tirto.id - Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai emas kini telah bergeser fungsi menjadi bantalan utama di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan volatilitas geopolitik global. Fenomena yang terpantau sejak 2023 ini menunjukkan bahwa emas tidak lagi sekadar instrumen pelindung inflasi (inflationary hedging), tetapi telah menjadi aset aman (safe haven) bagi masyarakat dan otoritas moneter.
Pergeseran aset itu sudah terjadi sebelum gejolak geopolitik terbaru. Bahkan, pergeseran itu disebut terjadi sejak beberapa tahun lalu.
“[Pergeseran aset] ke emas itu bahkan sudah dari 2023 gitu. Jadi, fenomena emas itu bukan terjadi dari 2024," tuturnya di Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
Asmoro menyatakan, perubahan perilaku itu tercermin dari data otoritas moneter dan perbankan domestik. Realokasi aset dinilai berlangsung seiringan dengan peningkatan ketidakpastian global berkelanjutan.
Kata Asmoro, indikator awal perubahan perilaku terlihat dari data resmi dan permintaan penyimpanan emas fisik. Lonjakan penjualan safe deposit box disebut memperkuat indikator perubahan perilaku itu.
“Dari datanya BI [Bank Indonesia], yang pertama. Yang kedua dari data penjualan safedeposit. Emas itu sudah berubah dari sekedar inflationary hedging asset," sebutnya.
Ia mengatakan, emas kini diposisikan sebagai pelindung ketidakpastian alias tak cuma pelindung dari inflasi. Pergeseran itu disebut akibat naik turunnya nilai dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Asmoro, ketidakpastian geopolitik global turut mempercepat perubahan karakter emas tersebut. Terutama, perang berkepanjangan dan perpecahan geopolitik yang mendorong masyarakat mencari aset.
“Makanya, kemudian [investasi] dialihkan ke emas. Jadi, emas itu menjadi instrumen, instrumen inflasi dari inflationary hedging," urainya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





































