tirto.id - Saya dan istri sama-sama menyukai manga (komik Jepang). Kami biasa berdebat soal cocok tidaknya Boku no Hero Academia dibaca remaja, mengingat tokoh-tokohnya baru berusia 15-16 tahun, tetapi punya back story yang cukup kelam. Di lain waktu, setiap kali sebuah manga diadaptasi ke dalam versi live action, obrolan kami bisa lebih panjang. Misalnya, soal karakter Sanosuke Sagara dalam film Samurai X terkesan jadi "hanya mengandalkan otot" dibanding versi manganya. Juga, betapa seriusnya karakter Monkey D. Garp di serial One Piece Netflix.
Saat rekan kerja di kantor mendengar kebiasaan ini, sebagian besar berkata, "Betapa beruntungnya punya pasangan yang punya ketertarikan sama." Mereka melihatnya sebagai sebuah anugerah. Takdir seakan mempertemukan dua kepala dengan hobi serupa.
Tapi, apakah benar ini hanya murni keberuntungan? Apakah ada penjelasan ilmiah soal mengapa kita dipertemukan dengan orang-orang yang kita cari?
Secara intuitif, kita sering merasa bahwa pertemuan dengan orang-orang satu frekuensi adalah kebetulan semesta yang manis. Namun, jika ditelaah lebih dalam, pola pergaulan kita sebenarnya tidak sepenuhnya acak.
Apa yang tampak sebagai kebetulan dalam pengalaman kecil seperti ini ternyata selaras dengan pola yang lebih luas dalam psikologi sosial. Ada kecenderungan yang membuat kita lebih mudah tertarik pada orang-orang dengan "aroma" yang terasa akrab.
Gagasan ini sudah lama disinggung dalam beragam tradisi. Misalnya, umat Islam pasti familiar dengan hadis riwayat Abu Musa, bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, "Perumpamaan teman bergaul yang saleh dan teman bergaul yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi itu, entah dia akan memberimu atau engkau akan membeli darinya, paling tidak engkau bisa mendapatkan aroma wangi darinya..."
Hadis ini sering dipahami sebagai anjuran moral untuk memilih lingkungan yang baik. Namun, jika dibaca dari sudut lain, ia juga menggambarkan pola ketertarikan sosial yang tidak sepenuhnya acak.
Apa yang dalam tradisi agama dirumuskan sebagai nasihat etis, dalam psikologi modern dipahami sebagai proses seleksi bawah sadar. Dalam kerangka ini, ketika kita bergerak dalam ruang sosial, kita tidak sekadar "terlempar" ke dalam lingkungan tertentu, melainkan cenderung tertarik pada "aroma" yang terasa akrab, yang pada akhirnya membentuk lingkaran pertemanan, bahkan pasangan hidup.
Mengapa Kemiripan Begitu Memikat?
Dalam "Self-Essentialist Reasoning Underlies the Similarity-Attraction Effect" (2023), Charles Chu and Brian S. Lowery mengungkapkan bahwa kita cenderung menyukai orang yang mencerminkan diri kita sendiri.
Menurut mereka, ketertarikan ini bekerja melalui proses mental yang disebut penalaran self-essentialist. Secara sederhana, otak kita bekerja seperti detektif yang mencari "esensi" seseorang melalui petunjuk-petunjuk luar, yaitu hal-hal permukaan yang bisa kita tangkap, seperti selera komik atau kritik terhadap film.
Prosesnya terjadi dalam dua tahapan yang berjalan di alam bawah sadar. Pertama, kategorisasi "orang seperti aku" (person like me). Jika kita menemukan satu atribut yang sama pada orang lain, maka otak kita cenderung melompat pada kesimpulan otomatis bahwa orang tersebut memiliki "akar batin" (underlying essence) yang sama dengan kita.
Hal ini terjadi karena adanya keyakinan self-essentialist, anggapan bahwa manusia memiliki "esensi" tetap yang menjadi sumber segala tindakannya. Saya berasumsi bahwa selera istri terhadap manga bukan sekadar hobi yang kebetulan, melainkan perwujudan dari esensi batin yang mendalam. Rasa kesamaan kecil ini biasanya menghadirkan kenyamanan, dan dari kenyamanan itu tumbuh kepercayaan. Logika bawah sadar lantas menyimpulkan, jika perwujudan di permukaannya serupa, maka sumber batinnya pasti identik. Padahal ini lebih merupakan kesimpulan tergesa-gesa daripada sesuatu yang benar-benar teruji.
Berikutnya, setelah pelabelan terjadi, otak melakukan proyeksi realitas bersama (generalized shared reality). Di sinilah letak keajaibannya, dan pada saat yang sama, sekaligus jebakannya. Karena merasa kami berbagi esensi yang sama, saya mulai berasumsi bahwa kesamaan itu meluas ke banyak hal, mulai dari cara berpikir, nilai hidup, bahkan cara memandang dunia, meski belum tentu benar.
Maka dari itu, obrolan tentang Boku no Hero Academia atau adaptasi One Piece yang tampak sebagai bincang hobi yang remeh sebenarnya punya fungsi yang lebih dalam. Obrolan ini menjadi ruang uji bagi proyeksi kesamaan yang kami rasakan. Lewat percakapan itu, saya dan istri sedang mengonfirmasi apakah "kesamaan" yang kami tangkap benar-benar ada.
Ketika pendapat kami selaras, otak merespons dengan rasa aman: prediksi yang dibuat terasa terbukti. Muncul kepuasan sederhana bahwa cara saya melihat dunia ini ternyata tidak sendirian.
Namun, di balik rasa aman berada dalam "satu frekuensi" ini, tersembunyi potensi jebakan sosiologis. Ketika rasa selaras itu terus-menerus dikonfirmasi tanpa gangguan, ia bisa berubah menjadi semacam ruang gema, tempat pandangan yang sama dipantulkan kembali tanpa pernah benar-benar diuji.
Ilusi "Culture Fit" dan Tembok Inkompetensi
Jika dalam hubungan pribadi pencarian "esensi yang sama" ini berfungsi mempererat ikatan emosional, dalam dunia profesional, mekanisme yang sama bisa berubah menjadi pedang bermata dua. Ia bisa menciptakan tim yang solid, atau justru membangun benteng yang kebal terhadap kritik.
Apa yang terasa sebagai kedekatan emosional dalam hubungan pribadi, bisa berubah menjadi bias penilaian dalam konteks profesional. Kita cenderung memercayai dan menyukai orang yang terasa "sejenis". Dari sinilah lingkaran sosial yang terasa menenangkan, tetapi sekaligus menutup ruang koreksi, mulai terbentuk.
Ketika mekanisme ini kita bawa keluar dari rumah ke ruang lain, misalnya kantor, ia bisa menciptakan standar kualitas yang bias. Jika kita hanya dipertemukan dengan orang-orang yang setipe, ruang untuk koreksi diri menjadi tertutup.
Sebagai contoh, perbedaan standar kerja dapat memunculkan rasa tidak nyaman. Individu dengan ritme kerja tertentu bisa merasa terancam oleh rekan yang jauh lebih ambisius, lalu secara tidak sadar mencari aliansi dengan mereka yang memiliki pola serupa. Sekaligus, "aliansi" tersebut akan menyingkirkan satu-dua orang yang tidak punya "isi kepala yang sama". Alhasil, mungkin saja tercipta lingkaran yang berisi pembenaran atas perilaku tersebut.
Dalam sosiologi, fenomena memilih kawan yang sekubu ini, entah positif atau negatif, disebut homofili, yaitu sebuah prinsip yang menyatakan bahwa ikatan sosial lebih mudah terbentuk di antara individu yang memiliki kesamaan atribut. Homofili bekerja seperti magnet: kita merasa lebih aman dan "nyambung" dengan orang yang mencerminkan diri kita karena hal itu meminimalisasi konflik dan usaha untuk beradaptasi.
Masalahnya, meskipun homofili adalah kecenderungan yang wajar, dalam kondisi tertentu ia bisa berkembang menjadi lingkaran yang eksklusif dan problematik. Ketika kesamaan dijadikan kriteria utama, kelompok yang terbentuk berisiko tidak lagi mengoreksi satu sama lain, melainkan justru saling memvalidasi, termasuk dalam hal kelemahan atau inkompetensi.
Sosiolog Lauren A. Rivera dalam studinya, "Hiring as Cultural Matching: The Case of Elite Professional Service Firms" (2012), mengungkap bagaimana prinsip homofili ini berubah menjadi alat penyaringan yang bias di meja rekrutmen.
Melalui fenomena yang ia sebut looking-glass merit (meritokrasi cermin), Rivera menemukan bahwa pihak pewawancara cenderung mendefinisikan kualitas seorang calon karyawan bukan berdasarkan kemampuan teknis murni, melainkan seberapa mirip kandidat tersebut dengan diri pewawancara, entah dalam hal hobi, gaya hidup, atau cara membawakan diri.
Di sinilah lingkaran setan itu mengunci. Ketika sebuah tim dibentuk melalui proses kemiripan ketimbang standar kompetensi objektif, mereka berpotensi tumbuh menjadi aliansi yang secara kolektif menolak siapa pun yang dianggap berbeda. Misalnya, orang baru yang membawa standar tinggi atau kritik yang mengusik kenyamanan.
Inkompetensi tim tersebut pun bertahan karena ia terus-menerus divalidasi oleh lingkaran yang memiliki titik buta yang identik. Dalam ruang seperti ini, kesalahan kolektif tidak lagi terlihat sebagai masalah, melainkan dianggap sebagai bagian dari identitas kelompok yang harus dijaga. Mereka merasa benar, hanya karena tidak ada lagi orang di sekitarnya yang berani berbeda pendapat. Padahal, mungkin saja seluruh kelompok sedang berjalan bersama menuju jurang.
Bukan Sekadar Kebetulan Semesta
Pola pergaulan kita bukanlah kebetulan semesta, melainkan hasil kurasi bawah sadar yang ketat. Kita memang cenderung dipertemukan dengan orang-orang yang kita cari. Namun, sains dan realitas profesional menunjukkan, jika yang dicari hanyalah kenyamanan dan pantulan "esensi" sendiri, kita sebenarnya sedang menjebakkan diri dalam ruang yang sempit.
Obrolan saya dan istri soal Garp atau Sanosuke mungkin adalah anugerah dalam ruang domestik. Namun, kenyamanan itu tetap membutuhkan celah perbedaan pendapat agar kami tidak jatuh ke dalam kebebalan selera. Begitu pula di kantor. Kita butuh lebih dari sekadar orang-orang yang satu selera seia-sekata.
Alih-alih mencari mereka yang hanya mampu memvalidasi kesalahan, barangkali kita perlu lebih terbuka pada mereka yang berani mengusik zona nyaman kita. Jika hanya berdiri di dekat "penjual minyak wangi" yang terus meyakinkan kita bahwa kita sudah wangi, bisa jadi kita tak akan pernah sadar ada daki-daki yang melekati diri.
Sebab, pada akhirnya, siapa pun yang kita izinkan masuk ke dalam lingkaran terdekat kita adalah cermin paling jujur. Ia tidak hanya memperlihatkan siapa kawan atau kolega kita, tetapi juga siapa diri kita sebenarnya.
Penulis: Fitra Firdaus
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





























