tirto.id - Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menilai pengumuman lanjutan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait peringatan kepada Indonesia justru sebagai hal yang positif.
Menurut Pandu, langkah tersebut menunjukkan bahwa lembaga indeks global itu ingin mengawasi secara ketat keberlanjutan reformasi di pasar modal tanah air.
"Saya rasa sih menurut positif di note bahwa dari sisi bursa bahwa mereka telah melakukan tahap-tahap sesuai dengan feedback yang didapatkan dari MSCI dan merupakan kemajuan," ujar Pandu saat ditemui di Wisma Mandiri, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Pandu menambahkan, MSCI menyatakan keinginannya untuk terus mengawasi pasar modal Indonesia ke depan. Menurutnya, itu justru menjadi dorongan agar reformasi yang sudah berjalan sesuai dengan tujuannya.
"Mereka juga ingin mengawasi ke depan bahwa reformasi akan terus dilakukan. Saya rasa tuh ini tahap inisial awal yang positif," ucapnya.
Ia pun mengungkapkan bahwa tidak perlu ada intervensi negara di balik peringatan tersebut. Menurutnya, perbaikan fundamental sudah terlihat dari pergerakan harga saham yang menunjukkan tren positif.
"Intervensi apa? Anda lihat ya tadi kan udah ada perbaikan juga dari saham. Dari 6.000 something sekarang udah 7.500. Ada perbaikan juga," ungkapnya.
Pandu menekankan bahwa mekanisme pasar berjalan sebagaimana mestinya. Hasil akhirnya akan bergantung pada proses reformasi pasar modal yang tengah didorong oleh regulator dan SRO.
"Saya rasa market mekanisme berjalan. Dan sekarang kan dari MSCI juga akan melihat bagaimana perkembangan reformasi yang ada," imbuhnya.
Adapun, dalam pengumuman terbarunya yang dirilis Senin malam, MSCI mengakui serangkaian reformasi transparansi yang diambil Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Namun, alih-alih langsung memberikan kelonggaran, MSCI memilih untuk memperpanjang masa evaluasi hingga Juni mendatang.
"Kami sedang menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas dari sumber data dan langkah-langkah baru," demikian bunyi pengumuman MSCI dikutip Selasa (21/4/2026).
Sepanjang proses peninjauan berlangsung, MSCI akan mempertahankan kebijakan pembekuan terhadap peningkatan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak akan menambahkan saham Indonesia ke indeks Investable Market Indexes (IMI) dan tidak akan melakukan kenaikan klasifikasi ukuran saham (upward migration), termasuk dari Small Cap ke Standard.
Di samping itu, MSCI juga akan menghapus saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka High Shareholding Concentration (HSC). MSCI juga dapat menggunakan data keterbukaan pemegang saham 1 persen untuk menyesuaikan estimasi free float jika diperlukan.
Namun, MSCI tidak akan memasukkan data dari sumber dan keterbukaan baru tersebut ke dalam penilaian free float hingga proses peninjauan terhadap saham Indonesia selesai dan menerima masukan dari pelaku pasar.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id







































