkan pada 2013, melaporkan adanya prevalensi gondok yang tinggi (sekitar 31 persen) pada anak-anak sekolah di Manipur, India Timur Laut, meskipun wilayah tersebut sudah menjalankan program fortifikasi garam beryodium.

Dalam studi tersebut, pengujian dilakukan pada tikus dan, hasilnya, tikus-tikus yang diberi makan rebung mengalami pembesaran kelenjar tiroid serta penurunan kadar hormon tiroid. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi rebung dapat mengganggu kerja kelenjar tiroid, bahkan ketika asupan yodium sudah mencukupi.

Selain risiko gangguan tiroid, bahaya lain yang dikandung rebung adalah potensi toksisitas sianida yang bisa muncul apabila rebung tidak diolah dengan tepat. Rebung mengandung taxiphyllin yang dapat terurai dan melepaskan sianida ketika jaringan tanaman rusak, misalnya saat dipotong, dikunyah, atau dicerna.

Dampaknya bermacam-macam, bergantung pada besarnya paparan. Dalam paparan minim, seseorang bisa mengalami gejala ringan seperti mual dan pusing. Namun, dalam paparan lebih besar, gangguan pernapasan bisa muncul.

Maka itu, sebelum mengonsumsinya, rebung harus direbus terlebih dahulu untuk menurunkan kadar glikosida sianogenik.

Bahaya terakhir yang bisa muncul dari konsumsi rebung adalah kontaminasi logam berat. Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis rebung segar, rebung kaleng, dan rebung instan, lalu menemukan adanya kandungan logam berat, seperti arsenik (As), timbal (Pb), kadmium (Cd), dan kromium (Cr). Bahkan, sebagian sampel rebung segar memiliki kadar timbal melebihi batas aman pangan hingga beberapa kali lipat.

Meski begitu, ketika sampel rebung tersebut diuji melalui simulasi pencernaan dan dipaparkan pada sel usus manusia, tidak ditemukan efek racun signifikan. Artinya, meskipun logam berat terdeteksi secara kimia, tidak semuanya benar-benar diserap oleh tubuh. Namun, para peneliti tetap menyertakan temuan tersebut karena bisa jadi rebung berasal dari tanah yang tingkat pencemarannya sangat tinggi dan, bisa saja, dalam jangka panjang, efek negatifnya baru terasa bagi tubuh.

HARGA REBUNG TURUN

Pekerja mengupas rebung di salah satu rumah pengepul di sentra penghasil rebung di Desa Banyumeneng, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Rabu (3/1/2018). ANTARA FOTO/Aji Styawan

Betapa Mudah Menjangkau Manfaat Rebung

Meski memiliki potensi bahaya jika salah olah, rebung secara umum tidaklah berbahaya. Bahkan, superfood yang satu ini tidak cuma super karena manfaatnya, tetapi juga karena ketersediaannya.

Bambu adalah salah satu tanaman yang tumbuh paling cepat di dunia dan sudah menjadi bagian dari pola makan tradisional di banyak negara Asia selama berabad-abad. Menurut artikel di StudyFinds, beberapa spesies bambu mampu tumbuh hingga hampir 1 meter per hari. Hal itu memungkinkan bambu dipanen berulang kali tanpa perlu penanaman ulang seperti tanaman pangan konvensional.

Secara global, sekitar 80 persen bambu dunia tumbuh di Asia, dengan India memiliki sekitar 9,57 juta hektare hutan bambu dan Tiongkok sekitar 6,01 juta hektar. Bahkan, ketika luas hutan dunia secara keseluruhan menurun, luas hutan bambu justru meningkat sekitar 3 persen per tahun antara 1980 hingga 2010.

Ketersediaan, pertumbuhan cepat, dan kemampuan tumbuh tanpa campur tangan manusia, membuat bambu dipandang sebagai sumber bahan pangan berkelanjutan, terutama di wilayah yang sudah memiliki bambu secara alami.

Lantas, apakah rebung nantinya bakal bisa sepopuler superfood-superfood lainnya? Ya, bisa saja. Akan tetapi, bukan itu poin pentingnya. Dari sini, yang terpenting adalah bahwa rebung, makanan yang terkesan remeh dan murah, ternyata menyimpan manfaat yang begitu besar. Ini menunjukkan bahwa kekayaan nutrisi sejati tidak selamanya harus datang dari komoditas impor yang mahal atau produk dengan label pemasaran yang mewah.

Rebung membuktikan bahwa predikat "super" pada sebuah makanan bukan sekadar urusan tren atau strategi pemasaran korporasi. Bagi masyarakat di kawasan Asia, penobatan rebung sebagai superfood adalah sebuah validasi atas warisan kuliner nenek moyang yang ternyata sejalan dengan temuan sains modern. Ini menjadi pengingat penting bahwa solusi bagi tantangan kesehatan global dan ketahanan pangan berkelanjutan mungkin tidak perlu dicari jauh-jauh, karena ia sudah lama tumbuh subur di sekitar kita.

Baca juga artikel terkait MAKANAN SEHAT atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - GWS
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin