Menuju konten utama
Edusains

Fengsui: Menjinakkan Energi Alam, Meraih Harmoni

Proto-fengsui lahir dari kebutuhan praktis tentang tempat yang terlindung dari angin (Feng) dan dekat sumber air (Shui). 

Fengsui: Menjinakkan Energi Alam, Meraih Harmoni
Ilustrasi Feng Shui. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di balik beton kota modern, di antara deru mesin pendingin dan layar digital, ada kerinduan manusia untuk kembali selaras dengan alam. Rasa asing, cemas, dan sakit yang kerap muncul tanpa sebab medis merupakan respons tubuh terhadap ketidakselarasan antara lingkungan buatan dan naluri biologis yang tumbuh di alam liar.

Dalam kehampaan itu, fengsui kerap disalahartikan. Ada yang menganggapnya sekadar trik menata sofa demi rezeki, atau cermin untuk menolak bala, ada pula yang menilainya takhayul usang.

Padahal, di balik mitos, fengsui merupakan studi panjang tentang bagaimana topografi, iklim, astronomi, dan ekologi memengaruhi hidup manusia. Para praktisi fengsui tidak membangun rumah secara asal-asalan. Ada perhitungan cermat di baliknya. Sebuah seni menafsirkan bisikan alam demi keselamatan, kemakmuran, dan ketenangan jiwa.

Guo Pu dan Kodifikasi dalam Kitab Pemakaman

Jauh sebelum istilah fengsui ditulis di naskah bambu, membaca alam sudah jadi syarat hidup di masa Neolitikum Tiongkok. Manusia purba harus berhadapan dengan angin dingin dari Siberia, banjir Sungai Kuning, dan terik matahari yang membakar. Salah memilih lokasi hunian bisa berujung pada kematian.

Bukti arkeologis dari kebudayaan Yangshao (5000–3000 SM) menunjukkan permukiman dibangun dengan pola jelas. Rumah semi-bawah tanah menghadap selatan untuk menangkap hangat matahari sekaligus menghindari angin utara.

Parit di sekelilingnya berfungsi sebagai pertahanan dan drainase. Inilah proto-fengsui paling murni, lahir dari kebutuhan praktis sebagai tempat yang terlindung dari angin (Feng) dan dekat sumber air (Shui).

Praktik ini mula-mula disebut Kan Yu. Kan berarti langit, Yu berarti bumi. Sejak awal, para bijak Tiongkok melihat kehidupan di bumi sebagai cerminan gerak langit, menghubungkan manusia dengan kosmos.

Sejarah formal fengsui kerap ditautkan pada sosok Guo Pu dari Dinasti Jin (266–420 M). Ia seorang sarjana serba bisa, penyair, sekaligus penasihat militer. Hidupnya berakhir tragis setelah menolak memberi ramalan palsu untuk melegitimasi pemberontakan. Kendati begitu, ia meninggalkan warisan penting berupa Zangshu atau Kitab Pemakaman.

Guo Pu menulis, “Qi menunggangi angin dan menyebar, namun tertahan ketika bertemu air”. Kalimat itu sejatinya adalah rumusan teknis tentang bagaimana energi vital ditangkap, dijaga agar tak hilang, dan ditahan dengan batasan air.

Menariknya, fokus Zangshu bukan rumah orang hidup, melainkan makam leluhur. Guo Pu mengajukan teori berani tentang tulang belulang masih menyimpan sisa qi, dan jika dimakamkan di lokasi dengan aliran energi bumi yang baik, resonansinya bisa memberi keberuntungan bagi keturunan.

Dari gagasan inilah lahir obsesi budaya Tionghoa terhadap lokasi makam, yang kemudian berkembang menjadi prinsip tata letak hunian. Jika orang mati saja butuh kenyamanan energi, apalagi yang masih hidup.

Praktik ini kemudian berkembang hingga mencapai puncaknya pada masa Dinasti Ming (1368-1644 M), di mana prinsip-prinsipnya diterapkan dalam pembangunan skala megah seperti Kota Terlarang di Beijing.

