Menuju konten utama

Dari Balik Jeruji Lapas Ciangir, Menetas Harapan via Telur Segar

Di lapas ini, narapidana dilatih secara profesional, dibekali keahlian nyata sebagai modal mandiri untuk kembali ke masyarakat setelah bebas.

Dari Balik Jeruji Lapas Ciangir, Menetas Harapan via Telur Segar
Suasana di Lapas Kelas II B Ciangir, Kamis (9/7/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejak pagi Yusuf sudah berada di kandang ayam petelur. Memberi makan, minum, vitamin, hingga memanen telur dari 5.000 ayam di kandang yang dipercayakan padanya.

Ada dua petugas lainnya yang juga menjalankan pekerjaan serupa dengan Yusuf di jajaran kandang lainnya. Mereka semua adalah warga binaan di Lapas Ciangir.

"Sudah dua bulan ditempatkan di kandang ayam ini," kata Yusuf saat ditemui di sela-sela memberi makan ayam, Kamis (9/7/2026).

Pria 26 tahun itu mengaku sudah lima bulan bertugas di kandang ayam petelur. Sebelumnya, dia bertugas di sawah dan menanam padi selama dua bulan. Yusuf sebetulnya lebih senang ditugaskan merawat ayam karena tidak panas-panasan. Tentunya, jauh lebih senang dibandingkan berada di dalam sel tahanan tertutup.

"Di sini sehari saya manen telur dari lima kandang itu 15.000 butir," ujar Yusuf.

Yusuf adalah seorang narapidana kasus pencurian, yang sebelumnya menghabiskan hari-hari di balik jeruji besi Lapas Tangerang. Kini, ia tengah menghitung hari. Hanya tersisa dua bulan lagi sebelum ia benar-benar melangkah keluar, menyudahi masa hukumannya, dan menjemput kembali kebebasannya yang sempat hilang.

Perilaku baik Yusuf selama mendekam di Lapas Tangerang tidak berujung sia-sia. Hasil asesmen yang memuaskan membuka jalan baginya untuk dipindahkan ke Lapas Kelas II B Ciangir, sebuah tempat yang menjadi jembatan transisi menuju kebebasannya. Di sinilah babak baru hidupnya dimulai.

Di sela-sela tembok pembatas penjara, Yusuf justru menemukan ruang belajar untuk bercocok tanam dan merawat ayam petelur. Sadar, keahlian ini akan menjadi modal berharga saat pulang nanti, Yusuf mendekap erat kesempatan itu dan menekuninya dengan sepenuh hati.

"Jadi selama saya di sini, ya banyak hal yang positif yang bisa saya ambil dari sini, kayak pembelajaran memelihara hewan. Kayak tahu ayam sakit ciri-cirinya kayak gimana. Jadi, harapan saya, saya pulang, saya bisa mengembangkan apa yang saya pelajari di sini dan menerapkan di masyarakat," ucap Yusuf.

Newsplus Napi di Lapas Ciangir

Suasana di Lapas Kelas II B Ciangir, Kamis (9/7/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni

Yusuf juga bisa bekerja di peternakan dekat rumahnya di Bogor nanti setelah menghirup udara bebas--berbekal ilmu ditimbanya di Lapas Ciangir. Terlebih, Yusuf tak hanya saja belajar beternak dan bercocok tanam, tetapi juga bekerja serta mendapatkan gaji.

"Kalau premi saya sebulan itu Rp800 ribu. Termasuk sama dikasih jatah rokok, kopi setiap harinya, kadang dikasih uang jajan juga. Nah sisanya saya tabung untuk kayak bekal pulang," ungkap Yusuf.

Dengan ilmu yang didapatnya selama di Lapas Ciangir, Yusuf mengaku lebih percaya diri menghadapi kehidupan di lingkungan masyarakat pada umumnya nanti. Dia merasa memiliki bekal yang cukup untuk bersaing dengan warga lainnya.

Yusuf mengaku di Lapas Ciangir, lebih merasakan "hidup". Pengurusan pengajuan remisi maupun administrasi lainnya pun juga lebih mudah.

***

Senasib juga dirajut oleh Mukriji. Melangkah jauh dari tanah penahanannya yang lama di Jambi, ia kini melabuhkan sisa masa hukumannya di Lapas Kelas II B Ciangir. Baru sebulan, ia mencicipi atmosfer tempat ini, kalendernya masih menyisakan lima bulan ke depan--buah dari kekhilafannya dalam kasus penyalahgunaan obat-obatan.

Di Ciangir, hari-hari Mukriji tak lagi sunyi. Bersama seorang rekan sesama napi, ia memegang tanggung jawab besar: merawat 80 ekor domba. Dari pagi hingga petang, Mukriji dengan telaten memberi mereka makan hingga lima kali sehari, menyeka kandang agar tetap bersih, bahkan dengan lembut menyusui bayi-bayi domba yang masih rapuh.

