tirto.id - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengakuisisi portofolio kredit pensiunan dari SMBC Indonesia dengan nilai transaksi Rp19,9 triliun atau nyaris Rp20 triliun.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, mengatakan langkah ini menempatkan BTN sebagai salah satu pemain terbesar di segmen kredit pensiunan dengan total 344.600 rekening yang dikelola.
Akuisisi dilakukan dalam dua tahap, yakni pada 29 Juni dan 14 Agustus 2026. Portofolio yang diakuisisi seluruhnya merupakan kredit berkualitas lancar.
"Portofolio yang diakuisisi seluruhnya merupakan kredit berkualitas lancar. Jadi, yang tidak lancarnya tidak kami ambil," ujar Nixon dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Portofolio tersebut mencakup 218.000 rekening kredit pensiunan dan prapensiunan yang dikelola oleh Taspen maupun Asabri. Rinciannya: sekitar 126.600 rekening berasal dari Asabri dan beberapa dana pensiun lain, sedangkan sisanya dari Taspen. Saat ini, BTN telah mengelola sekitar 344.600 rekening kredit pensiunan.
"Dari sisi jumlah, pensiunan kita sudah nomor lima. Saya dengar dari Asabri maupun Taspen," kata Nixon.
Transaksi ini merupakan bagian dari strategi jangka menengah BTN untuk memperkuat diversifikasi portofolio, khususnya pada segmen nonperumahan. BTN memilih produk yang aman dengan tetap menjaga kecukupan modal, mengingat portofolio yang diakuisisi memiliki risk weighted assets (RWA) 50 persen atau tidak terlalu jauh berbeda dengan KPR.
"Nanti, kami akan seriusin di kredit pensiunan dan kami akan terus secara masif mendorong pertumbuhan di sana. Ini tentu saja selain yield-nya cukup baik, juga kredit ini sustain dan NPL-nya sepanjang sejarah terkelola cukup baik," tutur Nixon.
Dari sisi kinerja keuangan, BTN mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,4 triliun pada semester I-2026 atau tumbuh 40,8 persen (yoy). Kenaikan ini turut mendorong peningkatan return on risk-weighted assets (RORWA) menjadi 2,5 persen.
"Pertumbuhan kredit tercatat di atas target, yakni sekitar 11,2 persen year-on-year atau mencapai Rp418 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh pertumbuhan anorganik akuisisi kredit pensiunan dari SMBC Indonesia," ujar Direktur Treasury & International Banking BTN, Venda Yunuarti.
Total dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 6,6 persen year-on-year atau mencapai Rp433 triliun dengan cost of fund yang relatif masih dapat dijaga.
BTN juga memperkuat struktur pendanaannya. Sepanjang semester I-2026, dana murah atau CASA tumbuh Rp12 triliun atau naik 9,1 persen (yoy). Sebaliknya, dana mahal turun Rp3 triliun.
“Kami dulu mencatatkan CASA, tapi CASA-nya ternyata banyak yang mahal. Jadi, pelan-pelan seiring CASA murahnya naik, kami buang CASA mahal. Prosesnya bertahap supaya likuiditasnya terjaga," jelas Nixon.
Berkat strategi itu biaya DPK BTN tercatat 3,01 persen di akhir Juni 2026, hanya meningkat 3 basis poin dibandingkan Mei 2026. Padahal, BI rate telah naik 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026.
Sementara itu, dari sisi anak usaha, Bank Syariah Nasional (BSN) juga mencatatkan pertumbuhan kinerja. Hingga semester I-2026, total aset BSN mencapai Rp78,8 triliun, pembiayaan Rp59,6 triliun, dan DPK Rp61 triliun. NPF Gross terjaga di level 2,7 persen dengan kontribusi CASA mencapai 60,9 persen dari total pendanaan.
BSN juga mengembangkan layanan bisnis emas melalui kolaborasi dengan Pegadaian dan produk BTN BSN Cicil Emas. Outstanding produk ini mencapai Rp163 miliar per Juni 2026 atau tumbuh 2.600 persen (yoy) dengan yield sekitar 9,4 persen.
"Produk ini menjadi salah satu champion product dengan potensi pertumbuhan dan profitabilitas yang menarik bagi perseroan," kata Venda.
Transformasi digital BSN melalui aplikasi Balai Syariah juga menunjukkan perkembangan positif. Sejak diluncurkan pada Desember 2025, aplikasi ini telah mengakuisisi lebih dari 205.000 pengguna dengan nilai transaksi Rp4 triliun dan volume transaksi 1,7 juta.
Untuk tahun 2026, BSN menargetkan pembiayaan tumbuh double digit di level 16-18 persen, LFR dijaga di level 95-97 persen, NIM ekuivalen di kisaran 4-4,1 persen, NPF di bawah 2,7 persen, dan cost of capital di level 1-1,2 persen.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id



































