tirto.id - Selat Hormuz kini telah menjadi pusat ketegangan dalam Perang Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 lalu. Selat tersebut telah tertutup dan menyebabkan perdagangan energi dunia terganggu. Berikut sejumlah fakta terkait selat ini yang terjadi baik sebelum maupun setelah perang pecah.
Keputusan Iran untuk menutup secara de facto Selat Hormuz telah menjerat perekonomian dunia. Perang yang dimulai oleh serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ini telah menciptakan gangguan pada perdagangan energi dunia pada taraf yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Harga bahan bakar dan produk petrokimia melonjak. Banyak negara, termasuk Indonesia, terpaksa menerapkan kebijakan khusus untuk menghemat cadangan energi. Beberapa negara seperti Filipina bahkan sempat mengumumkan status darurat energi.
Hal ini terjadi karena Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan energi. Selat sempit di Teluk Persia ini telah jadi salah satu jalur utama distribusi energi sebelum perang pecah.
Fakta-fakta Selat Hormuz Terkini
Setelah 70 hari perang berlangsung, Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama dalam upaya diplomatik untuk menghentikan perang antara Iran dengan AS. Teheran menginginkan otoritas penuh atas selat, sementara AS bersikeras agar selat itu dibuka dengan segera.
Isu terkait Hormuz itu kemudian jadi salah satu batu sandungan bagi upaya diplomatik yang tengah berlangsung, selain senjata nuklir Iran yang diklaim AS sebagai alasan mengapa mereka menyerang Teheran.
Seturut AP, berikut fakta-fakta seputar Selat Hormuz, baik sebelum maupun setelah pecah peperangan:
- Hormuz merupakan jalur dangkal dan sempit dengan lebar 34 kilometer. Titik tersempit selat ini berada di antara Iran dan Oman.
- Sebelum perang, sekitar 20 persen atau seperlima pasokan minyak dunia diperdagangkan melalui jalur ini setiap hari. Selain minyak, selat ini juga jadi jalur distribusi bagi pasokan besar gas alam, pupuk, dan petrokimia.
- Volume perdagangan tersebut membuat jumlah kapal yang melintas Hormuz tergolong tinggi. Selat Hormuz bahkan dilintasi 100-130 kapal setiap hari sebelum perang.
- Pecahnya perang dan penutupan de facto oleh Iran menghambat pelayaran tersebut. Lloyd’s List Intelligence memperkirakan hanya ada 534 kapal yang berhasil melalui selat itu sejak 28 Februari hingga 4 Mei.
- Peperangan telah meningkatkan tarif asuransi untuk kapal hingga 10 persen.
- Program Pangan Dunia PBB menyebut penutupan Selat Hormuz dalam waktu lebih lama berpotensi menyebabkan 45 juta manusia di dunia mengalami kelaparan.
- Organisasi Maritim Internasional menyebut telah ada 32 kapal yang diserang di Hormuz.
- Ada 1.550 kapal dari 87 negara yang kini terdampar di Teluk Persia.
- Ada 22.500 pelaut yang kini terdampak langsung di Teluk. Mereka terdampar di kawasan tersebut tanpa kepastian untuk melanjutkan pelayaran.
- AS telah mengerahkan 15.000 personel militer, 100 pesawat, dan dua kapal induk di dekat Selat Hormuz untuk operasi militer di sana.
- Pengerahan tersebut semula dilakukan untuk memandu kapal komersial melewati Hormuz, namun operasi ini dihentikan tak lama setelah diterapkan.
- Selama pemberlakuan operasi yang disebut sebagai “Project Freedom” itu, ada dua kapal komersial yang dilaporkan telah melewati Hormuz.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























