tirto.id - Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, meminta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lebih giat lagi melakukan pemetaan wilayah rawan bencana sejak dini, guna mencegah jatuhnya korban dalam jumlah besar.
Lasarus menyinggung kembali terjadinya bencana longsor di kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat yang menurutnya terjadi secara mengejutkan. Ia menilai intensitas hujan di wilayah tersebut tidak tergolong ekstrem, namun berdampak sangat besar.
Kondisi itu, menurut Lasarus, menjadi dasar bagi Komisi V DPR RI untuk kembali mendorong BMKG agar melakukan pemetaan wilayah rawan bencana secara lebih komprehensif.
“Saya rasa ini mendorong lagi kami dari Komisi V kepada BMKG untuk bisa memetakan pak. Daerah-daerah yang rawan terhadap bencana,” ujar Lasarus dalam rapat kerja Komisi V DPR RI bersama BMKG, di dalam Ruang Rapat Komisi V DPR, Selasa (27/1/2026).
Ia menilai pemetaan sejak awal, termasuk kondisi geologi kawasan, sangat penting untuk mencegah dampak bencana yang lebih besar di kemudian hari.
“Andai kata pak, andai kata nih kita bisa memetakan secara baik ya. Kondisi geologi misalnya di wilayah yang sekarang terjadi bencana ini,” tuturnya.
Lasarus juga menekankan perlunya peringatan kepada masyarakat apabila potensi bencana dapat diketahui lebih awal. Ia berharap pengalaman bencana yang terus berulang dapat menjadi pelajaran agar pemerintah lebih siap dan lebih antisipatif ke depan.
“Kemudian ada peringatan kepada masyarakat andaikan itu memungkinkan untuk kita lakukan. Ini sudah terjadi kan kita pasti belajar dari kejadian itu untuk kita lebih cerdas ke depan,” ucap Lasarus.
Menurutnya, kondisi hujan yang terjadi di Cisarua tidak jauh berbeda dengan hujan di wilayah lain yang tidak menimbulkan bencana besar. Bahkan, dia pun membandingkan dengan bencana banjir di Aceh.
“Ini hujannya kalau menurut saya enggak terlalu lebat pak ya. Agak lebat tapi tidak selebat yang di Aceh gitulah,” ujarnya.
Meski demikian, longsor yang terjadi disebut memiliki karakteristik dan dampak yang mirip dengan bencana besar sebelumnya di Aceh, dengan luasan wilayah terdampak yang signifikan.
“Sliding yang terjadi tanah yang lepas itu di lereng itu juga mirip-mirip dengan yang ada di Aceh sana,” ucap Lasarus.
Ia menyebut bencana tersebut menimbun lahan dalam skala besar dan berpotensi menelan korban jiwa dalam jumlah besar, yakni bisa di atas 100 orang korban. Selain korban jiwa, Lasarus menuturkan kerusakan bangunan di kawasan terdampak terjadi secara menyeluruh.
“Rumah dan bangunan yang rusak, rusak ringan, rusak berat yang ada dalam kawasan itu seperti tersapu semua ya,” ujarnya.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id



























