tirto.id - Kualitas udara di Palembang makin berbahaya akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Padahal pemerintah tengah menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) dry ice untuk mengurai asap di kota itu.
Berdasarkan grafik konsentrasi partikulat yang terpantau di Stasiun Talang Betutu Palembang, PM2.5 tercatat makin tinggi, Kamis (22/10/2026). Pada pukul 01.00-08.00 WIB, PM2.5 berada di angka 286-880,4 mikrogram meter per kubik.
Satu jam kemudian atau pukul 09.00 WIB, PM2.5 naik drastis menjadi 1.205,4 mikrogram meter per kubik. Polutan udara menurun pada pukul 10.00 WIB yang tercatat di angka 312,5 mikrogram meter per kubik dengan kategori berbahaya.

Meningkatnya PM2.5 membuat jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang turun menjadi 300 meter. Akibatnya, delapan pesawat mengalami gangguan dan dua penerbangan internasional di antaranya dibatalkan.
Mengapa Operasi Dry Ice Belum Mampu Mengusir Asap?
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan bahwa OMC dry ice dilakukan sebagai upaya mengurangi kabut asap karhutla yang mengganggu aktivitas masyarakat, terutama di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Hanya saja, penanganan karhutla tetap dilakukan agar tidak menimbulkan asap dan menyebar ke daerah lain.
"Dry ice itu metode alternatif dengan target mengamankan objek vital seperti bandara. Untuk penanganan asap memang butuh aksi yang holistik pada berbagai sektor terkait," ungkap Wandayantolis, Kamis (22/10/2026).
Dia menjelaskan, dry ice merupakan karbon dioksida (CO2) yang dibekukan hingga bersuhu sekitar minus 70 derajat Celsius. Dalam operasi ini, material tersebut digunakan untuk membantu mengurai lapisan inversi atmosfer yang berada pada ketinggian sekitar 6.000-7.000 kaki dan dapat memerangkap asap di dekat permukaan.
Namun, kata dia, efek operasi tersebut tidak berlangsung sepanjang hari. Dampaknya terhadap kondisi atmosfer hanya bertahan sekitar tiga hingga lima jam sehingga penyemaian perlu dilakukan kembali untuk membantu menjaga jarak pandang.
"Efeknya berlangsung sekitar 3 sampai 5 jam," kata dia.
Pemadaman Lahan Gambut Sumsel Terus Dikebut
Di sisi lain, Kepala Balai Penanggulangan Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan penyemaian dry ice di tengah penanganan karhutla bukan berarti upaya tersebut sia-sia. Operasi ini merupakan salah satu langkah untuk membantu memperbaiki kondisi atmosfer di Palembang.
"Perbaikan jarak pandang juga penting untuk mendukung operasi udara, terutama penerbangan helikopter dalam membantu pemadaman kebakaran," kata Ferdian.
Meski demikian, pihaknya masih terus melakukan operasi pemadaman di sejumlah daerah yang utamanya berada di lahan gambut yang sulit dipadamkan dalam waktu singkat. Seperti di Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Muara Enim, dan Penukal Abab Lematang Ilir.
Menurut dia, upaya OMC dry ice dan pemadaman berjalan beriringan sehingga asap betul-betul dapat ditanggulangi. Sementara OMC digelar pemerintah di Palembang sejak 15 Oktober 2026 dan dijadwalkan berakhir pada 25 Oktober 2026.
"Kedua langkah ini berjalan beriringan untuk mendukung penanganan karhutla di Sumsel," kata dia.
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































