tirto.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) memperkirakan, ekonomi Indonesia di kuartal II 2025 hanya tumbuh di kisaran 4,78-4,82 persen, lebih rendah dari pertumbuhan di kuartal sebelumnya yang masih sebesar 4,87 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Menyusutnya kapasitas pertumbuhan ini disebabkan beberapa hal, termasuk karena penurunan daya beli masyarakat, beralihnya fokus pemerintah dari pemerintahan sebelumnya ke pemerintahan saat ini, ketergantungan yang tinggi terhadap komoditas alam, rendahnya produktivitas, dan iklim usaha yang tidak bersahabat.
"Lebih lanjut, terus berkembangnya tensi perang dagang akibat ancaman tarif oleh Presiden Trump berpotensi memperburuk perlambatan ekonomi dalam negeri saat ini," kata Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, dalam keterangannya, dikutip Selasa (5/8/2025).
Sayangnya, di tengah pelambatan ekonomi yang telah terjadi di kuartal I dan berlanjutnya penurunan daya beli masyarakat hingga ke paruh kedua 2025, subsidi dan insentif yang digulirkan pemetintah tidak lagi dapat menyelesaikan isu struktural yang terjadi. Di sisi lain, iklim investasi yang tidak kondusif dan rendahnya kapasitas berusaha membuat pertumbuhan industri di Tanah Air terhambat dan produktivitas dunia usaha tak kunjung meningkat.
Padahal, peningkatan kinerja dan juga produktivitas induatri penting untuk menciptakan pekerjaan formal yang lebih berkualitas.
"Pekerjaan semacam ini tidak hanya menyediakan penghasilan stabil, tetapi juga memfasilitasi akses yang lebih baik ke jaminan sosial dan peningkatan standar hidup," tambah Riefky.
Terpisah, Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memasang proyeksi lebih rendah dari LPEM FEB UI. Menurutnya, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh di level 4,76 persen (yoy), lebih rendah dari rata-rata historis 10 tahun terakhir sebesar 5 persen.
Meski begitu, secara kuartalan ekonomi Indonesia diperkirakan masih tumbuh positif sebesar 3,68 persen, pulih dari kontraksi 0,98 persen pada kuartal sebelumnya. Pemulihan secara kuartalan ini didorong oleh pola musiman, khususnya dari peningkatan aktivitas ekonomi pasca Idulfitri dan memasuki periode liburan sekolah serta musim Haji.
"Pendorong utama pertumbuhan ekonomi kuartal II ini berasal dari beberapa komponen penting. Pertama, konsumsi rumah tangga, meski secara tahunan mengalami perlambatan menjadi 4,77 perseb, dibandingkan 4,89 persen pada kuartal sebelumnya, masih tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi terbesar dalam struktur PDB Indonesia," kata Josua.
Sementara itu, melemahnya konsumsi rumah tangga disebabkan efek musiman Ramadan dan Idulfitri yang sudah bergeser lebih banyak ke kuartal I, serta mulai turunnya optimisme masyarakat terkait ekspektasi penghasilan ke depan yang tercermin dari survei konsumen Bank Indonesia Juni 2025. Kendati demikian, konsumsi barang-barang kebutuhan pokok, seperti makanan dan minuman, tetap relatif kuat, yang tercermin dari inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,75 persen pada Juli 2025.
Selanjutnya, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga diramal tumbuh lebih kuat, naik dari 2,12 persen di kuartal I menjadi sekitar 3,71 persen di kuartal II. Hal ini didukung oleh peningkatan konsumsi semen yang mencerminkan pulihnya aktivitas sektor konstruksi dan real estat, serta meningkatnya impor barang modal, terutama mesin dan peralatan dari Amerika Serikat yang kini bebas tarif, yang akan meningkatkan produktivitas di sektor industri manufaktur.
"Sektor konstruksi, khususnya proyek infrastruktur pemerintah dan swasta, akan menjadi sektor unggulan dengan kontribusi penting bagi investasi pada periode ini," lanjutnya.
Kemudian, belanja pemerintah juga diperkirakan membaik dari sebelumnya mengalami kontraksi 1,38 persen pada kuartal I-2025, menjadi tumbuh positif sekitar 1,78 persen pada kuartal II-2025. Peningkatan belanja ini sejalan dengan percepatan realisasi Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2025, khususnya untuk belanja infrastruktur, belanja operasional pemerintahan, serta program sosial di bulan Juni 2025.
Meski begitu, dampak dari efisiensi fiskal yang telah dilakukan pada kuartal sebelumnya masih dirasakan, sehingga dorongan fiskal belum cukup kuat untuk secara signifikan mempercepat pertumbuhan ekonomi.
"Keempat, ekspor masih relatif stabil, meskipun terdapat tekanan dari perang dagang global yang kembali memanas di kuartal ini. Sektor yang menunjukkan ketahanan cukup baik adalah ekspor jasa, khususnya dari sektor pariwisata yang meningkat seiring dengan bertambahnya kunjungan wisatawan mancanegara pasca-pandemi," papar Josua.
Sebaliknya, ekspor barang seperti komoditas pertanian dan manufaktur diperkirakan masih tertahan akibat sentimen negatif dari kebijakan perdagangan internasional. Sementara itu, kinerja impor nasional tetap tumbuh stabil didukung oleh impor barang konsumsi dan jasa untuk mendukung aktivitas konsumsi domestik yang berkaitan dengan liburan sekolah dan musim Haji.
"Secara sektoral, beberapa industri diprediksi menjadi penggerak utama ekonomi pada kuartal ini. Di antaranya adalah sektor konstruksi dan real estat yang pulih seiring peningkatan investasi infrastruktur, industri makanan dan minuman yang stabil didukung konsumsi domestik yang solid, serta sektor perdagangan ritel yang perlahan mulai pulih, khususnya untuk barang tahan lama yang tercatat mengalami kenaikan indeks penjualan pada Juni 2025 dibandingkan bulan sebelumnya," tukas Josua.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































