Efektifkah Cari Lowongan Kerja Via Online?

infografik situs penyedia info lowongan kerja
Ilustrasi situs pencari kerja. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 8 Agustus 2018
Dibaca Normal 4 menit
Pemanfaatan teknologi digital untuk mencari kerja bisa membantu pencari kerja, perusahaan pemberi kerja, dan pengelola platform lowongan kerja online.
tirto.id - Kiki dengan penuh harapan menekan tombol menu apply now pada platform lowongan kerja digital. Perempuan yang berusia 25 tahun itu tengah mencari lowongan pekerjaan. Sejak Juni lalu, ia kembali mengaktifkan akun JobStreet miliknya demi sebuah peruntungan baru.

Ia kini masih bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kehumasan di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Namun, ia sedang berusaha mencari tempat bekerja yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya di Bekasi. Mencari lowongan kerja via online jadi pilihannya. Dalam sebulan, ia bisa mengirimkan 10-20 lamaran kerja secara online ke berbagai perusahaan yang tersedia di JobStreet.

“Saya dapat panggilan kerja kira-kira 10-20 persen dari jumlah lamaran yang saya kirim setiap bulan,” cerita Kiki kepada Tirto.

Platform lowongan kerja online memang banyak bermunculan. Mulai dari situs pencari lowongan kerja yang sudah ada sejak awal 2000-an seperti JobsDB maupun JobStreet, sampai dengan berbagai platform baru antara lain: YesJob, Qerja, Zelos, KapanKerja, Kerjabilitas, JobSmart, Urbanhire, Rekruta, Karirpad, KerjaDulu, Jobs.id, Idtalent, Jojoba, sampai dengan Gawean, dan banyak lagi.

Di Indonesia, JobStreet melayani 20.000 perusahaan dan telah lebih dari 7 juta pencari kerja terdaftar di situs tersebut. Meriana, Corporate Marketing Assistant Manager JobStreet mengaku tidak memiliki data pasti mengenai jumlah user atau pencari kerja yang telah mendapat kerja dari lowongan yang disediakan oleh JobStreet.

“Karena biasanya perusahaan tidak melaporkan kepada JobStreet berapa banyak pencari kerja yang berhasil mereka rekrut. Namun jumlah pelamar per lowongan rata-rata lebih dari 300 orang,” jelas Meriana kepada Tirto.

Sebanyak 23 persen dari pencari kerja yang terdaftar di JobSreet, merupakan pemilik pengalaman kerja di bawah satu tahun. Sedangkan pencari kerja dengan pengalaman kerja antara 5-9 tahun mencapai 21 persen. Saat ini profesi yang sedang dicari dan dibutuhkan oleh berbagai perusahaan di Tanah Air adalah marketing, khususnya digital marketing dan juga berbagai profesi di bidang IT.

“Berdasarkan mapping JobStreet, kota yang paling banyak menawarkan pekerjaan dan kota yang paling banyak pencari kerja adalah Jakarta,” ungkap Meriana.


Kebutuhan karyawan yang tinggi di bidang IT juga diakui oleh pengelola platform Idtalet dan YesJob. “Programer, developer IT serta grapich designer menjadi profesi yang sedang dicari setidaknya di Jabodetabek saat ini,” jelas Iwan Utama, CMO sekaligus Co-Founder YesJob kepada Tirto.

Idtalent, platform lowongan kerja online besutan Putra Nababan, mendata kebutuhan sumber daya manusia di bidang IT atau digital cukup banyak dicari saat ini seiring dengan perkembangan industri teknologi. Pengguna Idtalent, menurut Putra Nababan adalah entry level di mana usia 20-25 tahun atau yang memiliki pengalaman kerja sampai dengan 2 tahun, mendominasi pencari kerja di platform tersebut.

Perusahaan maupun pencari kerja masih masif ada di Jakarta. Secara offline, kata Putra, sebanyak 80 persen pelamar Idtalent banyak terserap di industri dan untuk pelamar yang baru bergabung, baru 30 persen terserap oleh industri. “Saat ini ada 50 perusahaan yang menggunakan jasa Idtalent baik online maupun offline dan sebanyak 5.000 pelamar terdaftar di beta Idtalent,” jelas Putra.

Sedangkan YesJob, telah bekerjasama dengan 800 perusahaan maupun individu yang sedang mencari karyawan dengan jumlah 61 ribu pengguna aktif. Iwan mengaku, dari jumlah 61 ribu user tersebut, pihaknya tidak mengetahui berapa banyak yang telah terbantu jasa YesJob dalam mencari maupun mendapat pekerjaan. Ini dikarenakan platform YesJob hanya bisa melacak unlock profile user saja. “Persentasenya mungkin masih kecil, hanya sekitar 1 persen saja untuk persentase unlocking profile dari kandidat yang match and interested. Untuk data sampai tahap bekerja, kami tidak memiliki data yang valid,” imbuh Iwan.

Dari pengakuan para pengelola platform lowongan kerja, memang sulit melacak efektivitas keberhasilan pencarian lowongan kerja. Namun, pengakuan pengguna tenaga kerja yang bersumber dari platform, setidaknya dapat memberi gambaran. Kompas.com misalnya, mengaku menggunakan lebih dari satu jasa platform penyedia lapangan kerja online. Di antaranya adalah JobStreet, Urbanhire, Kalibrr dan Dashboard JobKompas.com. Kerja sama yang dilakukan seiring dengan kebutuhan pemenuhan jumlah karyawan.

“Yang terbaru adalah kerja sama dengan Kalibrr pada awal tahun 2018. Sebenarnya yang menggunakan jasa Kalibrr adalah Grup Majalah di Kompas Gramedia Grup, tetapi kami juga bisa mengakses untuk meletakkan lowongan kerja di sana,” jelas Rully S. Akbar, HRD Superintendent Kompas.com kepada Tirto.

Rully merinci, setidaknya sebanyak 27 persen dari karyawan yang masuk ke perseroan didapat dari platform penyedia lowongan kerja online tersebut. Menurut Rully, sebagian besar dari persentase penerimaan karyawan tersebut didapat Kompas.com dari hasil kerjasama dengan platfrom Urbanhire karena adanya kerja sama dengan Kompas Karier.

Ia mengatakan ada banyak alasan perseroan menggunakan bantuan jasa platform lowongan kerja online. Misalnya saja, soal besarnya jumlah curriculum vitae (CV) pelamar kerja yang masuk setiap minggunya ke perseroan. Jumlah CV yang banyak didapat Kompas.com umumnya hasil kerja sama dengan JobStreet.

Sementara, kemudahan untuk mengolah hasil CV yang masuk didapat Kompas.com dari hasil kerja sama dengan platfrom Urbanhire. Sedangkan untuk kualitas CV terbaik yang masuk, didapat Kompas.com dari hasil meletakkan lowongan kerja di platform Kalibrr.

“Memang tidak sebanyak dari JobStreet, tetapi dari kualitas CV yang masuk dari Kalibrr lebih bagus. Sedangkan platform DashBoard JobsKompas.com bisa membantu pageview situs berita Kompas.com,” umbuh Rully.

Rully menambahkan, proses penyaringan karyawan dari hasil kerja sama dengan platform lowongan kerja online sangat membantu perseroan. Alasannya, tugas penyeleksian mengenai posisi pekerjaan, tugas dan tanggung jawab serta penyaringan lainnya sudah terseleksi sejak awal.




Pentingnya Cari Kerja Via Online


Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, per Februari 2018 jumlah pengangguran di Indonesia berkurang 140 ribu orang. Di lihat dari tingkat pendidikan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mencapai 8,92 persen. Lulusan SMK inilah yang coba diakomodir oleh platform Jojoba serta Gawean, yang khusus menghubungkan pencari kerja non-eksekutif dengan berbagai perusahaan di Indonesia terutama di Jakarta dan sekitarnya.

Chief Marketing Officer Gawean Dwi Taruna mengatakan dengan tren coffee shop yang sedang menjamur di kota-kota besar, maka posisi Barista sangat dicari saat ini. “Coffee shop hampir ada di mana-mana dan restoran pun dalam menyajikan menu minuman juga menyediakan kopi. Selain posisi Barista, yang paling banyak dibutuhkan adalah cook maupun waiter/waitress,” kata Dwi Taruna yang akrab disapa Neita kepada Tirto.

Sudah ada lebih dari dua ribu pencari kerja yang terdaftar di Gawean dengan 40 merchant coffee shop maupun restoran yang bekerja sama untuk mencari pekerja. Sementara di Jojoba, telah ada sekitar 7.500 pencari kerja yang terdaftar dengan lebih dari 450 perusahaan menggunakan jasa untuk mencari karyawan non-eksekutif.

Andreas Setiadi, CEO JoJOBa Jobs mengatakan sekitar 5 persen dari data user yang terdaftar di platformnya telah mendapat pekerjaan, utamanya di Jakarta dan Surabaya. Pencari kerja di luar Jabodetabek menurut Andreas, sangat semangat untuk mencari pekerjaan. “Saat ini jumlah pencari kerja yang masih menganggur paling banyak di wilayah Banten berdasarkan mapping kami,” jelas Andreas.


Meski persentase keberhasilan melamar pekerjaan via online tak ada angka yang pasti, tapi saluran ini patut jadi pertimbangan bagi para pelamar pekerjaan. Keberadaan situsweb pencari lowongan kerja memberikan alternatif lain bagi para pencari kerja.

Sayangnya, pemanfaatan teknologi digital untuk mencari kerja memang belum maksimal digunakan oleh generasi muda di beberapa negara berkembang seperti Brasil, India, Indonesia, dan Afrika Selatan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Solution For Youth Employment (S4YE) (PDF) yang bekerja sama dengan plaform digital LinkedIn, di empat negara tersebut, lebih dari 78 juta profil LinkedIn kurang menggunakan platfrom digital untuk mencari kerja.

Padahal, pencarian lowongan kerja melalui platform online di Indonesia menurut Yas Asultanny dalam American Journal of Information Science and Computer Engineering berjudul Evaluating the Factors Affecting on Intension to Use of E-Recruitment (PDF), mencerminkan besarnya niat untuk mencari kerja. Ini karena, pencarian kerja melalui online memiliki persepsi mudah digunakan, memiliki manfaat yang besar dan memengaruhi keputusan melamar kerja posisi tertentu.

Evolusi industri perekrutan tenaga kerja melalui online, menurut Yas, telah dimulai pada era 1990-an, di mana tren digitalisasi dimulai dan menjadi cara interaksi yang lebih efisien antara perusahaan pemberi kerja dengan pencari kerja.

“Menggunakan bantuan platform pencari kerja online, memiliki hubungan yang signifikan terhadap sikap dan niat mencari kerja,” tulis Yas dalam jurnal tersebut.

McKinsey&Company dalam laporannya berjudul Unlocking Indonesia’s Digital Opportunity (PDF) yang terbit pada Oktober 2016 menyebutkan, penggunaan teknologi digital dapat meningkatkan pasokan tenaga kerja, meningkatkan partisipasi jumlah angkatan kerja serta mengurangi pengangguran. Platform informasi lowongan kerja dapat membantu memfasilitasi serta menyesuaikan permintaan perusahaan dengan pencari kerja dengan lebih cepat, sehingga menurunkan pengangguran secara efektif.

Platform online, menurut laporan McKinsey juga dapat mengaktifkan tiga persen dari populasi 35 juta penduduk perempuan di Indonesia di rentang usia 15-64 tahun untuk mendapat pekerjaan. Penggunaan teknologi, berpotensi menambah 3,7 juta lapangan kerja dan menyumbang $35 miliar per tahun untuk ekonomi Indonesia pada 2025.

Baca juga artikel terkait LOWONGAN KERJA atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra
DarkLight