tirto.id - Ancaman bencana terus membayangi akses transportasi dan lahan pertanian di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Lubang raksasa yang dipicu longsoran terus meluas dan kini hanya berjarak sekitar 10 meter dari jalan alternatif yang selama ini menjadi urat nadi penghubung antarwilayah.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aceh Tengah, Mustafa Kamal, mengungkapkan bahwa jarak lubang dengan badan jalan semakin kritis berdasarkan laporan terakhir yang diterimanya.
"Menurut laporan 3 hari lalu, tinggal 10 meter lagi," ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Jalan alternatif tersebut menghubungkan Simpang Balik di Kabupaten Bener Meriah dengan Desa Blang Mancung di Aceh Tengah. Jalur tersebut dibuka kembali beberapa bulan lalu setelah jalan utama putus, sehingga menjadi akses vital bagi mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian.
Kawasan terdampak dikenal sebagai sentra produksi hortikultura dan palawija. Komoditas unggulan seperti cabai, tomat, kol, bawang merah, hingga berbagai tanaman palawija lainnya dihasilkan dari wilayah ini. Namun, longsoran yang terus bergerak telah menyebabkan sejumlah kebun warga hilang.
Di tengah kondisi rawan, sebagian petani masih bertahan mengelola lahan mereka dengan mematuhi batas aman yang telah ditetapkan pemerintah daerah.
"Petani masih beraktivitas, tapi di batas aman," katanya.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah mengimbau masyarakat untuk menggunakan jalur alternatif lain demi menghindari risiko. Batas aman juga telah dipasang di sekitar lokasi sembari menunggu penanganan teknis dari Kementerian Pekerjaan Umum.
Selain itu, petani cabai di sekitar titik longsor diminta meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas.
Data terbaru dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menunjukkan perluasan signifikan area terdampak. Berdasarkan surat resmi Dinas ESDM Aceh Nomor 500.10.5.3/162 tertanggal 27 Januari 2026, luas gerakan tanah yang pada 2022 tercatat sekitar 28.000 meter persegi kini telah berkembang menjadi 30.172 meter persegi.
Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik, menjelaskan faktor penyebab utama fenomena tersebut oleh Kombinasi batuan vulkanik (tufa dan pasir) yang rapuh, diperparah oleh gerusan aliran air bawah tanah
“lubang raksasa tersebut terjadi dipicu oleh Kombinasi batuan vulkanik (tufa dan pasir) yang rapuh, diperparah oleh gerusan aliran air bawah tanah dan kemiringan tebing yang curam, menjadi pemicu utama ketidakstabilan lereng,” kata Taufik.
Dengan jarak yang semakin menipis ke badan jalan, pemerintah daerah kini berpacu dengan waktu untuk mencegah dampak yang lebih luas, baik terhadap akses transportasi maupun keberlangsungan ekonomi masyarakat setempat.
=============
Kontributor: Nadim
Penulis: Nadim
Masuk tirto.id
































