Demo Masak Tanpa Minyak PDIP

Cara PDIP Kembalikan Citra Partai Wong Cilik Imbas Ucapan Megawati

Reporter: Andrian Pratama Taher - 29 Mar 2022 07:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Aksi PDIP lewat demo masak tanpa minyak sebagai upaya memperbaiki citra publik akibat pernyataan Megawati.
tirto.id - Sekolah Partai DPP PDI Perjuangan di daerah Lenteng Agung, Jakarta, Senin (28/3/2022) ramai. Sejumlah kader hadir untuk mengikuti acara "Demo Memasak Tanpa Minyak" di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Dalam tayangan yang diunggah di Youtube PDI Perjuangan, partai dengan logo moncong putih itu menggelar acara demo masak tanpa menggunakan minyak goreng. Beberapa kader mengenalkan cara untuk memasak tanpa menggunakan minyak goreng.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, kegiatan masak di DPP PDIP hari ini merupakan arahan dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Menurut Hasto, kegiatan masak tanpa minyak goreng sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan rakyat.

"Untuk kesekian kalinya PDIP menyelenggarakan suatu kegiatan yang nampaknya sederhana tetapi begitu penting karena berkaitan dengan perut rakyat, berkaitan dengan bagaimana Indonesia yang begitu kaya dengan sumber-sumber makanan, dengan bumbu-bumbuan yang luar yang seharusnya membuat kita berdaulat di bidang pangan," kata Hasto saat memberikan sambutan, Senin (28/3/2022)

Hasto lantas mengklaim bahwa gerakan demo masakan tanpa minyak goreng karena Asosiasi Chef Indonesia (Indonesia Chef Association) juga menggelorakan semangat untuk sumber makanan yang diolah tanpa digoreng.

Saat memberikan sambutan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pun menyinggung pernyataan dia tentang memasak tanpa harus menggunakan minyak goreng.

"Ketika saya hanya dibilang seorang pemimpin yang katanya mengatakan untuk wong cilik, tapi seperti tidak empati terhadap masalah minyak, bukannya demikian! Karena saya ingin menerangkan kembali bahwa makanan itu harus bermanfaat bagi siapa. Bagi kita dan keturunan kita," kata Presiden RI kelima itu.

Megawati menuturkan, alasan narasi itu dilontarkan karena bingung para ibu-ibu sampai antre untuk dapat minyak goreng. Ia justru bertanya bagaimana nasib anak-anaknya.

"Saya tuh berpikir begini, ibu-ibu tuh antre sampai katanya ada yang dari setelah salat subuh terus sampai nunggu, terus kan saya bertanya, nanti kan pas anak-anaknya pulang sekolah, apakah ibunya ini sudah masak? Itu sebenarnya pertanyaan besar saya sebenarnya," kata Megawati.

"Oleh sebab itulah saya mengintrodusir, nanti ada lagi yang bilang oh Bu Mega bilang ndak boleh memasak dengan minyak goreng, No! Pikiran kita kan mesti cerdas dan jangan dipotong-potong kalau saya ngomong, yang sekarang seneng kan selalu mana yang menjatuhkan itu yang dibuat, dipotong," tutur Megawati.


Upaya PDIP Kembali jadi Partai Wong Cilik


Peneliti politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo Jati memandang langkah PDIP mengadakan lomba memasak tanpa minyak untuk membuktikan dua poin. Pertama, membuktikan PDIP tetap berstatus partai wong cilik dengan menawarkan solusi kelangkaan minyak. Poin kedua, upaya PDIP tidak terseret arus polarisasi politik yang membuat partai banteng moncong putih semakin dikritik akibat kebijakan.

"Karena pernyataan Bu Mega kemarin banyak menimbulkan polemik dan perdebatan publik sehingga dikapitalisasi secara politis. Oleh karena itulah, penting kiranya PDIP meluruskan maksud dan tujuan ketua umumnya dalam aksi nyata," kata Wasisto kepada Tirto.

Wasisto mengatakan, PDIP berupaya menjadikan kebijakan pemerintahan Jokowi segaris dengan kebijakan PDIP. Partai ini tidak ingin kejadian korupsi bantuan sosial pandemi era Juliari Batubara terulang hingga mengganggu citra partai.

Pesan demo masak, kata Wasisto, dengan lokasi sekolah partai DPP PDIP juga sebagai simbol politik. PDIP ingin mengajarkan kepada publik bahwa masyarakat tidak perlu tergantung minyak.

