Menuju konten utama

BMKG: Modifikasi Cuaca Hanya Kurangi 30% Hujan, Lahan Jadi Kunci

Alih fungsi lahan yang masif menjadi penyebab utama terjadinya bencana alam.

BMKG: Modifikasi Cuaca Hanya Kurangi 30% Hujan, Lahan Jadi Kunci
Pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM BNPB yang melaksanakan misi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Jawa Tengah lepas landas dari Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (2/11/2025).ANTARA FOTO/Aji Styawan/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Teuku Faisal Fathani selaku Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan operasi modifikasi cuaca (OMC) memiliki keterbatasan dalam menekan intensitas hujan. OMC disebut hanya mampu mengurangi curah hujan sekitar 30 persen, sehingga tidak sepenuhnya bisa mencegah terjadinya bencana hidrometeorologi.

Pernyataan tersebut dilontarkan Teuku dalam rapat kerja (Raker) bersama Komisi V DPR RI, menyusul terjadinya longsor dan banjir di sejumlah wilayah. Antara lain membahas longsor Cisarua di Kabupaten Bandung Barat dan beberapa daerah di wilayah Sumatra.

“Operasi modifikasi cuaca sudah cukup masif dilakukan, tetapi karena tingginya curah hujan. Dia (OMC) dapat mengurangi hanya sekitar 30 persen dari curah hujan,” ujar Teuku di dalam Ruang Rapat Komisi V DPR RI, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Teuku menjelaskan, sisa curah hujan yang tidak dapat ditekan oleh OMC tetap harus diterima oleh kondisi lahan di wilayah terdampak. Dalam banyak kasus, ucapnya, tanah sudah berada pada kondisi jenuh akibat hujan berkepanjangan.

“Sedangkan curah hujan lainnya harus dapat ditampung, diterima oleh lahan yang ada di bawahnya,” lanjutnya.

Dia menambahkan, pada beberapa tahun sebelumnya, hujan dengan intensitas serupa belum tentu menimbulkan bencana besar. Namun, tekanan terhadap lingkungan dan perubahan fungsi lahan membuat daya dukung wilayah semakin menurun.

Oleh sebab itu Teuku menyimpulkan, adanya alih fungsi lahan yang masif menjadi penyebab utama bencana alam bisa terjadi.

“Mungkin 5-10 tahun sebelumnya hal tersebut tidak menimbulkan kendala, tapi semakin hari, semakin lama dengan tekanan pada lahan, perubahan fungsi lahan, dan sebagainya itu menyebabkan masalah yang harus ditangani secara terintegrasi,” terang dia.

Teuku juga menekankan bahwa hujan dengan kategori sedang pun kini dapat memicu bencana serius, terutama di wilayah lereng yang tanahnya telah jenuh dan sungai yang belum dinormalisasi.

“Bahkan dengan hujan yang tadi cuma sedang atau mendekati lebat itu dapat menyebabkan longsor dengan daya rusak yang sangat besar seperti yang terjadi di Cisarua Kabupaten Bandung Barat,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait MODIFIKASI CUACA atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Siti Fatimah