Seiring waktu, fengsui berkembang menjadi dua aliran besar yang mencerminkan keragaman geografis Tiongkok. Aliran Bentuk atau Ti Li lahir di Jiangxi, wilayah pergunungan dengan lanskap dramatis. Fokusnya pada topografi, mulai bentuk gunung, aliran sungai, dan kontur tanah.

Katelyn Hudson dalam jurnalnya di Universitas Hawaii (2013) menyebut formasi idealnya disebut chair arm (lengan kursi), dengan gunung tinggi di belakang sebagai pelindung, bukit di kiri dan kanan sebagai sandaran, serta ruang terbuka di depan dengan aliran air tenang. Pendekatan ini visual, intuitif, sekaligus logis secara ekologis, memberi perlindungan nyata dari cuaca.

Yang kedua ialah Aliran Kompas atau Liqi Pai, yang tumbuh di dataran rendah Fujian yang datar. Tanpa pergunungan sebagai penunjuk arah, praktisinya mengandalkan Luopan, kompas geomantik. Mereka menghitung bukan hanya ruang, tetapi juga waktu, memakai formula astronomi dan I Ching (kitab perubahan). Sebuah rumah yang menghadap selatan bisa membawa nasib berbeda jika dibangun pada tahun berbeda, karena siklus energi bintang terbang ikut berubah.

Dua aliran yang dulu sering bersaing kini kerap digabungkan oleh praktisi modern. Bentuk fisik lingkungan diperiksa, formula energi dihitung, menghasilkan analisis holistik yang menyatukan makro dan mikro.

Ilustrasi Feng Shui

Ilustrasi Feng Shui. FOTO/iStockphoto

Menjinakkan Energi Alam, Meraih Harmoni

Inti dari fengsui adalah upaya menyelaraskan manusia dengan lingkungan sekitarnya untuk mencapai keharmonisan. Konsep ini didasarkan pada keyakinan energi kehidupan universal yang disebut qi (dibaca: chi). Qi adalah napas alam yang mengalir di mana-mana, di dalam tanah, udara, bahkan tubuh manusia.

Dalam konteks ruang, fengsui adalah seni mengelola aliran qi ini agar bergerak dengan lancar, tidak terhambat atau terlalu deras, sehingga menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung kehidupan.

Ada dua jenis utama qi. Pertama adalah sheng qi, energi yang lembut dan bergelombang seperti aliran sungai, membawa vitalitas dan kemakmuran. Kedua disebut sha qi, energi tajam dan agresif yang muncul dari lorong lurus, sudut bangunan, atau angin kencang, membawa kegelisahan dan nasib buruk.

Karena itu, arsitektur klasik Tiongkok dan taman Zen menghindari garis lurus panjang. Jembatan dibuat berbelok-belok, bukan hanya demi estetika, tetapi untuk memperlambat qi agar berubah dari agresif menjadi lembut, sekaligus dipercaya mampu menghalangi roh jahat yang hanya bisa bergerak lurus.

Untuk “menjinakkan” qi, para praktisi fengsui berpegang pada dua pilar utama, yakni teori Yin-Yang dan Lima Elemen (Wu Xing). Yin dan Yang adalah representasi dari dua kekuatan berlawanan namun saling melengkapi.

Yin diasosiasikan dengan gelap, dingin, pasif, lembut, dan tenang. Sedangkan Yang dengan terang, panas, aktif, keras, dan penuh gerak. Sebuah lokasi atau bangunan yang baik harus memiliki keseimbangan antara keduanya. Rumah yang terlalu Yin dapat memicu depresi dan kelesuan. Sebaliknya, rumah yang terlalu Yang bisa menimbulkan stres, agresi, dan ketidakharmonisan keluarga.