Newsplus Napi di Lapas Ciangir

Suasana di Lapas Kelas II B Ciangir, Kamis (9/7/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni

"Saya ngasih makan pagi dua kali, sore dua kali, malam satu kali. Rumputnya ambil sendiri di ujung sana yang kebun. Kalau ada yang sakit juga saya yang rawat, diobatin, kadang juga manggil dokter," tutur Mukriji.

Keinginan bekerja sebagai peternak domba ini telah dipikirkan Mukriji secara matang. Dia mengatakan ini akan menjadi bekalnya saat keluar dari Lapas Ciangir dan kembali ke rumah.

"Di rumah dulu punya juga soalnya domba, tapi engga keurus. Jadi di sini belajar ilmunya biar nanti bisa beternak domba juga. Deket rumah juga ada peternakan ayam petelur," ujar Mukriji.

Mukriji menerangkan, dirinya juga digaji Rp800 per bulan. Dari pendapatan itu dipotong untuk rokok dan ada juga yang ditabungnya sebagai modal melanjutkan hidup ketika sudah menghirup udara segar.

Kalapas Kelas II B Ciangir, Soeistanto Poedji Djatmiko, menerangkan bahwa total ada 50 warga binaan yang berada di tempat itu. Bahkan, ada 20 lagi yang masih dalam proses asesmen pemindahan.

Tanto mengemukakan selain dipekerjakan sebagai peternak dan petani, warga binaan juga ada yang bertugas di laundry. Mereka bertugas mencuci pakaian warga binaan lain yang bertugas beternak dan bertani.

"Itu free tidak dikenakan biaya sama sekali, tapi mereka (warga binaan) kami tetap berikan premi. Karena kalau sudah beternak dan bertani itu tidak punya waktu untuk mencuci baju, paling malam. Ya keringnya jadi susah, makanya ada yang bertugas di laundry juga," tutur Tanto.

Newsplus Napi di Lapas Ciangir

Suasana di Lapas Kelas II B Ciangir, Kamis (9/7/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni

Dirinci Tanto, di Lapas Cingair ini ada peternakan sapi yang dikelola dua warga binaan. Kambing dan domba juga dikelola dua warga binaan.

Untuk ayam dan gudangnya ada 21 warga binaan yang ditugaskan. Sebab, terdapat 31 ribu ayam yang terdiri dari petelur dan ayam kampung.

Kemudian, ada persawahan dengan total luasan lahan 8-10 hektare dengan tanaman yang dihasilkan, yakni timun, padi, kacang panjang, pokcoy, dan tanaman lainnya. Dari total luasan lahan Lapas Ciangir 23 hektare, memang pertanian sangat mendominasi.

"Yang baru itu memang peternakan ayam kampung karena baru satu bulan kami buka. Karena kami menunggu alat tetes dulu. Ini kami adakan alatnya karena untuk mempercepat proses penentasan. Jadi dari tiap kandang yang ada, kami ambil telurnya dan dimasukkan," ungkap Tanto.

Sedangkan untuk pertanian, kata Tanto, dirinya menggandeng Kementerian Pertanian dan kelompok tani. Lapas Ciangir pun mendapatkan bantuan bibit untuk produktivitas lahan yang ada.

Kata Tanto, sejak era kepemimpinan Menteri Imipas Agus Andrianto memang produktivitas Lapas Ciangir sangat jauh berbeda. Peternakan mulai didirikan dan lahan tidur menjadi produktif.

Hasil ternak dan pertanian pun dijual ke masyarakat dengan harga yang bersaing. Ini menjadi bentuk kemandirian pangan di dalam lapas, kata Tanto.

Newsplus Napi di Lapas Ciangir

Suasana di Lapas Kelas II B Ciangir, Kamis (9/7/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni

"Jadi pendapatannya kita bagi dua, ada yang untuk operasional perkembangan kegiatan dan ada juga pengeluaran pakannya berapa, dan lainnya. (Pendapatannya) fluktuatif. Kemarin untuk domba kami jual 25 ekor dan sapi 25 ekor saat Iduladha. Telur 863 kilo sebulan," ujar Tanto.

Tanto berkata Lapas Ciangir ini menjadi media berlatih profesional untuk para warga binaan. Dia pun berharap warga binaan bisa kembali ke tengah masyarakat dengan skill siap kerja.

Baca juga artikel terkait NARAPIDANA atau tulisan lainnya dari Ayu Mumpuni

tirto.id - News Plus
Reporter: Ayu Mumpuni
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama