Menuju konten utama

Danantara Usul Gasifikasi Batu Bara Disubsidi agar Setara LPG

Danantara tekankan pentingnya keterjangkauan harga dan keinginan masyarakat untuk membayar produk DME.

Danantara Usul Gasifikasi Batu Bara Disubsidi agar Setara LPG
Wakil Direktur Utama Pertamina Wiko Migantoro pada RDP Komisi VI DPR RI, 12 Juni 2024. foto/Pertamina
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Senior Director Oil & Gas and Petrochemical Danantara, Wiko Migantoro, mengatakan proyek hilirisasi batu bara menjadi bahan bakar dimetil eter (DME) membutuhkan subsidi agar harganya setara LPG.

"Sekarang LPG juga subsidi, kan? Kalau gambarannya sih, kira-kira nanti sama, memerlukan subsidi juga," ujar Wiko ketika ditemui di Jakarta, seperti dikutip Antara, Rabu (10/12/2025).

Wiko menyampaikan, saat ini Danantara masih menyelesaikan studi kelayakan atau feasibility study (FS) untuk proyek tersebut Hasil dari FS itu nantinya akan dikomunikasikan bersama Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi untuk menuai pola distribusi dan nilai komersial yang baik.

Adapun yang menjadi Ketua Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

"Tentu saja di situ diperlukan banyak dukungan dari pemerintah, ya, agar kelak harga DME ini bisa kurang lebih sama dengan LPG yang sekarang," ucap Wiko.

Wiko juga menekankan pentingnya keterjangkauan harga (affordability) bagi masyarakat, serta keinginan masyarakat untuk membayar (willingness to pay).

Karena itu lah, Danantara menilai pengembangan DME di Indonesia membutuhkan subsidi, sehingga harganya terjangkau bagi masyarakat.

Sebelumnya, Bahlil Lahadalia menyampaikan rencana pemerintah untuk memutuskan lokasi proyek hilirisasi batu bara menjadi DME pada Desember, dan memulai proses pembangunannya pada 2026.

Jika pada Desember pemerintah sudah memutuskan lokasi proyek DME, kata Bahlil, maka proses konstruksinya akan dimulai pada 2026.

Menurut Bahlil, realisasi proyek DME mendesak untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Apalagi, total konsumsi LPG pada 2026 diperkirakan mencapai 10 juta metrik ton (MT), sementara kapasitas produksi nasional di angka 1,3-1,4 juta MT per tahun.

"Maka, mau tidak mau kita harus cari substitusi impor. Caranya apa, ya DME," ujar dia.

Baca juga artikel terkait DANANTARA

tirto.id - Insider
Sumber: Antara
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana