tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadinya inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 3,48 persen pada Maret 2026, atau lebih rendah dari inflasi Februari sebesar 4,76 persen.
Adapun, inflasi ini didorong oleh peningkatan indeks harga konsumen dari 107,22 pada Maret 2025 menjadi 110,95 pada Maret 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa secara bulanan (month to month/mtm) terjadi inflasi sebesar 0,41 persen.
Namun, menurutnya inflasi tahunan ini masih dipengaruhi oleh low base effect (efek basis rendah), meskipun intensitasnya mulai berkurang dibandingkan awal tahun.
"Sedikit ya, kalau bulan Januari dan Februari pengaruhnya cukup lumayan, Maret ini pengaruhnya untuk low base effect mulai sedikit," ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa low base effect pada Maret 2026 lebih rendah dibanding dua bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh berakhirnya program diskon tarif listrik untuk pelanggan prabayar yang menjadi basis perbandingan pada tahun lalu.
"Kita ketahui bersama pada bulan Januari sampai dengan Februari tahun 2025 yang lalu, pemerintah menerapkan kebijakan diskon listrik yang menekan IHK pada periode tersebut. Meskipun pada Maret 2025 tarif listrik Prabayar sudah kembali ke harga normal, tetapi untuk yang pelanggan pasca bayar masih terpengaruh diskon listrik. Inilah yang menyebabkan low base effect-nya sekarang relatif kecil," paparnya.
Secara rinci, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi Maret 2026 secara bulanan dengan andil sebesar 0,32 persen. Komoditas yang mendorong kenaikan harga di kelompok ini antara lain ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, hingga daging sapi.
Sementara itu, untuk inflasi tahunan (yoy), kelompok perumahan, air listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil terbesar yaitu 1,08 persen. Ateng menyebutkan bahwa tarif listrik dan biaya sewa rumah menjadi komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok tersebut.
BPS juga mencatat bahwa seluruh komponen pengeluaran mengalami inflasi secara tahunan. Komponen inti tercatat mengalami inflasi sebesar 2,52 persen dengan andil 1,62 persen, didorong oleh komoditas emas perhiasan, biaya akademik, minyak goreng, dan sewa rumah.
Komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi tertinggi yaitu 6,08 persen dengan andil 1,14 persen. "Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi dari komponen yang diatur pemerintah terutama tarif listrik," ucap Ateng.
Sementara itu, komponen harga bergejolak (volatile foods) mengalami inflasi tahunan sebesar 4,24 persen dengan andil 0,72 persen, utamanya dipicu oleh kenaikan harga daging ayam ras, beras, dan telur.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































