tirto.id - Lempar jumrah menjadi salah satu rangkaian ibadah haji. Melempar jumrah dilakukan saat jamaah berada di Mina. Bagaimana doa melempar jumrah sesuai sunah?
Melempar jumrah adalah melontarkan batu kerikil pada waktu, tempat, dan jumlah yang telah ditentukan pada saat melaksanakan haji di Mina. Pelaksanaannya dilakukan dari tanggal 10 sampai 13 Zulhijah.
Pada 10 Zulhijah atau hari Nahar dilakukan lempar jumrah Aqabah. Sementara itu, pada hari Tasyrik 11-13 Zulhijah, lempar jumrah berlangsung di tiga tempat dengan urutan jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
Tata Cara Melempar Jumrah dan Urutannya
Melempar jumrah merupakan kegiatan melempar kerikil pada tiga tiang batu yang melambangkan setan atau godaan nafsu. Lempar jumrah ini dinisbatkan pada tindakan yang dilakukan Nabi Ibrahim yang diceritakan dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu.
Dari Ibnu Abbas, beliau menisbatkan pernyataan ini kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam: “Ketika Ibrahim kekasih Allah melakukan ibadah haji, tiba-tiba Iblis menampakkan diri di hadapan beliau di jumrah Aqabah. Lalu, Ibrahim melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itu pun masuk ke tanah. Iblis itu menampakkan dirinya kembali di jumrah yang kedua. Lalu, Ibrahim melempari setan itu kembali dengan tujuh kerikil, hingga iblis itu pun masuk ke tanah. Kemudian Iblis menampakkan dirinya kembali di jumrah ketiga. Lalu. Ibrahim pun melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itu masuk ke tanah“.
Ibnu Abbas lantas berkata, “Kalian merajam setan, bersamaan dengan itu (dengan melempar jumrah) kalian mengikuti agama ayah kalian Ibrahim“. (H.R. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim)
Jemaah haji akan melemparkan batu-batu kecil ke tiga jumrah yang berada dalam satu kompleks. Jumrah atau tiang batu tersebut terdiri dari Ula, Wustha, dan Aqabah.
Jumrah Ula adalah tiang batu pertama yang akan dilempar batu oleh jemaah haji pada hari Tasyrik. Disusul selanjutnya yaitu melakukan lempar jumrah di Wustha lalu ke Aqabah. Jumrah Aqabah adalah tiang batu terbesar dari tiga jumrah yang ada dan memiliki kekhususan saat 10 Zulhijah tiba.
Ketentuan yang berkaitan dengan waktu melempar jumrah di masing tempat mengikuti aturan berikut:
- Pada 10 Zulhijah, lempar jumrah hanya dilakukan di jumrah Aqabah
- Pada hari Tasyrik atau 11, 12, dan 13 Zulhijah, jemaah yang masih berada di Mina melakukan lempar jumrah di tiga tempat sekaligus yang diawali jumrah Ula, Wustha, dan terakhir Aqabah.
Adapun tata cara dan urutan melempar jumrah menurut buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah yang diterbitkan Kementerian Agama RI yaitu:
- Kerikil mengenai marmer jumrah dan masuk lubang.
- Melontarkan batu kerikil satu per satu. Jika melakukan lontaran memakai tujuh kerikil sekaligus, dihitung satu lontaran.
- Melontar jamarat atau semua tempat jumrah dengan urutan yang benar dimulai jumrah Ula (sughra), Wustha, dan Aqabah (kubra) pada hari Tasyrik.
Doa Melempar Jumrah Arab, Latin, dan Artinya
Lafal yang diucapkan ketika melempar jumrah adalah kalimat takbir "Allahuakbar". Ketika melempar jumrah diiringi dengan ucapan takbir setiap kali jemaah melempar satu butir kerikil ke arah tiang batu. Jamaah lantas membaca doa setelah melempar jumrah.
Doa melempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah didasarkan pada hadis Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Bacaan doa melempar jumrah Aqabah, Wustha, dan Ula sebagai berikut:
اللهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا
Allahumma-j‘alhu ḥajjan mabrūran, wa dzanban maghfūran
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah ini haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.”
Mengutip laman Muhammadiyah, dalil hadis yang digunakan untuk doa tersebut berasal dari sahabat Abdurrahman Ibn Yazid. Hadis ini memiliki isi sebagai berikut:
Dari Abdurrahman Ibn Yazid, ia berkata, "Aku pernah bersama Abdullah hingga selesai melempar jumrah Aqabah, lalu ia berkata, 'Berilah aku beberapa batu'." Ia melanjutkan, "Lalu aku memberinya tujuh batu." Ia menyuruhku, 'Peganglah tali kekang unta'. Abdurrahman melanjutkan, "Kemudian ia kembali melemparnya dari dalam lembah sebanyak tujuh buah kerikil sambil berada di atas kendaraannya dan bertakbir setiap melempar kerikil dan berdoa, 'Allahumma ij‘alhu ḥajjan mabrūran, wa dzanban maghfūran (Ya Allah, jadikanlah ini haji yang mabrur dan dosa yang diampuni)'. Kemudian ia berkata lagi, 'Di sinilah berdiri orang yang kepadanya diturunkan surat al-Baqarah'.” [H.R. Ahmad].
Tempat Jamaah Haji Melempar Jumrah
Tempat jamaah haji melempar jumrah adalah jamarat yang merupakan kata jamak dari jumrah. Melempar jumrah saat ibadah haji dilakukan di tiga tempat yaitu jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Jamarat tersebut berada di satu kompleks yang dikenal sebagai Jembatan Jumrah dan berada di Kota Mina, Arab Saudi.
Batu kerikil yang akan dilempar, disunnahkan dipungut dari tanah yang ada di wilayah Muzdalifah pada malam hari sebelum pelaksanaan jumrah Aqabah di hari Nahar 10 Zulhijah. Adapun kerikil untuk jumrah di hari Tasyrik dapat diambil di mana saja.
Mengutip laman Pondok Pesantren Darunnajah, jumlah kerikil yang diambil mengikuti jumlah hari yang akan dihabiskan untuk bermalam di Mina. Setiap tempat jumrah dilakukan lemparan sebanyak 7 kerikil.
Pada hari Nahar disunnahkan melakukan lempar jumrah Aqabah. Pada tiga hari Tasyrik berikut, setiap harinya harus menyiapkan 21 kerikil untuk melempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah masing-masing sebanyak 7 kerikil.
Masuk tirto.id
































