Menuju konten utama

Ekonom: Emas Jadi Bantalan Utama di Tengah Ketidakpastian Global

Emas tidak lagi sekadar instrumen pelindung inflasi, tetapi telah menjadi aset aman bagi masyarakat dan otoritas moneter.

Ekonom: Emas Jadi Bantalan Utama di Tengah Ketidakpastian Global
Petugas mengecek harga emas batangan pada Bazar Emas Pegadaian di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (30/1/2026). Bazar Emas bertajuk Festival Tring yang digelar Perum Pegadaian itu diselenggarakan sebagai sarana promosi produk pegadaian dan upaya membantu masyarakat mendapatkan emas baik batangan maupun perhiasan. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/rwa.

tirto.id - Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai emas kini telah bergeser fungsi menjadi bantalan utama di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan volatilitas geopolitik global. Fenomena yang terpantau sejak 2023 ini menunjukkan bahwa emas tidak lagi sekadar instrumen pelindung inflasi (inflationary hedging), tetapi telah menjadi aset aman (safe haven) bagi masyarakat dan otoritas moneter.

Pergeseran aset itu sudah terjadi sebelum gejolak geopolitik terbaru. Bahkan, pergeseran itu disebut terjadi sejak beberapa tahun lalu.

“[Pergeseran aset] ke emas itu bahkan sudah dari 2023 gitu. Jadi, fenomena emas itu bukan terjadi dari 2024," tuturnya di Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).

Asmoro menyatakan, perubahan perilaku itu tercermin dari data otoritas moneter dan perbankan domestik. Realokasi aset dinilai berlangsung seiringan dengan peningkatan ketidakpastian global berkelanjutan.

Kata Asmoro, indikator awal perubahan perilaku terlihat dari data resmi dan permintaan penyimpanan emas fisik. Lonjakan penjualan safe deposit box disebut memperkuat indikator perubahan perilaku itu.

“Dari datanya BI [Bank Indonesia], yang pertama. Yang kedua dari data penjualan safedeposit. Emas itu sudah berubah dari sekedar inflationary hedging asset," sebutnya.

Ia mengatakan, emas kini diposisikan sebagai pelindung ketidakpastian alias tak cuma pelindung dari inflasi. Pergeseran itu disebut akibat naik turunnya nilai dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut Asmoro, ketidakpastian geopolitik global turut mempercepat perubahan karakter emas tersebut. Terutama, perang berkepanjangan dan perpecahan geopolitik yang mendorong masyarakat mencari aset.

“Makanya, kemudian [investasi] dialihkan ke emas. Jadi, emas itu menjadi instrumen, instrumen inflasi dari inflationary hedging," urainya.

Baca juga artikel terkait INVESTASI EMAS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah