Menuju konten utama

Demonstran Iran yang Akan Dihukum Mati, Dibebaskan

Iran bebaskan tahanan yang sebelumnya dikabarkan akan menjalani hukuman mati. Di sisi lain, situasi masih genting terkait kemungkinan serangan AS ke Iran.

Demonstran Iran yang Akan Dihukum Mati, Dibebaskan
Para demonstran Iran berpartisipasi dalam unjuk rasa pro-pemerintah di Teheran, Iran, pada 12 Januari 2026. Reuters/ Morteza Nikoubazl/NurPhoto

tirto.id - Seorang pengunjuk rasa Iran yang dijatuhi vonis hukuman mati, Erfan Soltani (26), dibebaskan dengan jaminan. Soltani ditangkap pada 10 Januari 2026 di rumahnya di Fardis, sebelah barat Teheran.

Seturut CNN, kabar dibebaskannya Erfan Soltani ini telah diberitakan oleh kantor berita Iran IRIB dan dikonfirmasi lembaga hak asasi manusia Iran. Soltani sebelumnya didakwa dengan pasal "perkumpulan dan kolusi melawan keamanan internal negara" serta "kegiatan propaganda".

Menurut Departemen Luar Negeri AS dan salah satu kerabat Soltani, eksekusi atas demonstran tersebut semula direncanakan oleh pihak berwenang Iran. Namun, peradilan Iran kemudian membantah laporan atas eksekusi Soltani dan menyebutnya sebagai "berita palsu".

Soltani kemudian dibebaskan dengan jaminan pada Sabtu (31/1/2026), menurut organisasi hak asasi manusia Iran yang berbasis di Norwegia, Hengaw. Sepekan sebelumnya, pada 19 Januari, CNN sempat melaporkan bahwa Soltani dalam keadaan sehat secara fisik dan telah diperbolehkan untuk bertemu keluarganya.

Soltani merupakan salah satu pengunjuk rasa dalam gelombang protes anti-pemerintah yang melanda Iran dalam dua bulan terakhir. Otoritas Iran kemudian menanggapi gelombang protes itu dengan kekerasan yang eksesif, membunuh ribuan orang dan ribuan lainnya ditangkap.

Kasus penangkapan Erfan Soltani menjadi salah satu kasus yang paling membuat khawatir dunia internasional. Hal itu lantaran kabar penangkapan Soltani dibarengi dengan dugaan eksekusi mati para massa aksi yang ditangkap.

Setelah kabar tersebut ramai di kancah internasional, otoritas Iran disebut telah menunda eksekusi dan akhirnya membebaskan Soltani. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sempat mengecam rencana eksekusi mati para demonstran di Iran, menyebut akan menyerang Teheran jika hal itu terjadi.

Update AS vs Iran Terkini

Kecaman Trump terkait rencana eksekusi mati para demonstran Iran, menjadi salah satu pernyataan Presiden AS. Gelombang unjuk rasa anti-pemerintah di Negeri Para Mullah itu sedang bergejolak.

Sebelum mengecam rencana eksekusi, Trump lebih dulu mendorong warga Iran untuk melanjutkan unjuk rasa dan "mengambil alih" lembaga-lembaga negara. Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan".

Usai eskalasi unjuk rasa di Iran mereda, Trump tak lagi menyebut pengunjuk rasa dalam pernyataannya. Ia justru menggarisbawahi tentang kesepakatan nuklir dengan Iran.

Sumber anonim CNN menyebut, Trump kini tengah mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap Iran karena persoalan nuklir. Trump konsisten menekan Teheran untuk membuat kesepakatan nuklir baru, sembari mengirimkan armada perangnya ke Teluk.

Hal tersebut membuat hubungan Iran dan AS memanas. Pengerahan armada perang AS direspons otoritas Teheran — termasuk Ayatollah Ali Khamenei — bahwa Iran siap membalas setiap serangan AS.

"Amerika harus tahu bahwa jika mereka memulai perang, kali ini akan menjadi perang regional," kata Khamenei di Teheran pada Minggu (1/2).

Akan tetapi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu menyatakan bahwa ia yakin bahwa kedua negara dapat mencapai kesepakatan terkait program nuklir. Sebelumnya, Araghchi juga menyatakan bahwa Teheran siap berdiskusi dengan pihak manapun terkait program nuklir.

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar