Borobudur Ramai Wisatawan, Tapi 3 Desanya Dilanda Kemiskinan

Reporter: Haris Prabowo, tirto.id - 17 Nov 2019 15:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Candi Borobudur disambangi 3,5-3,8 juta turis dalam setahun. Tapi hingga sekrang, sejumlah desa di sekitarnya masih masuk dalam zona merah kemiskinan.
tirto.id - Daya pikat Candi Borobudur sebagai destinasi wisata memang tak perlu diragukan. Dibangun pada abad ke-IX, di atas bukit yang dikelilingi pegunungan kembar (Merapi-Merbabu & Sindoro Sumbing), monumen Buddha terbesar di dunia itu adalah magnet bagi para pelancong lokal dan mancanegara.

Dengan kunjungan rata-rata 3,5-3,8 juta turis per tahun, wisata Candi Borobudur jadi penopang pendapatan pariwisata di Kabupaten Magelang—pada 2015 menyetor Rp96,49 miliar atau 95,93 persen dari total pendapatan obyek wisata.

Namun, besarnya pendapatan itu tak serta-merta berdampak pada perekonomian masyarakat desa di sekitarnya.


Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPD) Jawa Tengah mencatat, tiga desa di Kecamatan Borobudur masih masuk dalam zona merah kemiskinan, yakni Giri Tengah, Ngadiharjo dan Wringinputih.

Saya menyaksikan langsung bagaimana kondisi Giri Tengah, berjarak sekitar 7 kilometer dari Candi Borobudur, pada Rabu, 13 November lalu. Dibandingkan desa yang lebih dekat lokasinya dengan Candi Borobudur, pembangunan infrastruktur Giri Tengah memang terlihat masih minim.

Beberapa titik jalan belum teraspal, berlubang dan terlihat gelap saat saya melewatinya jelang Maghrib karena tak ada penerangan. Kondisi ini membuat akses ke Giri Tengah yang menanjak dan berkelok di kaki perbukitan Menoreh rawan kecelakaan.

Turis dari Candi Borobudur juga jarang ada yang berkunjung meski desa itu punya potensi pariwisata yang tak kalah menarik: kerajinan pahat topeng kayu, anyaman bambu, batik tulis, hingga gamelan.

Mati Suri Balkondes

Sebenarnya, desa-desa di Kecamatan Borobudur punya Balai Ekonomi Desa (Balkondes) yang dapat kucuran dana corporate social responsibility BUMN, PT Taman Wisata Candi Borobudur.

Balai yang diresmikan serentak di 20 desa pada tahun 2017 itu diharapkan jadi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomi desanya masing-masing.

Namun hingga sekarang, manfaatnya belum benar-benar dirasakan. Pengelola Balkondes Giri Tengah, Cahyo Sipiani mengatakan, waktu kunjungan turis yang relatif sebentar di Candi Borobudur jadi salah satu penyebab sepinya kunjungan ke desanya.



Para pelancong biasanya hanya mampir ke Borobudur, lalu kembali ke penginapan mereka di Yogyakarta. Padahal, jika mereka singgah lebih lama, banyak potensi pariwisata lain yang bakal berkembang di desa-desa Kecamatan Borobudur.

"Sejarah Giri Tengah ini jadi saksi peperangan Pangeran Diponegoro dulu, jadi banyak petilasan-petilasan, dari ujung sana sampai ujung sana, itu ada ceritanya semuanya," ungkapnya.

Selain itu, menurut Cahyo, pengelola Candi Borobudur juga masih kurang promotif terhadap potensi wisata desa-desa setempat.

Hal serupa juga disampaikan oleh Aan Hermawan, 42 tahun, salah satu pengelola Balkondes di Desa Majaksingi. Menurutnya masih ada ketimpangan antara Balkondes Majaksingi dengan Balkondes lain yang lokasinya lebih dekat dengan candi.

Desa Majaksingi sendiri memiliki beberapa produk unggulan seperti sangkar burung, kesenian pitutur, kerajinan bambu, dan kerajinan besek. Mereka juga menawarkan wisata caving Gua Maria Watu Tumpeng.

Aan bahkan menyebut tak hanya Balkondes Majaksingi dan Giri Tengah saja yang lesu dan sepi. "Balkondes Kebonsari, Balkondes Tanjungsari, dan Balkondes Wringinputih seperti 'mati suri'. Bahkan Wringinputih bangunannya lapuk sebab pakai bambu," tuturnya.


Supoyo, 38 tahun, seorang pengrajin gerabah di Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, Borobodur, mengamini hal tersebut. Dusun Klipoh sendiri jadi desa wisata kerajinan gerabah tradisional; ada 85 keluarga yang memproduksi gerabah berbentuk kendi, asbak, hingga patung dari tanah.

Supoyo mengatakan, efek domino pariwisata Candi Borobudur terhadap dusunnya masih minim karena sedikitnya para turis untuk berkunjung.

Padahal harga gerabah produksi Supoyo dan komunitas masyarakat lain di sekitar Borobudur relatif terjangkau. Sebuah piring kecil dari gerabah yang biasa digunakan untuk tempat sambal, misalnya, hanya dibandrol dua ribu rupiah.

Tapi, sepinya aktivitas pariwisata di Klipoh bukan sepenuhnya salah para turis. Supoyo mengatakan, minimnya informasi mengenai desa-desa wisata di desa-desa sekitar Borobudur juga jadi salah satu penyebab.

"Yang pasti kan untuk kegiatan wisata kan harus kontinyu, kalau misalnya cuma beberapa langkah terus wisatawan sudah lelah setelah dari Candi Borobudur, enggak menutup kemungkinan tamu yang hadir akhirnya enggak mampir ke desa-desa wisata," ujarnya saat ditemui Tirto, Rabu (13/11/2019) lalu.

Upaya Kembangkan Wisata Sejarah

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) membenarkan bahwa selama ini turis yang datang ke Candi Borobudur hanya enggan mencari wisata alternatif di desa-desa sekitar milik rakyat lokal.

Karena itu, pemerintah tengah merancang konsep wisata Borobudur dengan gaya interpretative tour dan storytelling.

Pasalnya, selama ini tour guide yang membawa wisatawan ke Candi Borobudur hanya menceritakan sejarah candi yang normatif saja tanpa ada kisah-kisah lainnya.

Anggota Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah, Religi, Seni, Tradisi, dan Budaya Kemenparekraf RI, Revalino Tobing, mengatakan akademisi penting untuk dilibatkan karena mereka dapat menggali konsep wisata dari narasi-narasi sejarah yang telah ada.

Beberapa yang telah ditawarkan untuk ikut bekerja sama adalah dosen sejarah, antropologi, arkeologi, dan kajian budaya dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Bisa juga diangkat mengenai orang-orang sekitar Borobudur di masa lampau dan masa kini sehingga bagaimana faktor yang membuat Borobudur menunjang kehidupan warga sekitar sampai sekarang. Semisal pengrajin gerabah sekarang, itu kan ada di relief-relief sejak zaman dahulu," katanya, Rabu (13/11/2019) lalu.

Dalam hal ini, lanjut Revalino, Supoyo dan komunitas masyarakat pengrajin gerabah di Dusun Klipoh juga akan dilibatkan. Sementara di Giri Tengah, yang sempat menjadi lokasi perang Pangeran Diponegoro, sangat memungkinkan masuk ke dalam wisata interpretatif tour.


Salah satu anggota Tim Penyusun Narasi Legenda Borobudur UGM, Louie Buana, membenarkan ucapan Revalino.

Menurutnya, perlu para akademisi dan dosen yang paham mengenai narasi-narasi alternatif dari sejarah Borobudur perlu dilibatkan agar para wisatawan agar lebih tertarik.

"Karena memang selama ini tour wisata Candi Borobudur hanya sebatas sejarah kapan dan oleh siapa candi dibangun, tanpa pernah dipaparkan cerita-cerita menarik di balik semua relief-reliefnya. Kami ingin mencoba memaparkan itu, tentu dengan kajian historis yang ketat dan saintifik," kata Louie.

Baca juga artikel terkait CANDI BOROBUDUR atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Hendra Friana

DarkLight