tirto.id - Lembaga pemeringkat global, MSCI Inc., secara resmi memperpanjang periode peninjauan status pasar modal Indonesia hingga Juni 2026. Mengutip Bloomberg, keputusan tersebut langsung membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok menjadi yang terburuk di Asia.
Dalam pengumuman terbarunya yang dirilis Senin (20/2/2026) malam, MSCI mengakui serangkaian reformasi transparansi yang diambil Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Namun, alih-alih langsung memberikan kelonggaran, MSCI memilih untuk memperpanjang masa evaluasi.
"Kami sedang menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas dari sumber data dan langkah-langkah baru," demikian bunyi pengumuman MSCI dikutip Selasa (21/4/2026).
Sepanjang proses peninjauan berlangsung, MSCI akan mempertahankan kebijakan pembekuan terhadap peningkatan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak akan menambahkan saham Indonesia ke indeks Investable Market Indexes (IMI) dan tidak akan melakukan kenaikan klasifikasi ukuran saham (upward migration), termasuk dari Small Cap ke Standard.
Di samping itu, MSCI juga akan menghapus saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka High Shareholding Concentration (HSC). MSCI juga dapat menggunakan data keterbukaan pemegang saham 1 persen untuk menyesuaikan estimasi free float jika diperlukan.
Namun, MSCI tidak akan memasukkan data dari sumber dan keterbukaan baru tersebut ke dalam penilaian free float hingga proses peninjauan terhadap saham Indonesia selesai dan menerima masukan dari pelaku pasar.
Ketidakpastian ini langsung merespon negatif pasar. Melansir Bloomberg, IHSG tercatat anjlok hingga 1 persen pada perdagangan Selasa, menjadi yang paling terpuruk di kawasan Asia. Saham-saham big cap seperti PT Barito Renewables Energy dan PT Dian Swastatika Sentosa masuk dalam jajaran yang paling tertekan.
Para investor masih waspada terhadap potensi downgrade status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market, kekhawatiran ini dapat memicu arus keluar modal besar-besaran.
Respons BEI
Menanggapi dinamika tersebut, Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menekankan bahwa pihaknya tidak tinggal diam dan telah melakukan langkah-langkah strategis untuk mempertahankan kepercayaan investor.
"Merespons pengumuman dari MSCI hari ini, dapat kami sampaikan: pertama, kami telah bertemu dengan MSCI tanggal 16 April. Kedua, kami mengapresiasi bahwa 4 proposal yang telah kami deliver di-acknowledge oleh MSCI," ujar Jeffrey dalam pernyataan resminya.
Jeffrey menambahkan bahwa BEI akan terus menjalin komunikasi intensif. "Kami akan terus berkomunikasi dengan index provider. Kami juga akan terus berkomunikasi dengan investor global untuk memperoleh masukan untuk penguatan pasar modal ke depan," ucapnya.
Adapun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah ke level 7.560,285 pada pembukaan perdagangan Selasa (20/4/2026). Mengutip RTI Business pukul 09.05 WIB, indeks sempat turun 48,8 poin atau sebesar 0,64 persen.
Pergerakan IHSG sepanjang hari ini diwarnai oleh 212 saham menguat, 293 melemah dan 188 saham stagnan atau belum mengalami perubahan.
Gerak IHSG pada awal perdagangan sesi pertama terpantau berada pada rentang 7.518,452 hingga 7.568,989 sementara kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp13.454 triliun.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































