Menuju konten utama

Ekonom Bank Permata Wanti-wanti Inflasi Pangan saat Ramadhan

Permintaan terhadap pangan yang kerap melonjak di bulan Ramadhan bisa jadi juga dipengaruhi program MBG.

Ekonom Bank Permata Wanti-wanti Inflasi Pangan saat Ramadhan
Pedagang melayani pembeli di Pasar Larangan Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (19/2/2026). Pada awal Ramadhan harga daging ayam potong naik dari Rp35 ribu menjadi Rp41 ribu per kilogram dan cabai rawit merah menembus Rp90 ribu per kilogram, padahal sebelumnya berkisar antara Rp50 ribu, meskipun harga kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, telur ayam, dan daging sapi relatif stabil serta masih sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET). ANTARA FOTO/Umarul Faruq/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman mewanti-wanti akan adanya kenaikan pangan di bulan Ramadhan 2026, apalagi dengan berjalannya program makan bergizi gratis (MBG).

Menurut dia, harga pangan secara umum pada Januari 2026 sejatinya cenderung menurun. Namun, harga pangan secara umum saat ini atau selama Ramadhan hingga Lebaran 2026 disebut akan meningkat.

"Terkait dengan harga pangan, harga pangan memang di Januari turun, tetapi kan sekarang secara musiman memang akan meningkat di bulan Ramadhan dan juga Lebaran," tuturnya saat konferensi pers via virtual, Jumat (20/2/2026).

Di satu sisi, Faisal mengatakan, permintaan terhadap pangan yang kerap melonjak bisa jadi dipengaruhi program MBG. Mengingat, MBG tetap berlangsung selama bulan Ramadhan 2026.

Ia lantas mengingatkan agar program MBG tidak berjalan sendirian. Instansi selain pengelola MBG, Badan Gizi Nasional (BGN), diminta turut mengawasi jalannya MBG.

Faisal mengingatkan bahwa ketahanan pangan berkaitan dengan MBG yang terus berjalan dan kian diperluas penerimanya. Saat suplai menurun, harga pangan dapat melonjak drastis.

"Ini juga penting sekali, bahwa program MBG itu tidak bisa berjalan sendiri. Ketahanan pangan menjadi penting juga, karena dari sisi suplai.

Kalau suplai tidak terjaga, harga pangan bisa naik, dan bisa juga nanti ditutupnya malah lewat impor," urai dia.

Faisal mengatakan, impor pangan untuk ketahanan pangan dapat berpotensi menimbulkan masalah. Mengingat, saat ini ada kebijakan tarif resiprokal hingga perekonomian China yang dinilai melambat.

"Kalau impor yang jadi lebih besar juga itu jadi masalah. Karena di tengah ekspor kita yang kinerjanya cenderung akan ternormalisasi akibat dari kebijakan tarif, China economic slowing down, dan juga dari normalisasi harga komoditas," tutur Faisal.

Baca juga artikel terkait INFLASI atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Farida Susanty