Menuju konten utama

Bocoran Kerangka Kerja Arktik, Bikin Trump Tarik Ancaman Tarif

Presiden AS Donald Trump dan perwakilan NATO menyepakati kerangka kerja Arktik hingga membuat AS mengurungkan niat memberi ancaman tarif impor bagi Eropa.

Bocoran Kerangka Kerja Arktik, Bikin Trump Tarik Ancaman Tarif
Rumah colorfull saat matahari terbenam di ibu kota Greenland, Nuuk. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah menyepakati kerangka kerja Arktik dengan NATO. Kesepakatan ini membuatnya menarik kembali ancaman tarif impor 10 persen untuk 8 negara Eropa. Apa saja bocoran isinya?

Tercapainya kesepakatan kerangka kerja Arktik itu disampaikan Trump pada Rabu (21/1/2026), di sela pertemuan Forum Ekonomi Dunia (WEF). Dalam penuturannya, Trump menyebut kesepakatan ini telah diraihnya bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.

Di media sosial Truth, presiden dari Partai Republik itu menyebut kerangka kerja ini sebagai kesepakatan yang "sangat produktif". Kerangka ini juga akan jadi landasan perjanjian AS terkait Greenland di kemudian hari.

"Kami telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan sehubungan dengan Greenland dan, pada kenyataannya, seluruh wilayah Arktik," tulis Trump di media sosialnya pada Rabu.

Trump mengatakan kerangka ini akan jadi solusi bagus bagi AS dan negara anggota NATO lainnya. Ia juga mengungkap telah menunjuk Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Utusan Presiden AS Steve Witkoff untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut terkait hal tersebut.

Sebelumnya, selama berminggu-minggu, Trump gencar mengutarakan retorika pencaplokan Greenland. Ia juga mengancam negara penolak idenya itu dengan pengenaan tarif impor semua produk negara-negara Eropa ke AS sebesar 10 persen.

Ancaman itu direspons keras oleh negara-negara Eropa anggota NATO. Prancis bahkan mendorong Uni Eropa untuk menerapkan Instrumen Anti-Pemaksaan (trade bazooka) kepada AS. Situasi aliansi transatlantik itu kemudian memanas.

Namun, Trump menarik ancamannya setelah mencapai kesepakatan dengan Mark Rutte. Trump tak akan mengenakan tarif "yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Februari".

Meski konflik perebutan Greenland tampak mereda, bocoran isi kesepakatan antara Trump dan Rutte menyiratkan kompromi besar di kedua belah pihak. Selain itu, kritik atasnya juga dilayangkan rakyat Greenland sendiri.

Isi Kesepakatan Kerangka Kerja Arktik

Menukil BBC, isi kesepakatan kerangka kerja Arktik antara Trump dan Rutte dilaporkan tak melibatkan alih kepemilikan Greenland dari Denmark ke AS. Mark Rutte dalam pernyataannya untuk Fox News, menyatakan polemik kepemilikan Greenland tak lagi dipersoalkan Trump.

"Masalah tersebut [pencaplokan Greenland] tidak muncul lagi dalam percakapan saya malam ini dengan presiden [Trump]," tutur Sekretaris Jenderal NATO tersebut.

Meski demikian, kerangka kerja itu dilaporkan akan melibatkan perluasan kewenangan AS di wilayah semiotonom dari Denmark itu. Pasca pertemuan Trump dan Rutte di resor Alpen Swiss, Presiden AS itu membocorkan bahwa kerangka kerja itu akan membuat AS punya kewenangan lebih di bidang militer dan mineral.

"Ini adalah kesepakatan jangka panjang yang utama. Hal ini menempatkan semua orang pada posisi yang sangat baik, terutama dalam hal keamanan dan mineral," ujar Trump kepada wartawan di Swiss.

Di bidang militer, kerangka kerja Arktik yang disepakati memungkinkan AS dan negara NATO lain bekerja sama dalam pembangunan sistem pertahanan Golden Dome. Serupa Iron Dome milik Israel, Golden Dome merupakan sistem pertahanan yang diklaim Trump sangat diperlukan AS guna bertahan dari serangan rudal jarak jauh.

Sedangkan, untuk kerja sama bidang mineral, Trump mengungkap bahwa AS dapat ikut serta dalam eksplorasi dan eksploitasi cadangan mineral di Greenland. Trump menyebut mineral Greenland penting untuk berbagai teknologi, termasuk telepon seluler dan kendaraan listrik.

Kerja sama di bidang mineral ini mengonfirmasi anggapan banyak pihak bahwa klaim keamanan nasional AS bukan satu-satunya tujuan Trump ingin mencaplok Greenland.

Sebelumnya, dalam retorika berminggu-minggu, Trump selalu menyebut keamanan nasional — yang kemudian bertambah jadi keamanan global — sebagai alasan mengapa ia ingin memiliki Greenland.

Trump tak merinci bagaimana durasi kerja sama ini akan terjadi. Sebelumnya, ia selalu menolak tawaran sewa lahan di Greenland dan bersikeras untuk memilikinya secara permanen. Namun, dalam bocoran yang ia bagikan ke wartawan di Swiss, Trump mengindikasikan kesepakatan ini akan berlangsung permanen atau setidaknya sangat lama.

"Ini adalah kesepakatan yang selamanya," katanya.

Negara Eropa anggota NATO menyambut baik kerangka kerja yang telah disepakati Trump dan Rutte. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen, menyebut kerangka ini memiliki poin kesepakatan "yang lebih baik daripada awalnya".

"Sekarang, mari kita duduk dan mencari tahu bagaimana kita dapat mengatasi masalah keamanan Amerika di Arktik sambil menghormati garis merah Kerajaan Denmark," tuturnya.

Akan tetapi, tak semua puas dengan kerangka kerja ini. Aaja Chemnitz, wakil Greenland di parlemen Denmark, mempertanyakan poin kesepakatan AS-NATO perihal mineral.

Aaja Chemnitz dikejutkan dengan kewenangan eksplorasi mineral Greenland yang tercatut dalam kerangka kerja Arktik tersebut. Menurutnya, kesepakatan itu dibuat tanpa melibatkan Greenland sama sekali.

"NATO sama sekali tidak memiliki hak untuk bernegosiasi tentang apa pun tanpa kami, Greenland. Tidak ada [kesepakatan] apa pun tentang kami tanpa [melibatkan] kami," katanya.

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar