Menuju konten utama

Ekonomi Sachet: Penyelamat Kala Kepepet, Tapi Menggerogot Dompet

Kemasan mungil nan praktis menyimpan ironi lingkaran setan. Pelan-pelan menggerogoti finansial pekerja harian.

Ekonomi Sachet: Penyelamat Kala Kepepet, Tapi Menggerogot Dompet
Sebuah warung kelontong menjual berbagai produk sasetan di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Senin (5/7/2026). tirto.id/Nanda Aria
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Guntingan kopi, rentengan sampo, hingga bumbu dapur instan bergelantungan rapi di langit-langit warung kelontong yang dijaga Usman Hermanto, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Bagi jutaan dompet pekerja harian, rencengan saset seharga Rp1.000-an ini adalah dewa penyelamat kala tanggal tua mengepit kebutuhan harian. Namun di balik kemasannya yang mungil dan praktis, tersimpan ironi lingkaran setan yang pelan-pelan menggerogoti stabilitas finansial jangka panjang mereka.

Usman menceritakan pengalamannya ketika melayani pembeli setiap hari kepada Tirto. Produk yang diam-diam menyimpan pemborosan itu disebutnya sebagai primadona, meski secara hitungan matematis membeli produk sasetan lebih mahal daripada kemasan besar.

"Semuanya rata-rata," ujar Usman saat ditanya produk yang paling banyak dibeli di tokonya, Senin (6/7/2026).

Namun ketika ditelisik lebih dalam, produk kopi saset seperti Kapal Api, Indocafe, dan Torabika menjadi yang paling laris. "Kopi kebanyakan. Kalau sasetan," katanya.

Selain kopi, produk rumah tangga seperti sampo dan deterjen kemasan kecil juga tak pernah sepi pembeli. "Yang Rp1.000-an. Per hari pasti ada yang beli," ungkap usman.

Usman menjelaskan, rata-rata pembeli di warungnya adalah ibu rumah tangga. Mereka berbelanja sesuai kebutuhan harian dan kemampuan ekonominya.

“Kalau dia ada uang paling beli yang botolan, kalau enggak ya beli sasetan. Ekonominya kan enggak sama,” ucapnya.

Usman juga menyoroti aspek kepraktisan. Menurutnya, kemasan saset lebih disukai karena sekali pakai, sekali buang. Kemasan hemat ini pun menurutnya meminimalisasi isi produk yang terbuang.

"Kalau sasetan itu kan sekali pakai. Jadinya kan kalau orang yang ini enggak tumpah," jelasnya.

Antara Praktis dan Kebutuhan Sesaat

Header DIajeng The Angry Daughter

Ilustrasi bingung. foto/istockphoto

Berbeda dengan pandangan pemilik warung, Reviani, seorang pegawai swasta, mengaku masih sesekali membeli produk kemasan saset, namun tidak selalu. Baginya, sampo kemasan saset menjadi pilihan utama karena dianggap lebih praktis dan pemakaiannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

"Biasanya yang paling sering itu beli sampo, karena lebih praktis dan pemakaiannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan," ujar Reviani kepada Tirto.

Salah satu alasan utama Reviani memilih saset adalah karena pengeluaran yang lebih ringan di awal. Ia mengaku seringkali merasa produk kemasan botol justru lebih cepat habis karena cenderung dipakai lebih banyak.

Selain itu, membeli saset memberinya kesempatan untuk mencoba varian atau merek baru tanpa harus merugi terlalu besar jika ternyata tidak cocok.

"Misal enggak cocok sama produknya, enggak rugi-rugi banget, dan kita bisa coba varian atau merek baru tanpa harus membeli kemasan besar," jelasnya.

Meski begitu ia sadar bahwa membeli kemasan instan sebenarnya lebih mahal secara hitungan per mililiter. "Tau dong, kalau ditotal-total hitungan per mili emang lebih mahal," katanya.

Namun, baginya, pertimbangan bukan hanya soal harga satuan, melainkan kebutuhan saat itu. "Kalau lagi cuma butuh sedikit atau mau coba-coba dulu produknya, saset tetap lebih praktis. Jadi meskipun lebih mahal secara hitungan, aku merasa pemakaiannya lebih sesuai dengan kebutuhan," katanya.

Ekonomi Sachet: Strategi Bertahan Hidup

Ilustrasi berhemat

Ilustrasi berhemat. Foto/iStock

Sementara itu, dari sudut pandang perencanaan keuangan, fenomena ekonomi sachet memiliki makna yang lebih kompleks. Perencana Keuangan sekaligus pendiri Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini Sutikno, melihat fenomena ini sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap keterbatasan ekonomi.

"Ini relevan dengan kondisi lapangan saat ini. Ekonomi sachet masih diminati, terutama oleh kelas menengah bawah," ujar Mike kepada Tirto.

Menurut Mike, ada beberapa penyebab mengapa masyarakat tetap memilih kemasan saset meskipun secara matematis lebih mahal. Pertama, soal kemampuan daya beli harian.

"Enggak semua orang bekerja di sektor formal yang punya gaji sekali gajian besar. Enggak sedikit orang yang kerjanya di sektor informal dengan penghasilan yang sifatnya harian atau mingguan," jelasnya.

Baginya, mengeluarkan Rp2.000 hingga Rp5.000 per hari terasa lebih terkendali dibandingkan harus mengeluarkan Rp50.000 sekaligus di awal bulan. "Ini sebenarnya strategi bertahan hidup, agar uang mereka enggak habis dalam satu waktu," tambah Mike.

Selain faktor ekonomi, Mike juga menyoroti aspek psikologis. Mengeluarkan uang kecil-kecil seringkali terasa tidak terlalu menyakitkan dibandingkan melihat uang dalam jumlah besar berkurang di dompet.

Namun, sebagai perencana keuangan, Mike mengajak untuk melihat gambaran besarnya. Ia menyarankan agar masyarakat membiasakan berbelanja ukuran besar karena lebih hemat. Tidak hanya dari segi harga, tapi juga dari sisi tenaga dan ongkos yang dikeluarkan untuk berbelanja.

"Saya pasti memotivasi masyarakat untuk mulai melihat gambaran besar. Membeli kemasan besar lebih hemat, selain menghemat uang, juga menghemat waktu dan tenaga," tuturnya.

Mike meminta masyarakat untuk mengevaluasi barang-barang yang benar-benar rutin dibeli dan pasti habis, lalu mempertimbangkan untuk membeli dalam kemasan lebih besar jika keuangan memungkinkan.

"Untuk barang yang pasti kepake, rutin dibeli, membeli sekaligus membuat Anda lebih hemat dan tidak perlu bolak-balik ke warung yang malah bisa membuat Anda tergoda membeli yang lain-lain," tuturnya.

Konsumsi Rumah Tangga Rapuh

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Prawiranegara, menilai tingginya minat terhadap produk saset tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia melihatnya sebagai cerminan dari ekonomi yang rapuh. Di balik kepraktisan dan harga Rp1.000 hingga Rp2.000 yang terjangkau, menurutnya terdapat sinyal ekonomi makro yang patut diwaspadai, yakni daya beli kelas bawah dan menengah sedang tergerus.

"Minat tinggi terhadap produk saset di warung kelontong tidak bisa dibaca hanya sebagai preferensi budaya belanja harian. Pola itu juga menjadi sinyal kuat bahwa daya beli kelas bawah dan kelas menengah rentan belum cukup kuat untuk membeli kemasan besar yang lebih ekonomis," ujarnya kepada Tirto.

Angka-angka makro mendukung analisis itu. Inflasi Juni 2026 yang naik ke 3,34 persen, nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, dan suku bunga acuan (BI Rate) di posisi 5,75 persen menjadi tekanan tersendiri bagi kantong rumah tangga. Data penjualan ritel yang melemah secara bulanan menambah daftar bukti bahwa masyarakat cenderung menahan belanja.

