Menuju konten utama

Di Balik Fenomena Antre Daftar Bimbel Viral di Yogyakarta

Budaya flexing Yogyakarta bukan pamer harta, tapi anak diterima sekolah di mana. Demi mengejar SMA favorit, orang tua rela antre tempat bimbel.

Di Balik Fenomena Antre Daftar Bimbel Viral di Yogyakarta
Bimbel di Kota Yogyakarta yang Viral. tirto.id/cahyo purnomoedi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sambil memegang selembar kertas folio di sebuah garasi sempit kawasan Jalan Gayam, Kota Yogyakarta, Rabu (2/9/2026), Rohmawati dengan teliti menuliskan namanya di urutan nomor 130.

Perempuan asal Kotagede itu bukan sedang mengantre pembagian sembako, melainkan sedang berjuang mengamankan satu slot kursi belajar untuk anaknya di Bimbel Exist Gayam demi sebuah ambisi besar: menembus ketatnya persaingan masuk SMA favorit di Kota Pelajar.

Rohmawati mengambil daftar antrean untuk anaknya yang saat ini duduk di kelas 2 SMP atau kelas 8. Pendaftaran ini untuk les di Bimbel Exist Gayam tahun depan ketika anaknya kelas 3 SMP atau kelas 9.

Rohmawati sebetulnya sudah datang untuk mendaftar pada Selasa (1/9/2026). Namun, keberuntungan belum berpihak padanya.

"Kemarin daftar antreannya sudah habis. Ini mengisi daftar untuk inden [memesan tempat] barangkali ada yang tidak jadi ikut les atau ada jadwal kosong dan bisa diisi anak saya," harapnya.

Rohmawati membeberkan alasannya ikut war les di Bimbel Exist Gayam. Keputusan itu diambil setelah anaknya mantap untuk mengejar bangku sekolah di SMAN 3 Yogyakarta.

Sana sini mencari informasi, Rohmawati pun akhirnya memperoleh tips. Untuk dapat diterima di salah satu SMA favorit di Kota Pelajar tersebut, diperlukan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) yang tinggi.

"Penginnya anak saya itu ke Padmanaba [SMAN 3 Yogyakarta]. Saya dapat testimoni dari beberapa orang tua memang kalau pengin hasil TKA atau ASPD-nya baik ya ikut les di sini," tutur Rohmawati.

Cerita Berburu Nomor Antrean dan Tingginya Rasio Kelulusan

Sama-sama datang ke Bimbel Exist Gayam sampai dua kali, namun Dwi Ratnasari lebih beruntung. Orang tua siswa yang tinggal di daerah Kalasan, Kabupaten Sleman tersebut mengantre pada Sabtu (29/8/2026).

Pada hari pertama mengantre, Dwi tak mendapatkan nomor antrean karena kuota di hari itu hanya 50 daftar peserta. Tak menyerah, dia kembali datang pada Senin (31/8/2026) dan akhirnya dapat nomor antrean 276.

Kini, satu bangku les untuk anaknya sudah aman. Dia tingga mendaftar ulang pada Senin (7/9/2026) mendatang.

Salah satu yang membuat mantap Dwi memilih Bimbel Exist Gayam karena persentase siswa yang diterima di sekolah favorit di Kota Yogyakarta sangatlah besar. Testimoni atau cerita-cerita yang sampai ke telinga Dwi pun mengatakan 80 persen lebih peserta les di bimbel ini diterima di SMA favorit di Kota Yogyakarta.

"Ini salah satu bimbel yang langganan meloloskan anak masuk ke sekolah favorit di Kota Yogyakarta. Beberapa orang tua teman anak saya juga banyak yang cerita. Makanya saya pengin mendaftarkan anak di bimbel ini," urai Dwi.

Flexing di Yogyakarta Bukan Harta, Tapi Anak Sekolah di Mana

Fenomena antrean pendaftaran les di Bimbel Exist Gayam ini sempat viral di media sosial. Dalam video itu, nampak para orang tua antre mengular demi mengambil nomor pendaftaran les.

Banyak warganet kemudian yang berkomentar jika fenomena ini menunjukkan bagaimana ambisi orang tua dan pelajar di Yogyakarta untuk bersaing masuk di sekolah-sekolah favorit seperti SMA 3, SMA 1, SMA 8, SMA 2 Yogyakarta.

Bahkan ada pameo di kalangan orang tua jika flexing di Kota Yogyakarta itu bukanlah pamer harta. Bukan seberapa banyak harta yang dipunya atau mobil yang dikendarai.

Kebanggaan orang tua adalah anak diterima di sekolah mana. Keberhasilan anak diterima di sekolah favorit, menjadi penentu dianggap sukses atau tidaknya orang tua di Kota Pelajar.

Exist Gayam, dari Tempat Les di Rumah Guru hingga Menjadi Bimbel Sukses

Bimbel di Kota Yogyakarta yang Viral

Yurin Gagarin, pemilik Bimbel Exist Gayam. tirto.id/cahyo purnomoedi

Kesuksesan Exist Gayam tak bisa dipisahkan dari sosok Yurin Gagarin, sang pemilik. Perempuan berusia 62 tahun ini dulunya adalah seorang guru di salah satu SMP di Kota Yogyakarta. Saat masih aktif mengajar, dia kemudian merintis Bimbel Exist Gayam sejak tahun 2000.

Saat itu Yurin merupakan guru Bahasa Indonesia. Yurin membuka les privat untuk beberapa murid yang sedang bersiap menghadapi Ujian Nasional (UN). Nilai UN tersebut jadi penting, lantaran hasil nilainya menjadi penentu anak bisa diterima di sekolah mana.

"Dulu namanya dikenal dengan 'les-lesan Bu Yurin'. Dulu buka pertama di rumah saya di daerah Lempuyangan. Itu sekitar tahun 2000an. Kemudian sebelum Covid pindah ke sini [Gayam] dan alhamdulillah bisa membuat Bimbel ini," ucap Yurin, Selasa (2/9/2026).

Yurin menerangkan jika selama ini dirinya tak pernah promosi soal bimbelnya. Dia justru mengandalkan informasi yang menyebar dari mulut ke mulut dari para alumni yang berhasil masuk sekolah SMA favorit incarannya. Termasuk para murid yang kerap memberikan testimoninya di media sosial tentang capaiannya bisa lolos ke SMA favorit.

"Kami tidak pernah promo sama sekali. Yang memviralkan justru anak-anak yang sudah lulus dari sini," ungkap Yurin.

Yurin mengklaim hampir 80 persen lulusan bimbel ini berhasil menembus SMA negeri favorit di Yogyakarta, seperti SMAN 3, SMAN 8, dan SMAN 1.

Tarif Rp150 Ribu dan Aturan Disiplin Ketat Tanpa Ponsel

Walaupun mempunyai kualitas yang dinilai baik, Yurin menyatakan Bimbel Exist Gayam tidak mematok tarif mahal untuk biaya les. Yurin merinci biaya sebulan, untuk satu mata pelajaran dengan empat kali pertemuan, peserta les membayar Rp 150 ribu.

"Biayanya tetap paling murah sejak dulu. Saya dan suami yang sudah pensiun sekarang murni hanya mencari barokah, tidak lagi mengejar materi duniawi. Alhamdulillah, anak-anak saya juga sudah mapan," urai Yurin.

Yurin menyebut saat ini ada lebih dari 10 guru pengajar di Bimbel Exist Gayam. Para guru ini disebut Yurin punya kualitas yang baik dan disiplin yang tinggi. Pembelajaran yang disiplin disebut Yurin jadi kunci kesuksesan para peserta les.

"Satu kelas kami batasi maksimal 20 anak agar pembelajaran kondusif. Saat jam belajar berlangsung, tak ada toleransi untuk HP. Siswa yang ketahuan bermain HP akan langsung ditegur. Jika mengulangi hingga tiga kali, sanksi dikeluarkan. Gapapa kami keluarkan masih banyak yang inden juga kok," terang Yurin.

Keseimbangan Prestasi Akademik dan Pendidikan Akhlak Mulia

Bimbel Exist Gayam tak sekadar mengejar kemampuan akademik peserta didiknya. Kata Yurin, penanaman akhlak yang baik juga diterapkan. Pendekatan belajar di Bimbel Exist Gayam juga disisipi pendidikan karakter dan agama.

Rutinitas wajib di bimbel ini adalah menghentikan seluruh aktivitas belajar saat azan Magrib berkumandang. Para siswa kemudian diarahkan untuk menunaikan salat berjemaah di masjid sebelah bimbel.

"Kami ajarkan juga akhlak dan budi pekerti yang baik. Saya tidak mau hanya mencetak orang yang pintar saja tapi juga harus punya akhlak yang baik juga. Kami punya prinsip kejarlah akhiratmu maka dunia dan seisinya akan mengikutimu," tegas Yurin.

Yurin menambahkan beberapa tahun belakangan terjadi lonjakan pendaftar di Bimbel Exist Gayam. Tahun 2025 hanya ada 200 siswa namun tahun lalu melonjak hingga 400 siswa.

Yurin mengungkapkan video yang viral soal antrean pendaftaran itu merupakan proses pendaftaran bagi peserta les untuk tahun 2027 mendatang. Jadi pendaftar yang antre ini, lanjut Yurin baru akan ikut kelas di tahun 2027 besok.

"Kita tutup di angka 500 pendaftar. Tapi ini masih ada yang inden. Hingga hari ini ada 142 yang inden mau daftar dan belum dapat nomor antrean untuk daftar ulang. Itu untuk pendaftaran tahun depan, kalau tahun ini sudah mulai pembelajarannya sejak Juli 2026 ini kelas sudah mulai," papar Yurin.

Baca juga artikel terkait BIMBEL atau tulisan lainnya dari Cahyo PE

tirto.id - Edusains
Reporter: Cahyo PE
Penulis: Cahyo PE
Editor: Siti Fatimah