Menuju konten utama

Cegah Longsor Susulan di Tebet, SDA Pasang Cerucuk Kayu Dolken

Pemasangan cerucuk guna memperkuat struktur tanah dan mencegah longsor susulan akibat abrasi Kali Ciliwung.

Cegah Longsor Susulan di Tebet, SDA Pasang Cerucuk Kayu Dolken
Petugas OP Sumber Daya Air melakukan pemasangan tanggul menggunakan kayu dolken di lokasi rumah longsor, Jalan J, RT 06/RW 10, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Senin, (9/3/2026). FOTO/Hanang Septioyudho
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan melakukan penanganan darurat dengan memasang cerucuk kayu dolken di bantaran Kali Ciliwung, Kelurahan Kebon Baru, Tebet, Senin (9/3/2026). Langkah ini diambil guna memperkuat struktur tanah dan mencegah longsor susulan setelah enam unit rumah kontrakan di kawasan tersebut ambruk akibat abrasi sungai pada Jumat (6/3/2026) lalu.

Pantauan Tirto di lokasi, petugas operasi dan pemeliharaan suku Dinas SDA Jakarta Selatan melakukan penanganan darurat di lokasi rumah longsor yang berada di kawasan permukiman bantaran Kali Ciliwung, Jalan J, RT 06, RW 10, Kelurahan Kebon Baru. Para petugas tampak sibuk memancangkan kayu dolken sebagai cerucuk penahan beban tanah.

Joni (46), Petugas Operasi dan Pemeliharaan SDA Jakarta, menjelaskan bahwa pengerjaan hari ini difokuskan pada penguatan tebing sungai sesuai dengan instruksi yang diterima timnya.

"Untuk hari ini kita hanya dapat instruksi pasang tanggul dolken sih. Rencananya akan dipasang sampai di jalan perintis, masih deket sini juga," ujar Joni saat diwawancarai di lokasi, Senin.

Menurut Joni, pemilihan kayu dolken bukan tanpa alasan. Kayu jenis ini memiliki karakteristik yang sangat cocok untuk area basah dan berlumpur seperti bantaran kali karena kekuatannya yang bertambah seiring waktu jika terendam.

"Kayu ini kalau terkena air akan semakin kuat, bahkan kalau sudah lama bakalan susah ditembus paku. Kalau di daerah sanaan lagi [Jalan Perintis ke arah sana] memang sudah di tanggul beton, mungkin waktu itu di sini masih banyak rumah panggung kan," tambah Joni menjelaskan mengapa titik tersebut baru menggunakan material kayu.

Petugas SDA Pasang Tanggul Kayu Dolken

Siti Halimah (75), warga bantaran Kali Ciliwung, Kebon Baru, saat diwawancarai oleh reporter tirto.id, Senin, (9/3/2026). FOTO/Hanang Septioyudho

Kekhawatiran yang mendalam juga dirasakan oleh Siti Halimah (75), seorang warga yang sudah lama tinggal di kawasan bantaran tersebut. Siti mengaku telah menyadari tanda tanda pergerakan tanah sejak lama hingga ia memutuskan untuk berpindah posisi tempat tinggal agar lebih aman.

"Saya sebelumnya juga tinggal di deretan sini. Tapi kemudian pindah agak ke dalam, masih bedeng juga, karena tanahnya memang sudah kelihatan miring," tutur Siti Halimah memberikan kesaksian mengenai kondisi lahan di sana.

Siti mengungkapkan rasa takutnya saat melihat air Kali Ciliwung meluap pada Minggu (8/0/2026) kemarin. Baginya, setiap kenaikan debit air sungai adalah ancaman nyata bagi keselamatan huniannya yang tersisa. Meskipun demikian, ia sedikit merasa lega dengan adanya langkah antisipasi dari pemerintah.

"Waktu banjir hari Minggu kemarin sempat takut juga, tapi airnya tidak sampai naik ke atas, masih di daerah kali. Ya mudah-mudahan tanggul ini bisa menahan supaya tidak longsor lagi," harap Siti.

Hingga Senin sore, petugas Satgas SDA Kecamatan Tebet masih terus berupaya menyelesaikan pemasangan cerucuk di titik titik krusial guna memastikan keamanan warga di sepanjang bantaran Kali Ciliwung tersebut. Langkah darurat ini diharapkan mampu menahan laju kerusakan lahan sebelum adanya pengerjaan permanen lebih lanjut.

============

Hanang Septioyudho berkontribusi dalam tulisan ini.

Baca juga artikel terkait TANAH LONGSOR atau tulisan lainnya dari Intern tirto

tirto.id - Flash News
Reporter: Intern tirto
Penulis: Intern tirto