Sementara itu, Lima Elemen terdiri dari kayu, api, tanah, logam, dan air, merupakan siklus interaksi energi yang membentuk alam semesta. Kayu melambangkan pertumbuhan dan ekspansi ke timur, dengan warna hijau dan bentuk vertikal. Api adalah puncak energi, menyebar ke selatan, berwarna merah dengan bentuk segitiga tajam. Tanah memberi stabilitas di pusat, berwarna kuning atau coklat dengan bentuk persegi datar. Logam mewakili kontraksi dan pemurnian di barat, berwarna putih atau emas dengan bentuk bulat. Air adalah fase istirahat, mengalir ke utara, berwarna hitam atau biru dengan bentuk bergelombang.

Angela Hicks dan kolega dalam buku Five Element Constitutional Acupuncture (2011:9) menyimpulkan, setiap elemen memiliki karakter dan warna tersendiri. Kunci penerapannya ada pada interaksi antarelemen. Dalam siklus produktif, kayu melahirkan api, api menghasilkan tanah, tanah memperkuat logam, logam menampung air, dan air kembali menghidupi kayu. Sebaliknya, dalam siklus destruktif, kayu memecah tanah, tanah membendung air, air memadamkan api, api melelehkan logam, dan logam memotong kayu.

Arsitek yang memahami fengsui akan menggunakan siklus tersebut untuk menyelesaikan konflik desain. Misalnya, dapur sebagai elemen api di sektor Barat Laut yang mewakili logam bisa menimbulkan benturan “api melelehkan logam”.

Solusinya bukan membongkar dapur, melainkan menambahkan elemen tanah seperti keramik coklat atau batu alam. Dengan begitu, api menghasilkan tanah, tanah memperkuat logam, dan konflik berubah menjadi harmoni.

Harmoni tercapai ketika kelima elemen ini hadir secara seimbang dalam sebuah ruang, saling mendukung, dan tidak ada yang mendominasi atau melemahkan elemen lainnya.

Harmoni di Belahan Barat dan Validasi Ilmiah

Meskipun fengsui identik dengan budaya Timur, gagasan untuk hidup selaras dengan alam sesungguhnya bersifat universal. Jauh sebelum fengsui populer di Barat, seorang arsitek Romawi bernama Marcus Vitruvius Pollio pada abad pertama sebelum masehi telah menulis tentang pentingnya memilih lokasi bangunan dengan mempertimbangkan faktor-faktor alamiah.

Dalam magnum opusnya De Architectura, ia menekankan pemilihan tapak yang memiliki kualitas udara dan air yang baik, terlindung dari angin kencang, dan mendapat sinar matahari yang cukup.

Barat juga mengenal Geomansi, yang lebih berfungsi sebagai ramalan. Fondasi utamanya astronomi, geometri suci, dan astrologi dowsing (pendeteksian air di bawah tanah). Praktisinya membuat titik acak di pasir atau tanah, lalu membentuk figur geometri untuk memprediksi nasib. Fokusnya bukan pada kualitas ruang, melainkan pada masa depan, mirip astrologi atau tarot, namun dengan elemen bumi.

Geomansi berkembang melahirkan lapisan tradisi lainnya yang lebih dekat dengan fengsui, yakni Earth Mysteries atau Ley Lines. Sejak masa megalitikum (era Stonehag) hingga katedral Gothic, para pembangun Eropa kuno sangat sensitif dengan “lokasi suci” dan percaya pada jalur energi tak kasat mata (telluric currents) yang mengalir di permukaan bumi.

Adrian J. Ivakhiv dalam bukunya Claiming Sacred Ground: Pilgrims and Politics at Glastonbury and Sedona (2001:245), mencontohkan tukang batu yang membangun gereja Glastonbury Abbey di Inggris menggunakan geometri suci dan dowsing untuk menentukan altar. Titik pertemuan pada jalur ini dianggap sakral dan memberi kekuatan spiritual.

