tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa upaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengalami kendala serius akibat ketiadaan bibit awan di atmosfer sejumlah wilayah terdampak.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan bahwa kondisi cuaca kering ekstrem dan musim kemarau panjang membuat penyemaian garam dari udara tidak dapat dilakukan secara optimal di beberapa provinsi prioritas.
"Ada beberapa hambatan seperti yang kami sampaikan tadi: masalah hari tanpa hujan yang panjang, keringnya atmosfer, dan juga ketersediaan air, serta asap itu sendiri mengganggu operasi untuk pemadaman," ujar Berton dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/9/2026) sebagaimana disiarkan YouTube resmi BNPB.
Berton merinci, ketiadaan bibit awan hujan menyebabkan operasi OMC tidak bisa dilaksanakan sama sekali di daerah rawan kebakaran seperti Sumatra Selatan dan Riau.
"OMC tidak dapat dilakukan karena memang tidak ada potensi bibit awan di atmosfer," jelas Berton saat memaparkan penanganan karhutla di Sumatra Selatan.
Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Selatan, di mana potensi pertumbuhan awan hujan nihil sehingga operasi pemadaman berbasis modifikasi cuaca terpaksa ditiadakan.
"Kemudian OMC tidak dapat dilakukan karena memang tidak memungkinkan untuk dilakukan, titik-titik awan tidak ada di atmosfer," tutur Berton.
Sementara itu, di Kalimantan Tengah, operasi OMC sempat dilakukan di area selatan Kotawaringin Timur dengan menebarkan 800 kilogram garam. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil optimal karena minimnya kelembapan atmosfer serta tebalnya kabut asap.
"Kemudian OMC dilakukan satu sorti di Kotawaringin Timur di bagian selatan sebanyak 800 kg dan hasilnya memang sulit mendapatkan hujan. Jarak pandang yang sangat rendah ini juga menghambat bagaimana operasi udara dilaksanakan," paparnya.
Akibat terhambatnya operasi hujan buatan di sebagian besar wilayah, BNPB bersama tim gabungan mengalihkan fokus pada operasi pengeboman air (water bombing) menggunakan helikopter serta pemadaman darat untuk mendinginkan lahan gambut (mopping up). Di Kalimantan Selatan, operasi water bombing telah menjatuhkan lebih dari 1,3 juta liter air di titik-titik api aktif.
Di sisi lain, peluang hujan buatan masih terus diupayakan di wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan.
Di Kalimantan Barat, BMKG memprediksi adanya potensi awan hujan sporadis pada 1–7 September 2026, sedangkan di Jambi dan Lampung, pelaksanaan OMC sebelumnya berhasil memicu turunnya hujan dengan intensitas ringan di sejumlah kabupaten.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id

































