tirto.id - Slogan No King Trump sedang ramai di Amerika Serikat. Demonstrasi anti-Trump No Kings telah berlangsung di seluruh AS pada Sabtu (28/3/2026). Jutaan orang diperkirakan ikut dalam aksi protes tersebut.
Dinukil dari BBC, unjuk rasa No Kings dilakukan jutaan orang untuk memprotes berbagai kebijakan Presiden AS Donald Trump. Kebijakan itu termasuk Perang Iran-AS, penegakan imigrasi agresif, hingga naiknya biaya hidup.
"Trump ingin memerintah kita sebagai seorang tiran. Namun ini adalah Amerika, dan kekuasaan adalah milik rakyat, bukan milik calon raja atau kroni-kroni miliarder mereka," kata seorang penyelenggara.
Demonstrasi No Kings ini dilaporkan berlangsung di hampir setiap kota di AS, baik kecil maupun besar. Unjuk rasa juga berlangsung di luar AS, seperti Paris dan London.
Salah satu kota yang jadi tempat berlangsungnya unjuk rasa adalah Minnesota, kota tempat dua warga AS ditembak oleh agen imigrasi federal (ICE) hingga meninggal pada Januari lalu.
Fakta-fakta Seputar Protes No Kings Trump
Demonstrasi No Kings pada Sabtu lalu merupakan aksi protes ketiga kalinya sejak pertama kali diadakan pada Juni 2025 lalu.
Unjuk rasa ini juga diikuti sejumlah pesohor. Salah satunya adalah aktor Hollywood Robert De Niro.
Pemeran film Taxi Driver (1976) itu ikut turun ke jalan dan menyatakan protesnya ke Trump. Dalam salah satu pernyataannya untuk unjuk rasa itu, De Niro menyebut bahwa Trump adalah "orang gila" dan mengajak semua orang untuk melawan Trump karena "kita tidak punya pilihan".
Dilaksanakannya unjuk rasa No Kings pada Sabtu juga menandai sejumlah fakta. Seturut USA Today, berikut di antaranya.
1. Salah Satu Unjuk Rasa Terbesar di AS
Berdasarkan keterangan pihak penyelenggara, unjuk rasa anti-Trump pada Sabtu diikuti oleh sekitar 8 juta orang. Jumlah tersebut tidak diverifikasi secara independen, namun total pengunjuk rasa itu menjadikan demonstrasi ini jadi salah satu yang terbesar di AS.Dengan 8 juta orang yang berpartisipasi, hal ini berarti sekitar 1 dari 50 penduduk AS ikut berpartisipasi dalam demonstrasi No Kings.
Menurut keterangan penyelenggara, besarnya jumlah pengunjuk rasa tersebut terjadi akibat naiknya partisipasi penduduk di pinggiran kota, kota kecil, hingga daerah pedesaan.
Dalam sejarah AS, unjuk rasa selama satu hari yang diikuti massa aksi terbesar terjadi pada 1970. Kala itu, sekitar 20 juta orang berpartisipasi dalam protes terkait lingkungan hidup.
2. Bukan Unjuk Rasa Partai
Meskipun Trump memiliki oposisi berupa Partai Demokrat, namun para pengunjuk rasa yang turun ke jalan pada Sabtu belum tentu jadi simpatisan partai tersebut.Unjuk rasa pada Sabtu dilangsungkan tanpa partai sebagai yang mengorganisir. Demonstrasi anti-Trump dilaporkan memiliki infrastrukturnya sendiri.
Alih-alih partai, unjuk rasa ini banyak dimotori koalisi serikat pekerja, aktivis progresif, dan kelompok hak sipil. Selain itu, demonstrasi ini juga disponsori oleh sejumlah organisasi mapan seperti Public Citizen, MoveOn, dan Human Rights Campaign hingga Indivisible dan 50501 yang tergolong baru.
No Kings protest juga telah menarik perhatian kaum progresif yang menganggap Demokrat sebagai partai yang terlalu moderat. Demonstrasi ini juga menunjukkan gelombang pemilih independen yang meningkat dan sebagian darinya adalah mereka yang kecewa dengan dwi-partai AS.
3. Pesan Protes Bervariasi
Demonstrasi yang meluas di AS pada Sabtu lalu juga membawa pesan protes yang bervariasi. Namun, semuanya terkait dengan kebijakan Trump selama menjalani periode kepresidenan keduanya.Sebagian besar para pengunjuk rasa dilaporkan turun ke jalan karena ketidaksepakatan dengan kebijakan Perang Iran-AS. Penolakan terhadap agen federal (ICE) juga disuarakan para pengunjuk rasa.
Di banyak tempat, skandal Jeffrey Epstein juga turut disuarakan, bersama pesan dukungan terhadap Ukraina dalam perang melawan Rusia. Selain itu, muncul pula seruan penangkapan untuk Trump dan para pejabat pemerintahannya yang lain.
Bendera Palestina juga dikibarkan para pengunjuk rasa. Bendera ini terlihat, salah satunya, dalam unjuk rasa di Washington DC.
4. Terjadi di Tengah Persiapan Pemilu DPR Paruh Waktu
Demonstrasi No Kings berlangsung ketika para anggota DPR AS mulai mempersiapkan pemilu paruh waktu pada November mendatang. Hal ini berpotensi mengubah arah hasil pemilu legislatif itu.Dalam periode kepresidenan perdana Trump sebelumnya, unjuk rasa yang terjadi jelang pemilu paruh waktu pada 2017 turut berkontribusi pada hasil pemilu 2018 yang dimenangkan Demokrat.
Partai Demokrat kini butuh tiga kursi di parlemen untuk mendapatkan mayoritas suara legislatif dan mendapat kendali Senat.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