Perbedaan utamanya terletak pada skala dan integrasi. Fengsui berkembang menjadi sistem lengkap yang mencakup segala jenis bangunan dan terhubung dengan pengobatan serta astrologi. Sedangkan tradisi Ley Lines lebih terbatas pada situs religius, sempat terputus oleh rasionalisme Pencerahan, lalu hidup kembali lewat gerakan New Age warsa 1970-an.

Di era modern, pemikiran ala fengsui Barat dapat ditemukan dalam berbagai praktik arsitektur dan desain Barat. Gerakan arsitektur hijau, desain berkelanjutan, dan yang terbaru, desain biofilik yang dipopulerkan Edward O. Wilson.

Hipotesis biofilia menyatakan manusia punya kecenderungan genetik untuk berafiliasi dengan kehidupan lain. Karena itu, desain biofilik menekankan cahaya alami, aliran udara, elemen air, material organik seperti kayu dan batu, serta bentuk kurva yang lembut.

Ketika Donald Trump merenovasi Trump International Hotel & Tower pada 1995, ia menyewa Master Fengsui, Pun-Yin. Columbus Circle yang sibuk dianggap Pun-Yin memancarkan sha qi tajam ke gedung.

“Ketidakstabilan energi yang disebabkan oleh lalu lintas yang datang ke gedung, hampir seperti peluru yang beterbangan ke arah Anda sepanjang waktu. Itu tidak stabil. Itu tidak tenang,” ujar Pun-Yin, dilansir The Guardian.

Pun-Yin menyarankan Trump mendirikan struktur bola dunia logam raksasa di depan gedung untuk memecah arus energi. Trump setuju, hasilnya gedung sukses menarik investasi Asia.

Kontroversi lain muncul di Paris lewat piramida kaca Louvre karya I.M. Pei. Awalnya dikecam sebagai penistaan sejarah, namun dari sudut fengsui, piramida itu adalah suntikan energi Yang untuk museum yang sarat Yin.

Bentuk segitiga transparan membawa cahaya matahari ke ruang bawah tanah, menghidupkan kembali aliran pengunjung. Terlepas dari kritik estetika, piramida ini terbukti merevitalisasi Louvre.

Kiwari, fengsui telah menemukan jalannya ke dunia akademis. Di berbagai belahan dunia, ilmu ini tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai klenik, melainkan diakui sebagai sebuah sistem pengetahuan yang kaya.

Sejumlah universitas, terutama di fakultas arsitektur dan desain interior, telah memasukkan fengsui ke dalam kurikulum mereka, baik sebagai mata kuliah pilihan maupun sebagai bagian dari studi tentang paradigma desain lintas budaya.

UCLA Extension di Amerika, misalnya, menawarkan kursus “Feng Shui for Designers and Architects” yang membahas analisis tapak, psikologi ruang, dan interaksi tubuh dengan lingkungan. Sekolah-sekolah desain swasta seperti The Feng Shui Academy menawarkan program sertifikasi profesional yang menggabungkan teori klasik dengan praktik desain kontemporer.

Lebih jauh, fengsui juga menjadi bahan penelitian doktoral di universitas seperti Sheffield, Arizona, dan Hong Kong. Para peneliti mengkaji sebagai sistem etno-ekologi, kearifan lokal yang relevan dengan arsitektur berkelanjutan. Misalnya, aturan fengsui tentang perlindungan lereng bukit, ternyata sejalan dengan mitigasi longsor modern. Begitu juga orientasi air yang selaras dengan manajemen hidrologi berkelanjutan.

Mempelajari fengsui dianggap dapat membuka wawasan calon arsitek dan desainer, memberi mereka perspektif tambahan tentang bagaimana ruang dapat memengaruhi psikologi dan kesejahteraan manusia.

Di luar jalur formal, kursus, lokakarya, dan program sertifikasi fengsui juga menjamur, menarik minat publik yang semakin sadar akan pentingnya menciptakan lingkungan hidup yang seimbang dan positif.

Baca juga artikel terkait FENGSUI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Edusains
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi