tirto.id - Korps Marinir TNI AL menjelaskan ragam rutinitas peserta latihan dasar kemiliteran (latsarmil) yang dilakukan anggota Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih.
Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak, Letkol (Mar) Agus Mutaqin, saat ditemui awak media mengatakan kegiatan para peserta dibuka dengan bangun pagi pukul 04.30 WIB.
"Kemudian melaksanakan ibadah salat Subuh. Selanjutnya kami lanjutkan kegiatan olahraga, pembinaan fisik, kemudian dilanjutkan makan pagi," kata Agus saat ditemui awak media di markas Marinir, Cilandak, Jakarta Timur, Kamis (25/6/2026) dilansir dari Antara.
Setelah makan pagi, para peserta mengikuti kegiatan apel pagi, kegiatan baris berbaris dan akhirnya masuk ke kelas untuk mengikuti materi.
Setelah mengikuti materi kelas sampai sore, para peserta diajak mengikuti kegiatan "pengasuhan" oleh para pelatih.
"Pengasuhan adalah pemberian bekal-bekal, salah satunya mungkin pengenalan lingkungan, kemudian etika selama di sini, sikap PBB, dan sebagainya. Termasuk bekal-bekal keseragaman dan kekompakan," jelas Agus.
Setelah ragam kegiatan itu selesai dilakukan, kata Agus, peserta diizinkan untuk menjalankan istirahat, salat dan makan sebelum akhirnya beristirahat pukul 21.30 WIB.
Agus menjelaskan seluruh rangkaian kegiatan itu dilakukan dengan bimbingan para pelatih dari Korps Marinir.

Hukuman Diberikan ke Manajer KMP Tak Disiplin
Dalam pelatihan ini, TNI juga memberlakukan hukuman fisik kepada peserta, jika kedapatan melanggar beberapa peraturan selama pendidikan, salah satu contoh ketika peserta terlambat mengikuti apel pagi.
"Contoh saat apel pagi, mereka terlambat mungkin karena ketiduran dan sebagainya, kita berikan hukuman push up 10 atau 15 kali," kata Agus.
Agus menjelaskan hukuman fisik itu diberlakukan agar para peserta memiliki jiwa disiplin yang tinggi serta taat akan peraturan. Hukuman tersebut juga diharapkan dapat membuat peserta dapat hidup lebih tertib.
Tidak hanya karena telat mengikuti apel, para peserta juga akan menerima hukuman jika tidak mengikuti makan bersama.
Menurut Agus, hal tersebut harus dilakukan karena makan merupakan aktivitas yang wajib dilakukan demi menjaga kesehatan fisik peserta.
Agus menekankan hukuman yang diberikan kepada para peserta pun tidak disamakan dengan standar prajurit, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan fisik peserta.
Tidak hanya hukuman saja, pihaknya juga tidak segan memberikan reward atau penghargaan bagi peserta yang berprestasi selama pendidikan. Hal tersebut dilakukan agar peserta termotivasi dan terus semangat dalam menjalani program latsarmil.
Hingga saat ini, lanjut Agus, seluruh rangkaian pendidikan latsarmil masih berjalan dengan aman dan kondusif.
Dia berharap proses pendidikan kali ini bisa selesai dengan baik dan seluruh peserta mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk diterapkan ketika mengelola Koperasi Desa Merah Putih.
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id
