Di sisi lain, sentimen publik terhadap pernyataan bu Mega menguntungkan bagi oposisi. Partai lain bisa menggunakan ujaran Mega sebagai alat kampanye hitam sebelum Pemilu 2024 sehingga mempengaruhi preferensi pemilih.

Aksi PDIP juga menandakan partai ini ingin memisahkan marwah PDIP sebagai partai dengan pemerintahan Jokowi demi kembali ke status PDIP sebagai partai wong cilik.

"Sudah saatnya PDIP ini kembali ke akar idealisme dan akar rumputnya meskipun masih dalam kekuasaan. Karena tidak ada jaminan bahwa PDIP akan berkuasa pasca periode Jokowi," kata Wasisto.

Sementara itu, analis politik dari Populi Center Usep S. Achyar mengakui bahwa aksi PDIP tidak dilepaskan dengan ujaran Megawati tentang antrean minyak goreng. Ia memandang kegiatan tersebut tidak akan mempengaruhi elektabilitas partai.

"Sebenarnya kalau bahwa ini sampai pada menurunkan elektabilitas mungkin kecil. Mungkin di orang yang atau di kelompok pemilih yang mungkin swing voters, tapi kebanyakan loyal voters di PDIP itu. Tidak banyak menurunkan elektabilitas sampai hari ini. Saya kira juga masih jauh pada Pemilu 2024," kata Usep kepada Tirto, Senin (28/3/2022).

Usep justru menilai pernyataan Megawati soal tidak perlu menggoreng tidak masalah karena memasak tanpa menggoreng bisa dilakukan. Namun, momentum pernyataan Mega justru berdampak buruk karena momen publik sedang kebingungan akibat krisis migor. Publik justru memandang langkah Megawati sebagai pernyataan menyakiti publik.

Ia justru melihat, PDIP juga salah tangkap. PDIP malah melakukan demo masak untuk membuktikan klaim Megawati.

"Kan itu yang diharapkan sesungguhnya oleh masyarakat itu, ada keberpihakan yang nyata bukan hanya menyarankan rakyat kecil saja yang kemudian harus 'menanggung akibatnya' atau menderita. Itu yang diharapkan walau dari sisi pernyataan kalau di zaman normal sebenarnya tidak ada yang salah juga, cuma ketika waktunya tidak tepat," kata Usep.

Hal serupa juga disampaikan analis politik dari Voxpol Center Research & Consulting Pangi Syarwi Chaniago juga memandang aksi PDIP lewat demo masak tanpa minyak sebagai upaya memperbaiki citra publik akibat pernyataan Mega. Ia menilai, PDIP tengah memitigasi dampak narasi negatif yang muncul dari pernyataan Mega tentang minyak goreng.

"Berhasil atau tidaknya itu nanti tapi kan ini upaya untuk mencoba meminimalisir potensi sentimen yang dalam tanda petik negatif, tidak menguntungkan bagi PDIP, tidak menguntungkan bagi Bu Megawati di dalam kondisi masyarakat yang waktu itu lagi sulit, memang lagi susah-susahnya," tutur Pangi kepada Tirto.

Pangi justru memandang aksi PDIP juga sebagai bentuk serba salah. Ia beralasan, PDIP jadi terkesan mengajari dan mendikte masyarakat bahwa ada cara memasak selain menggunakan minyak goreng. Padahal, PDIP juga memahami bahwa polemik utama adalah kelangkaan minyak dan harga minyak yang tinggi.

"Dalam bahasa sederhana mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang sebetulnya secara tidak langsung itu merugikan PDIP dan Bu Mega, tapi pengurus dan kader-kader di PDIP gak mungkin menyudutkan Ibu Megawati," kata Pangi.

"Artinya dalam bahasa sederhana saya itu adalah membantu menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Bu Megawati sendiri," tutur Pangi.

Pangi memandang dampak dari pernyataan Megawati tetap akan ada meski sudah berupaya dimitigasi. Ia mengingatkan bahwa publik tetap akan mengingat sikap Megawati walau mungkin memaafkan di masa depan.

"Masyarakat memaafkan iya, tetapi melupakan belum tentu. Ibarat orang nancapkan paku di pohon, ya tetap bekasnya ada," kata Pangi.


Baca juga artikel terkait PDIP atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Maya Saputri

DarkLight