tirto.id - Khutbah Jumat singkat terbaru menjadi salah satu hal penting yang perlu dipersiapkan pada rangkaian sholat Jumat. Tema-tema yang relevan dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari cocok dijadikan materi khutbah Jumat singkat terbaru 2025.
Melihat kondisi masyarakat Indonesia yang terkena dampak bencana banjir di Sumatera, masyarakat membutuhkan penguatan iman, nasihat, dan motivasi spiritual untuk bangkit kembali.
Memang, tema khutbah Jumat tidak harus membahas tentang musibah banjir, namun khutbah Jumat singkat terbaru 2026 sebaiknya memuat isu aktual di Indonesia sehingga pesan yang disampaikan lebih relevan dan menyentuh hati jamaah.
Kumpulan Contoh Judul Khutbah Jumat Singkat Berbagai Tema
Sebagai khatib, memiliki referensi judul untuk khutbah Jumat singkat terbaru NU Online sangat membantu menentukan arah khutbah yang akan disampaikan. NU atau Nahdlatul Ulama sendiri merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia yang di dirikan oleh KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Hasbullah, yang aktif memperjuangkan kepentingan bangsa Indonesia dalam segala aspek kehidupan.
Merujuk pada laman resminya, khutbah Jumat singkat terbaru membahas mengenai akhlak, kehidupan sosial, kesadaran lingkungan, hingga kerusakan alam.
Berikut ini merupakan contoh judul khutbah Jumat singkat terbaru 2025 yang bisa dijadikan referensi:
- Mensyukuri Nikmat dan Menghadapi Musibah dengan Sabar
- Pentingnya Menjaga Lingkungan untuk Mencegah Bencana
- Memperkuat Persatuan Umat di Tengah Ujian
- Keutamaan Sedekah dalam Menghapus Kesulitan
- Mendidik Anak di Era Digital agar Tetap Berakhlak
- Bahaya Ghibah dan Fitnah bagi Kehidupan Sosial
- Menegakkan Shalat sebagai Penyelamat dari Kekacauan
- Menjaga Kebersihan Hati dari Sifat Iri dan Dengki
- Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan Modern
- Rezeki yang Berkah dalam Perspektif Islam
- Pentingnya Taubat dan Istighfar Setiap Hari
- Menyambut Ramadan dengan Hati yang Bersih
- Menghormati Orang Tua sebagai Jalan Keberkahan
- Menjaga Lisan sebagai Wujud Keimanan
- Meningkatkan Ketakwaan Melalui Perbuatan Baik Setiap Hari

Seorang pelajar SMP Al-Hikmah Kota Surabaya, Ahmad Firdaus As Sabil terpilih menjadi khotib dan imam shalat Jumat di Masjid Nurul Faidzin, komplek Kantor Dispendik Kota Surabaya, Jatim, Jumat (23/4/2021). (FOTO ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya)
Kumpulan Contoh Teks Khutbah Singkat Terbaru Berbagai Tema
Mempersiapkan khutbah Jumat singkat terbaru PDF menjadi cara cerdas agar tidak ada kesalahan dalam penyampaiannya. Selain itu, dalam menyampaikan khutbah Jumat singkat terbaru 2026, dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. Pastikan khutbah Jumat singkat terbaru yang disampaikan tidak mengandung unsur SARA agar khutbah Jumat tetap berjalan dengan damai dan lancar.
Berikut ini merupakan contoh teks khutbah Jumat singkat terbaru yang bisa dijadikan referensi:
Contoh Khutbah Jumat 1: Menghadapi Musibah Banjir dengan Iman & Kepedulian
Khutbah PertamaAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Segala puji hanya bagi Allah SWT yang menguasai langit dan bumi, yang menggenggam segala takdir, yang menurunkan ujian dan rahmat sesuai hikmah-Nya. Kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, dan kita bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga beliau, para sahabat, serta umatnya hingga akhir zaman.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pertama-tama, marilah kita memperkuat ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah sebaik-baik bekal dalam menjalani kehidupan dan mengarungi berbagai ujian yang ditetapkan Allah.
Hari ini, saya ingin mengajak kita merenungi musibah yang sedang menimpa sebagian saudara kita di berbagai daerah: banjir, longsor, dan bencana lain yang datang bertubi-tubi. Musibah bukan sekadar peristiwa alam, namun sekaligus pengingat agar kita kembali memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155–156:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ ١
Artinya:
“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali.”
Jamaah yang berbahagia,
Ayat ini menjelaskan dua hal penting: musibah adalah ujian, dan sabar adalah kunci keberhasilan ujian tersebut. Namun sabar tidak berarti diam tanpa usaha. Sabar adalah keteguhan hati, dan ikhtiar adalah bukti keimanan.
Musibah banjir mengajarkan kita untuk lebih peduli kepada lingkungan, kepada tetangga, dan kepada mereka yang tertimpa kesulitan. Banyak saudara kita yang kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan anggota keluarga. Inilah saatnya kita menunjukkan akhlak seorang mukmin: menolong, menguatkan, dan saling meringankan beban.
Rasulullah SAW bersabda:
"الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا"
Artinya:
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, saling menguatkan yang satu dengan yang lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Musibah juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga alam. Sungai yang dipenuhi sampah, penebangan pohon, dan drainase yang buruk sering menjadi bagian dari penyebab banjir. Maka memperbaiki lingkungan adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah.
Khutbah Kedua
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk merenungi kehidupan dan memperbaiki diri.
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,
Marilah kita memperbanyak istighfar. Banyak musibah terjadi akibat kelalaian dan dosa yang kita lakukan, baik secara pribadi maupun kolektif. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa memperbanyak istighfar dapat membuka pintu rezeki, keselamatan, dan ketenangan hidup.
Selain itu, mari kita panjatkan doa agar Allah mengangkat musibah dari negeri ini, menguatkan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana, dan menjadikan kita hamba-hamba yang lebih peka, peduli, serta bertakwa.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوْبَنَا، وَارْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ، وَاحْفَظْ بِلادَنَا وَأَهْلَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم. فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Contoh Khutbah Jumat 2: Menjaga Lisan di Era Media Sosial
Khutbah PertamaAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kepada kita nikmat iman dan Islam, nikmat kesehatan, serta kesempatan untuk hadir melaksanakan salat Jumat pada hari yang penuh berkah ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga beliau, para sahabat, serta pengikutnya hingga akhir zaman.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Saya berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan inilah yang menjadi pelita hidup dan pelindung dari segala bentuk kemaksiatan.
Pada khutbah Jumat kali ini, saya mengangkat tema menjaga lisan di era media sosial. Tema ini penting karena saat ini lisan tidak hanya berupa ucapan verbal, tetapi juga jari-jari kita yang mengetik di media sosial. Apa yang kita tulis memiliki konsekuensi yang sama dengan apa yang kita ucapkan.
Allah SWT memperingatkan kita dalam Surah Qaf ayat 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨
Artinya:
"Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya, melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat."
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap kalimat, komentar, status, atau tulisan yang kita keluarkan – termasuk di media sosial – semuanya dicatat dan dipertanggungjawabkan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Banyak perpecahan, perselisihan, bahkan permusuhan terjadi karena lisan yang tidak dijaga. Betapa sering orang menyebarkan berita bohong, mengumpat, menghina, mencaci, atau menyebar fitnah tanpa mempertimbangkan dampaknya. Padahal, Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam hadis:
"مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ"
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini adalah kaidah emas bagi seorang muslim. Jika yang akan kita ucapkan tidak membawa kebaikan, lebih baik diam. Jika yang akan kita tulis di media sosial dapat melukai hati orang, lebih baik hentikan.
Jamaah rahimakumullah,
Menjaga lisan sama dengan menjaga kehormatan diri. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak masalah rumah tangga, persahabatan, bahkan urusan pekerjaan yang rusak akibat ucapan yang tidak terkontrol.
Di era media sosial, menjaga lisan juga berarti:
- Tidak menyebarkan hoaks
- Tidak asal berkomentar
- Tidak berkata kasar atau sarkas
- Tidak menghina agama, suku, atau pilihan orang lain
Rasulullah SAW bersabda:
"إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ"
“Sungguh, seseorang mengucapkan satu kalimat yang ia anggap sepele, namun kalimat itu menjatuhkannya ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat.” (HR. Tirmidzi)
Semoga kita termasuk golongan orang yang menjaga lisan dan tulisan, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Khutbah Kedua
Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita memperbanyak istighfar dan memohon perlindungan kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk menjaga lisan. Lisan yang terjaga adalah tanda kebersihan hati dan ketinggian akhlak seorang muslim.
Mari kita berdoa:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَقْوَالَنَا، وَنَقِّ قُلُوْبَنَا، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا عَمَّا لَا يُرْضِيْكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ.
Ya Allah, perbaikilah ucapan kami, sucikan hati kami, jagalah lisan kami dari hal-hal yang Engkau benci, dan jadikan kami hamba-hamba-Mu yang saleh.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Contoh Khutbah Jumat 3: Menjaga Hati di Tengah Ujian Hidup
Khutbah PertamaAssalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang telah memberi kita nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan untuk kembali hadir dalam majelis Jumat yang mulia ini. Kita bersyukur, karena masih diberi Allah waktu untuk memperbaiki diri, memperbaiki hati, dan memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam—manusia paling lembut hatinya, paling jernih lisannya, dan paling indah akhlaknya. Semoga kita termasuk umat yang mendapat syafaat beliau di hari akhir. Āmīn.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Di antara karunia terbesar Allah kepada manusia adalah hati. Sebab hati adalah sumber arah hidup seseorang. Bila hati lurus, maka seluruh amal akan lurus. Bila hati keruh, maka seluruh perilaku akan ikut keruh.
Rasulullah bersabda:
"Ketahuilah bahwa dalam diri manusia ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Bila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itu adalah hati."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa kehidupan seseorang ditentukan oleh bagaimana ia menjaga hatinya.
Karena itu, ketika Allah menguji kita—entah dengan kesulitan ekonomi, tekanan pekerjaan, konflik rumah tangga, atau musibah bencana—sebenarnya Allah sedang menguji keteguhan hati kita.
Apakah hati kita tetap sabar?
Tetap percaya pada janji-Nya?
Atau justru mudah gelisah dan berprasangka buruk?
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَࣖ
Artinya:
"Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”
Ayat ini bukan hanya penghibur, tetapi penguat bahwa Allah mengetahui batas kekuatan hati kita. Ujian bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Jamaah sekalian,
Hati bisa menjadi kuat bila kita menjaganya melalui tiga hal:
1. Mengingat Allah dalam kesibukan apa pun
Dzikir menjaga hati tetap hidup. Di tengah banyaknya masalah, dzikir menjadi jangkar yang menenangkan jiwa.
2. Menjaga lisan dari menyakiti
Ucapan keras, komentar negatif, atau mudah marah adalah tanda hati sedang kotor. Lisan adalah cermin hati.
3. Memaafkan lebih cepat
Semakin ringan kita memaafkan, semakin lapang hati kita. Orang yang hatinya bersih akan mudah memberi maaf karena ia yakin Allah juga akan memaafkannya.
Jamaah sekalian,
Bila selama ini hati kita mudah marah, mudah tersinggung, mudah iri, mudah curiga—itulah tanda kita perlu kembali kepada Allah. Memperbaiki hati bukan pekerjaan sehari, tetapi proses seumur hidup. Pelan-pelan, setiap hari, kita bersihkan hati dengan ibadah, dengan akhlak baik, dan dengan selalu ingat bahwa hidup ini sementara.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang hatinya lembut, lapang, dan mudah menerima kebenaran.
Aqūlu qawli hādzā, wa astaghfirullāh li walakum.
Fastaghfirūh, innahu huwal-ghafūrur-rahīm.
Khutbah Kedua
Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah. Mari kita terus memperbaiki hati kita dan memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan dalam menghadapi segala ujian.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam.
Jamaah yang berbahagia,
Pada khutbah kedua ini, marilah kita memperbanyak doa agar Allah melembutkan hati kita, memberikan kesabaran yang luas, dan menjauhkan kita dari penyakit hati yang merusak amal.
Ya Allah,
Bersihkanlah hati kami sebagaimana Engkau membersihkan pakaian dari kotoran.
Jadikanlah hati kami hati yang tenang, hati yang ridha, hati yang dekat kepada-Mu.
Jauhkan kami dari sifat iri, dengki, sombong, dan marah yang tidak pada tempatnya.
Kuatkan kami menghadapi ujian hidup dan jadikan semua ujian itu sebagai sebab bertambahnya iman kami.
Ya Allah,
Limpahkanlah rezeki yang halal, jaga keluarga kami, dan selamatkan negeri kami dari bencana serta perpecahan.
Rabbana ātinā fid-dunyā hasanah, wa fil-ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār.
Wa shallallāhu ‘alā nabiyyinā Muhammad, walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.
Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Contoh Khutbah Jumat 4: Syukur & Qana’ah di Tengah Tekanan Hidup Modern
Khutbah PertamaAssalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhānahu wa Ta‘ālā. Dialah yang memberikan nikmat yang tak pernah berhenti mengalir: nikmat sehat, nikmat iman, nikmat keluarga, nikmat waktu, dan nikmat kesempatan. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan meminta ampunan-Nya.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam—yang hidupnya penuh kesederhanaan namun dipenuhi rasa syukur dan kebahagiaan yang luas.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Kita hidup di zaman yang penuh tekanan. Beberapa jamaah mungkin sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Ada yang sedang terhimpit oleh kebutuhan hidup. Ada pula yang sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain melalui media sosial: melihat orang lain lebih kaya, lebih sukses, lebih bahagia. Semua ini sering membuat hati kita merasa kurang, gelisah, dan tidak tenang.
Padahal Allah sudah memberi kita kunci kebahagiaan itu sendiri dalam Surah Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya:
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”
Ayat ini bukan sekadar janji, tetapi rumus hidup yang patut kita jadikan pegangan. Allah menegaskan bahwa penambahan nikmat bukan berawal dari rezeki, tetapi dari syukur.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullāh,
Rasulullah juga mengajarkan prinsip qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Beliau bersabda:
"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan." (HR. Muslim)
Qana’ah bukan berarti tidak mau bekerja keras, bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai ukuran nilai diri.
Bekerja keras itu wajib. Mengejar rezeki itu sunnah yang dianjurkan. Namun hati yang gelisah dan tidak pernah cukup—itulah penyakit yang menghancurkan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada beberapa cara agar hati lebih bersyukur dan qana’ah:
1. Lihatlah yang lebih sedikit, bukan yang lebih banyak
Rasulullah bersabda agar kita melihat orang yang berada di bawah kita, bukan di atas kita, agar kita tidak meremehkan nikmat Allah.
2. Biasakan mengucap “Alhamdulillah” dalam hal kecil
Mulai dari dapat makan, dapat tidur, punya keluarga, sampai sekadar diberi nafas pagi hari.
3. Jauhi kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain
Media sosial hanya menampilkan “yang indah-indah”, bukan realita.
Syukur hilang ketika kita membandingkan diri dengan kehidupan yang hanya terlihat dari layar.
4. Sadari bahwa ujian adalah bagian dari cinta Allah
Kita sulit bersyukur saat diuji. Namun justru ujian itu adalah jembatan menuju kedewasaan iman.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Syukur itu menenangkan. Qana’ah itu menguatkan.
Dua sifat ini adalah kunci agar hidup kita ringan meski dunia terasa berat. Semoga Allah melembutkan hati kita untuk selalu bersyukur dalam keadaan apa pun.
Aqūlu qawli hādzā, wa astaghfirullāh li walakum.
Fastaghfirūh, innahu huwal-ghafūrur-rahīm.
Khutbah Kedua
Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada nikmat iman dan Islam. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam.
Jamaah yang berbahagia,
Marilah di khutbah kedua ini kita perkuat doa agar Allah menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur dan memiliki hati yang qana’ah.
Ya Allah,
Jadikanlah kami hamba-Mu yang selalu bersyukur atas nikmat-Mu.
Lapangkanlah hati kami agar merasa cukup dengan rezeki yang Engkau tetapkan.
Jauhkan kami dari iri, tamak, dan rasa kurang yang melelahkan hati.
Ya Allah,
Berikanlah ketenangan kepada keluarga kami, keberkahan pada pekerjaan kami, dan kesehatan bagi seluruh anggota tubuh kami.
Teguhkan iman kami dalam keadaan lapang maupun sempit.
Rabbana ātinā fid-dunyā hasanah, wa fil-ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār.
Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Demikian kumpulan khutbah Jumat singkat terbaru yang dapat digunakan oleh para khatib sebagai bahan dakwah. Semoga daftar judul, dan contoh teks khutbah Jumat singkat terbaru di atas bermanfaat bagi yang membutuhkan.
Silakan baca juga artikel menarik lainnya tentang materi dakwah dan contoh teks khutbah terbaru melalui tautan di bawah ini:
Penulis: Robiatul Kamelia
Editor: Robiatul Kamelia & Lucia Dianawuri
Masuk tirto.id






































