tirto.id - Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengatakan proyek penulisan ulang sejarah yang saat ini tengah dikerjakan pemerintah seharusnya tidak dihakimi sebelum rampung. Menurutnya, publik bisa saja lebih menyukai sejarah yang tengah ditulis ulang ini dibanding yang telah ada sebelumnya.
“Jangan menghakimi apa yang belum ada. Jangan-jangan nanti Anda lebih suka dengan sejarah ini,” kata Fadli kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu (2/7/2025).
Fadli menganalogikan proyek tersebut sebagai rasa dari sepotong kue yang disajikan. Dia mengatakan apabila seseorang tak akan tahu rasa kue itu sebelum dicoba secara langsung.
“Kita lihat dulu, kan, namanya sedang ditulis oleh para sejarawan, profesional dan kita seperti bagaimana tadi, mungkin saudara-saudara mendengarkan juga tadi [di rapat] yang menjadi, saya sampaikan kita update [memperbarui] banyak yang kita tidak tulis,” terangnya.
Penulisan ulang sejarah, menurut Fadli, juga upaya menambal kekosongan selama 26 tahun terakhir. Terlebih, katanya, proyek ini ditulis oleh para sejarawan profesional dan akan melalui proses uji publik pada Juli 2025.
“Kalau mau detail [rinci] itu harus bikin sendiri-sendiri. Nah, ini adalah secara umum, Termasuk hasil-hasil, Ini 26 tahun kita tidak menulis tentang tema itu sejak era Pak Habibie itu, yang terakhir yang dibahas di dalam sejarah kita,” katanya.
Fadli menegaskan bahwa uji publik penulisan sejarah merupakan tindakan yang sudah direncana sejak awal, bukan dari desakan atau penolakan masyarakat.
Terkait dengan target penyelesaian pada Agustus mendatang, Fadli menyebut hal itu dijadikan acuan agar pengerjaan dapat dilaksanakan secara efisien. Dia memastikan nantinya penulisan ulang itu akan dikibatkan sejarawan, arkeolog, dan akademisi.
“Kan itu yang namanya target. Ini kan kita ingin ada satu yang menjadi satu tonggak. Kita ini 80 tahun Indonesia Merdeka dan baru ada lagi yang namanya Direktorat Sejarah. Saya tuh melihat bahwa kita ini kan membutuhkan sejarah kan? Supaya anak cucu kita tau sejarah kan?,” tukasnya.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