"Dalam situasi seperti ini, rumah tangga tidak sekadar memilih saset karena kebiasaan, melainkan karena harus menjaga arus kas harian. Ekonomi saset menunjukkan konsumsi tetap berjalan, tetapi kualitas daya beli melemah," tegasnya.

Kecenderungan rumah tangga miskin untuk membeli produk sasetan ini menurut Syafruddin memunculkan fenomena “poverty premium” atau kemiskinan yang mahal.

Dalam logika pasar, rumah tangga berpenghasilan tinggi mampu membeli kemasan besar dengan harga per unit (per mililiter atau gram) yang lebih murah. Mereka bisa menyimpan stok untuk berhari-hari.

Namun, rumah tangga miskin tidak punya keleluasaan kas untuk membeli dalam jumlah besar. Mereka terpaksa membeli barang saset dengan harga satuan yang lebih mahal.

"Ini bukan keputusan tidak rasional; ini keputusan rasional dalam kondisi likuiditas sempit. Masalahnya, rasionalitas jangka pendek itu menciptakan kerugian jangka panjang. Pendapatan kecil memaksa pembelian kecil, pembelian kecil membuat harga satuan lebih mahal, lalu sisa pendapatan makin tipis," jelas Syafruddin.

Ia menambahkan bahwa lingkaran setan ini memperkuat ketimpangan konsumsi. Karena itu, ia meminta agar negara perlu melihat poverty premium sebagai persoalan struktural, bukan sekadar pilihan konsumen.

Yang perlu dicermati menurutnya adalah bagaimana meningkatkan akses pendapatan masyarakat, di samping menjamin akses pangan yang terjangkau, transportasi murah, kemudahan mendapatkan kredit produktif, dan jaminan pekerjaan.

“Jika tidak, masyarakat berpenghasilan rendah akan terus membayar lebih mahal untuk hidup yang sama sederhananya,” kata dia.

Strategi Dua Sisi Produsen

Di sisi produsen barang konsumsi cepat habis (Fast Moving Consumer Goods/FMCG), strategi mengecilkan ukuran kemasan atau price engineering dinilai sebagai strategi merengkuh berbagai ceruk. Di satu sisi, hal ini menjaga harga tetap di titik psikologis yang terjangkau oleh pembeli harian, sehingga akses terhadap kebutuhan tetap terbuka dan jaringan distribusi terjaga. Di sisi lain, strategi itu juga menjemput daya beli yang melemah.

“Harga nominal terlihat tetap, tetapi isi menyusut. Konsumen merasa masih membeli dengan harga sama, padahal nilai riil yang diterima turun," imbuhnya.

Hal ini membuat pelemahan daya beli tidak selalu terlihat dalam angka konsumsi karena transaksi tetap terjadi. Namun, ia buru-buru menggarisbawahi bahwa konsumsi dengan kualitas rendah ini tidak boleh dihitung sebagai bukti kuatnya daya beli.

"Strategi ini tidak boleh dibaca sebagai bukti konsumsi kuat, melainkan sebagai bukti pasar sedang menyesuaikan diri ke kantong yang makin terbatas,” katanya.

Karenanya ia memandang pentingnya kebijakan upah yang dihubungkan dengan produktivitas dan program pelatihan kerja yang langsung meningkatkan peluang kerja, termasuk di bidang digitalisasi UMKM, pengolahan pangan, dan jasa lokal.

"Dalam jangka panjang, ekonomi yang sehat tidak cukup ditandai oleh tingginya transaksi ritel kecil. Ekonomi yang sehat harus membuat konsumen mampu membeli lebih efisien, menabung, berinvestasi pada pendidikan, dan tidak menghabiskan pendapatan hanya untuk bertahan hidup dari hari ke hari," kata dia.

Baca juga artikel terkait ORANG MISKIN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - News Plus
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah