Menuju konten utama

DPR Desak Kemhan Hentikan Sementara Latsarmil SPPI 2026

Desakan itu disampaikan setelah jumlah peserta yang meninggal dunia selama mengikuti pelatihan bertambah menjadi lima orang.

DPR Desak Kemhan Hentikan Sementara Latsarmil SPPI 2026
Sejumlah peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meneriakkan yel-yel saat mengikuti Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Sebanyak 674 peserta mengikuti latsarmil untuk membangun karakter integritas, loyalitas, kedisiplinan, kekompakan, dan empati yang dibutuhkan dalam menjalankan tugas sebagai manajer KDMP. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Soleh, mendesak Kementerian Pertahanan (Kemhan) menghentikan sementara pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026. Desakan itu disampaikan setelah jumlah peserta yang meninggal dunia selama mengikuti pelatihan bertambah menjadi lima orang.

Menurut informasi yang disampaikan Kemhan, korban terbaru adalah Nola Dya Sari yang mengikuti Latsarmil di Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan. Sebelumnya, empat peserta lain yang meninggal dunia ialah Yonanda Muhammad Taufiq pada 17 Juni 2026, Anisa Muyassaroh pada 18 Juni 2026, Novia Rahmadhani Sihotang pada 22 Juni 2026, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan pada 25 Juni 2026.

“Peristiwa meninggalnya lima orang calon manajer Kopdes Merah Putih ini merupakan masalah yang sangat serius. Jangan anggap enteng nyawa manusia yang meninggal. Karena itu saya mendesak Kementerian Pertahanan menghentikan sementara pelaksanaan Latsarmil dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut,” kata Oleh Soleh dalam keterangan tertulisnya, Minggu (28/6/2026).

Politikus Fraksi PKB itu menilai Kemhan tidak boleh menganggap remeh kematian para peserta. Menurutnya, mereka merupakan putra-putri terbaik bangsa yang mendaftarkan diri untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi masyarakat melalui program Kopdes Merah Putih.

“Mereka adalah anak-anak bangsa yang berjuang untuk mendukung keberhasilan program Kopdes Merah Putih dengan mendaftarkan diri sebagai calon manajer. Karena itu setiap kejadian yang menyebabkan hilangnya nyawa harus menjadi perhatian serius dan tidak boleh dianggap sebagai hal biasa,” ujar Oleh.

Oleh juga mendesak adanya evaluasi total terhadap sistem pembinaan dan pelatihan bagi calon manajer Kopdes. Ia menilai pola pelatihan harus disesuaikan dengan latar belakang peserta yang berasal dari masyarakat sipil, bukan prajurit militer.

“Harus ada evaluasi dan perbaikan total terhadap pola pembinaan serta pelatihan yang diberikan. Mereka adalah masyarakat sipil sehingga pelatihan fisik yang dilakukan tidak boleh terlalu berat. Mereka bukan tentara dan tentu kemampuan fisiknya tidak sama dengan prajurit yang telah menjalani pendidikan kemiliteran,” katanya.

Oleh menegaskan tujuan utama Program SPPI dan Kopdes Merah Putih ialah menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola koperasi sekaligus menggerakkan pembangunan ekonomi desa. Oleh karena itu, menurut dia, aspek keselamatan dan kesehatan peserta harus menjadi prioritas dalam setiap tahapan pelatihan.

“Kementerian Pertahanan harus melakukan evaluasi menyeluruh, mengungkap penyebab meninggalnya para peserta secara transparan, serta memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait LATSARMIL KOPDES atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama