Menuju konten utama

Dekap Ayah dan Ibu Sebelum Belajar di Hari Pertama Sekolah

Pendidikan tidak dimulai ketika guru membuka buku pelajaran, tapi sejak keluarga menghadirkan rasa aman, dan sekolah menyambut setiap anak dengan hangat.

Dekap Ayah dan Ibu Sebelum Belajar di Hari Pertama Sekolah
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji saat mengunjungi SLB Negeri 02 Jakarta. FOTO/Putri Az zahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pagi itu matahari baru saja menghangatkan halaman SLB Negeri 02 Jakarta. Dari kejauhan, deretan siswa berseragam putih-merah, putih-biru, hingga putih-abu memenuhi lapangan sekolah. Sebagian mengenakan topi, sebagian lagi menggenggam tangan ayah atau ibunya erat-erat.

Di antara keramaian, saya melihat beberapa anak tersenyum antusias, sementara yang lain masih tampak malu-malu dan enggan melepaskan pegangan orang tuanya.

Suasana itu terasa berbeda dari hari pertama sekolah yang biasa saya temui. Tidak hanya dipenuhi wajah-wajah baru, tetapi juga dipenuhi rasa haru, sekaligus harapan. Hari itu menjadi bagian dari Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah yang dihadiri Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji

Di tengah lapangan, musik senam mulai diperdengarkan. siswa-siswi, hingga guru bergerak mengikuti irama. Anak-anak berkebutuhan khusus tampak menikmati setiap gerakan sederhana yang dipandu para guru. Beberapa masih kikuk, tetapi teman di sampingnya membantu mengikuti gerakan. Sorak kecil dan tawa sesekali terdengar, membuat suasana pagi yang semula penuh ketegangan perlahan berubah menjadi lebih cair.

Tak lama kemudian, rombongan Menteri Wihaji tiba di sekolah. Kedatangannya disambut hangat oleh kepala sekolah, jajaran guru, dan para siswa yang sudah duduk rapi di halaman. Beberapa anak melambaikan tangan, sementara para guru berusaha menjaga agar suasana tetap tertib.

Acara kemudian dibuka dengan penampilan tari dari siswa-siswi SLB Negeri 02 Jakarta. Mengenakan busana daerah yang sederhana, namun rapi, mereka menari dengan penuh percaya diri. Gerakan yang mungkin bagi sebagian orang terlihat sederhana justru menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki cara masing-masing untuk mengekspresikan dirinya. Tepuk tangan panjang dari tamu undangan dan guru menjadi bentuk apresiasi atas usaha mereka.

Dalam sambutannya, Kepala SLB Negeri 02 Jakarta, Dedeh Kurniasih, berterima kasih karna sudah menghadiri undangan dalam rangka menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang secara optimal, sekaligus sebagai tindak lanjut dari gerakan ayah mengambil rapor anak atau GEMAR, dan juga dalam rangka gerakan ayah mengantar anak hari pertama sekolah atau GAMAS. Dedeh juga berharap agar kegiatan ini dapat berdampak positif bagi semuanya, khususnya bagi SLB Negeri 02 Jakarta.

***

Suasana makin khidmat ketika Menteri Kependudukan dan pembangunan keluarga Wihaji, menanyakan kendala apa yang dirasakan oleh para siswa-siswi SLB 02 Jakarta. Wihaji juga membantu dan mengabulkan keinginan beberapa siswa-siswi di SLB 02 Jakarta.

Usai acara seremonial, saya mengikuti rombongan menuju salah satu ruang kelas yang digunakan sebagai kelas parenting untuk para ayah. Di ruangan itu, para orang tua duduk berdiskusi mengenai kendala apa yang dirasakan dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus.

Wihaji saat Mengunjungi SLB Negeri 02 Jakarta

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji saat mengunjungi SLB Negeri 02 Jakarta. FOTO/Putri Az zahra

Perjalanan saya berlanjut ke ruang keterampilan. Di sana, suasananya jauh lebih tenang. Beberapa siswa sedang membatik dengan canting di atas kain putih. Di sudut lain, beberapa siswa tekun menjahit menggunakan mesin jahit.

Saya berhenti cukup lama memperhatikan seorang siswi yang sedang menyelesaikan motif batiknya. Tangannya bergerak perlahan, tetapi penuh ketelitian. Hasil karya dijual dan dipajang di sudut ruangan menunjukkan bahwa keterampilan mereka bukan sekadar latihan di sekolah, melainkan bekal nyata untuk hidup mandiri di masa depan.

Wihaji menjelaskan Gerakan Ayah Mengantar Anak bukan sekadar kegiatan simbolis. Menurutnya, perjalanan menuju sekolah dapat menjadi ruang sederhana untuk membangun komunikasi dan emosional antara ayah dan anak.

"Semangatnya itu supaya ayah sempat ngobrol dengan anak. Jangan sampai nanti anak lebih banyak ngobrol dengan handphone daripada dengan orang tuanya," ujarnya.

Wihaji mengingatkan bahwa ketika orang tua terlalu sibuk, anak akan mencari jawaban dari media sosial atau kecerdasan buatan (AI), padahal yang paling mereka butuhkan adalah kehadiran orang tua.

Pesan dari Wihaji mengetuk kesadaran kita yang paling dalam: di tengah gemuruh kecemasan anak melangkah ke lingkungan baru, gawai secanggih apa pun akan kehilangan kuasanya. Pada hari pertama itu, kehadiran fisik ayah dan ibu adalah satu-satunya jangkar penenang, sebuah sumber rasa aman murni yang tak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi.

Kurniawan, ayah dari siswa bernama Salsabila Zahira, bercerita bahwa persiapan anaknya menuju sekolah sudah dilakukan sejak masa liburan.

"Di rumah tetap kami biasakan belajar, walaupun sedang libur. Biar nanti lebih siap masuk sekolah," katanya.

Baginya, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar mengantar anak dari rumah ke kelas. Selama di jalan, ia selalu mengajak putrinya berbincang tentang hal-hal sederhana.

"Biasanya ngobrol santai saja. Misalnya lihat kereta, mobil, atau apa saja yang dilewati. Yang penting jangan diam-diaman," ujarnya sambil tersenyum.

Wihaji saat Mengunjungi SLB Negeri 02 Jakarta

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji saat mengunjungi SLB Negeri 02 Jakarta. FOTO/Putri Az zahra

Sebelum meninggalkan sekolah, saya kembali melihat halaman yang kini mulai lengang. Anak-anak sudah masuk ke kelas masing-masing, ada beberapa anak anak yang tengah istirahat makan siang. Di pinggir lapangan saya melihat wakil kepala sekolah tengah tersenyum ramah sambil memperhatikan sekitar.

Dewi, Wakil Kepala Sekolah, menjelaskan cara sekolah menjadi tempat yang aman dan menjadi rumah kedua untuk siswa-siswinya.

“Setiap pagi seluruh warga sekolah menyambut siswa dengan senyum, pembiasaan pagi, olahraga ringan, doa bersama, dan berbagai aktivitas menyenangkan agar anak merasa sekolah adalah rumah kedua,” ujarnya seraya tersenyum.

Menurutnya, suasana hangat itu penting untuk membantu anak datang dengan perasaan nyaman, apa pun suasana hati yang mereka bawa dari rumah.

Saat melangkah keluar gerbang SLB Negeri 02 Jakarta, saya menyadari bahwa hari pertama sekolah bukan hanya tentang memasuki ruang kelas baru. Di balik peluk yang dilepas perlahan, tangis yang akhirnya reda, dan percakapan singkat antara ayah dan anak di perjalanan, tersimpan fondasi penting bagi tumbuh kembang mereka.

Hari itu mengajarkan saya bahwa pendidikan tidak dimulai ketika guru membuka buku pelajaran, melainkan sejak keluarga menghadirkan rasa aman, dan sekolah menyambut setiap anak dengan hangat.

Baca juga artikel terkait HARI PERTAMA SEKOLAH atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama