Menuju konten utama

Cherrypop 2025: Titik Temu Ide, Musik, & Kampanye Sosial

Cherrypop tak hanya menawarkan pengalaman musik, tapi juga memosisikan panggung sebagai media kampanye sosial.

Cherrypop 2025: Titik Temu Ide, Musik, & Kampanye Sosial
Chili Stage, salah satu stage tambahan baru di festival Cherrypop 2025 dengan kapasitas maksimal 100 orang. tirto.id/ Abdul Haris
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menjelang senja, Lapangan Kenari di Umbulharjo, Yogyakarta, berubah menjadi lautan manusia. Ribuan orang datang dari berbagai penjuru kota, bahkan luar daerah, mengenakan pakaian khas yang mereka sebut sebagai “outfit skena”. Mereka semua berkumpul di Cherrypop 2025.

Bagi saya, festival ini memang sudah pantas dijuluki “Lebaran Skena”. Pasalnya, ia bukan sekadar konser musik, tapi telah menjelma menjadi arena besar yang menyatukan ragam komunitas kreatif dalam satu ruang perayaann.

Tahun ini, Cherrypop mengusung tema besar bertajuk “Gelanggang Musik”. Tema ini tentu tak dipilih sembarangan. Itu terinspirasi dari Pernyataan Gelanggang, sebuah manifesto yang pernah dideklarasikan oleh para seniman muda Indonesia Pascakemerdekaan.

Dalam konteks Cherrypop, gelanggang dimaknai sebagai ruang pertemuan antara musik, ide, dan solidaritas antarkomunitas. Musik bukan hanya konsumsi hiburan, tetapi cara hidup dan alat kampanye untuk membicarakan isu-isu besar secara kolektif.

Begitu masuk ke area festival, pengunjung langsung disuguhi gegap gempita Nababa Stage yang diisi oleh grup reggae asal Bandung, The Paps. Membawakan musik dengan ritme groove yang menghentak, The Paps menggoyang tubuh dan menggugah hati penontonnya.

Cherrypop 2025

Para penonton tampak asyik menononton penampilan The Paps, grup reggea asal Bandung di Lapangan Kenari, pada Sabtu, (9/8/2025). tirto.id/ Abdul Haris

Di sisi lainnya, penonton pun bersorak dan bergoyang menyambut aksi The Paps. Mereka terhanyut dalam atmosfer yang hangat, tapi tetap enerjik.

Saya kemudian mengayunkan langkah ke arah timur dan menemukan sebuah panggung yang jauh lebih kecil, tapi justru terasa lebih dekat. Itulah Chili Stage.

Berbeda dari panggung lainnya, Chili Stage dirancang sebagai ruang intim yang hanya mampu menampung sekitar 100 orang. Namun, justru dari keterbatasan itu muncul kedekatan emosional antara musisi dan penonton yang nyaris tanpa jarak.

Saat saya masuk, sebuah band lokal dengan nuansa darkwave dan post-punk era 1980-an sedang tampil. Irama yang mentah dan atmosfer yang pekat berhasil mengguncang isi dada saya. Di sini, musik terasa lebih personal, bukan sekadar pertunjukan.

Bukan Sekedar Musik

Langkah saya terus menapak dari panggung-panggung musik menuju Cherry District. Jujursaja, saya memang kagum pada Cherrypop 2025. Pasalnya, ia bukan hanya tentang panggung dan suara.

Ada satu area bernama Cherry District yang menjadi ruang eksplorasi lain bagi pengunjung. Di sana, saya menemukan pameran arsip musik oleh Lokananta, stand rilisan fisik dari Jogja Record Store Club, dan tentu saja berbagai boothmerchandise resmi Cherrypop.

Di tengah hiruk pikuk pasar kreatif ini, saya bertemu dengan Ndao, seorang fotografer wanita asal Surabaya yang sudah dua kali hadir di Cherrypop.

“Sepertinya lebih ramai dibanding tahun kemarin. Dua hari tuh kayak masih kurang. Harusnya, tiga hari biar bisa lebih banyak explore,” tutur Ndao kepada saya.

Malam itu, Ndao tampak gembira saat menunggu band kesukaannya, Shaggydog, tampil pukul 20.20 WIB. Meski harus menanti, dia tetap antusias. Musik, baginya, adalah momen perjumpaan, bukan sekadar pertunjukan.

Tak jauh dari sana, saya melihat sebuah keluarga kecil tengah bersantai. Saya lalu berkenalan dengan Amri (41) yang datang bersama istri dan anak balitanya. Amri mengatakan ini pertama kalinya mereka hadir di Cherrypop. Dia menganguk pelan menjawab lontaran pertanyaan apakah festival ini ramah anak.

“Ternyata ramah anak juga ya. Ada booth khusus anak, jadi si kecil bisa nyaman,” katanya sambil menggendong sang buah hati.

Namun, Amri juga memberikan masukan soal akses masuk yang menurutnya bisa dibuat lebih ramah keluarga.

Sementara itu, Alwani (23), pengunjung asal Magelang yang datang seorang diri, punya kesan yang sedikit berbeda.

Venue-nya agak sempit sih, tapi line up-nya keren banget. Tahun depan, saya harap lebih banyak band lokal Jogja yang tampil. Misalnya, Orkes Pensil Alis. Mereka tuh lebih sering main di Jakarta daripada di sini,” kata Alwani.

Penonton Cherrypop 2025

Penonton Cherrypop 2025 yang berdiri di barisan paling depan stage perform penampil pada Minggu, (10/8/2025). tirto.id/ Abdul Haris

Ruang Kampanye Beragam Isu

Cherrypop tidak hanya menawarkan pengalaman musik, tapi juga memosisikan panggung sebagai media kampanye sosial. Hal ini terlihat jelas saat saya bertemu dengan Sirin Farid Stevy, seniman visual dan vokalis band FSTVLST, di belakang panggung.

Farid menjelaskan bagaimana isu pengelolaan sampah menjadi perhatian utama mereka tahun ini. Dahulu, FSTVLST sempat mengajak penonton melempar sampah ke panggung sebagai cara untuk sadar terhadap sampah. Kini, mereka mengubah pendekatan itu karena dapat merusak alat-alat mahal yang ada di atas panggung.

“Sekarang, kami ajak penonton buang sampah ke trash bag. Supaya lebih aman, lebih efektif, dan tetap menyampaikan pesan,” katanya.

Tak hanya isu lingkungan, FSTVLST juga pernah mengangkat tema ruang aman untuk perempuan lewat kampanye “Dara Setara”. Farid menegaskan bahwa mereka akan terus merespons isu apa pun yang relevan dengan ruang pertunjukan.

“Besok, bisa jadi soal copet atau apa pun. Yang penting, semua harus kita hadapi bersama. Ini ruang kolektif, tanggung jawab bersama,” tutur Farid.

Malam semakin larut ketika saya melipir ke area belakang panggung dan bertemu Arsita Pinandita, Creative Director Cherrypop 2025. Wajahnya lelah, tapi matanya berbinar.

“Kalau boleh jujur, Jogja itu enggak punya venue yang ideal buat festival sebesar ini,” ungkapnya.

Namun, justru di tengah keterbatasan itulah Cherrypop tumbuh. Tahun ini adalah yang paling besar dalam sejarah festival ini, baik dari jumlah penampil, pengunjung, hingga wacana yang diusung.

“Festival itu bukan cuma soal musik. Ada nilai kebersamaan, ekonomi, perubahan sosial. Musik cuma jembatan dari semua itu,” terangnya.

Arsita percaya bahwa festival bisa menjadi katalis bagi banyak perubahan. Dengan menghadirkan ruang yang inklusif dan terbuka, Cherrypop membuktikan bahwa musik bisa menjembatani banyak kepentingan dari seni hingga isu sosial.

Cherrypop 2025

Creative Director Cherrypop 2025, Arsita Pinandita saat diwawancarai kontributor tirto.id pada Sabtu, (9/8/2025). tirto.id/ Abdul Haris

Ciamiknya Visual, Secercah Harapan

Cherrypop 2025 juga memanjakan mata saya berkat kolaborasi Arsita dengan seniman visual bernama Ardhira Putra yang berhasil menghidupkan atmosfer estetika festival lewat karya-karya visual yang kontekstual dan penuh warna. Di setiap sudut, estetika menjadi bagian dari narasi festival, bukan sekadar dekorasi.

Menjelang pulang setelah berkeliling, saya tak sengaja bertemu dengan sosok Surono (37), penjual aksesoris band, seperti Feast dan Hindia. Dia sudah berjualan sejak 2022 dan menganggap festival seperti Cherrypop sebagai ladang penghidupan.

“Kalau Feast tampil, bisa dapat 7-8 juta sebulan. Karena, yang jual barang asli langsung itu jarang,” ujarnya sambil merapikan dagangannya.

Surono berharap agar festival musik seperti ini terus berkembang, bukan hanya untuk para musisi, tapi juga untuk para pelaku ekonomi kreatif lainnya.

Ketika malam tiba, lampu-lampu panggung menyala dan ribuan suara penonton bersatu dalam sorak dan nyanyian. Tapi, Cherrypop bukan hanya tentang riuhnya suara, dentuman bass, atau visual yang mencolok. Ia adalah sebuah gelanggang pertemuan ide, semangat, dan harapan.

Dari musisi hingga penonton, dari anak kecil hingga pegiat sosial, dari panggung hingga pasar kecil, semuanya menyatu dalam satu ruang untuk merayakan keberagaman dan kebersamaan.

Cherrypop 2025 bukan hanya festival musik. Ia adalah narasi kolektif tentang hidup, seni, dan keberanian untuk terus menyuarakan sesuatu. Dan di tengah keramaian yang perlahan memudar, saya menyadari satu hal bahwa makna gelanggang ini bukan sekadar tempat, tapi peristiwa yang akan terus hidup di ingatan.

Baca juga artikel terkait FESTIVAL MUSIK atau tulisan lainnya dari Abdul Haris

tirto.id - News Plus
Kontributor: Abdul Haris
Penulis: Abdul Haris
Editor: Fadrik Aziz Firdausi