Menuju konten utama

Tragedi KM Nurul Salsa: Update Korban dan Penyebab Tenggelam

Pencarian korban KM Nurul Salsa memasuki hari ketujuh. Satu jenazah ditemukan di perairan Pangkep, sementara 18 korban masih hilang.

Tragedi KM Nurul Salsa: Update Korban dan Penyebab Tenggelam
Tim SAR Gabungan mengevakuasi korban KM Nurul Salsa dari KMN Sinar Mattoangin 04 ke KN SAR Kamajaya usai ditemukan selamat di perairan Selayar, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Sabtu (18/7/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi Basarnas Makassar.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Operasi pencarian korban tenggelamnya KM Nurul Salsa kembali menunjukkan perkembangan pada hari ketujuh, Selasa (21/7/2026). Tim SAR gabungan menemukan satu jenazah yang diduga merupakan salah satu penumpang kapal.

Jenazah yang diduga salah satu korban KM Nurul Salsa tersebut ditemukan mengapung oleh nelayan di sekitar Pulau Pamulikang, wilayah perairan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Basarnas telah berhasil mengevakuasi jenazah tersebut dan langsung membawanya ke RS Bhayangkara Makassar untuk menjalani proses identifikasi guna memastikan identitasnya.

Update Pencarian Korban Tragedi KM Nurul Salsa

Operasi pencarian korban tenggelamnya KM Nurul Salsa memasuki hari ketujuh hari ini, Selasa (21/7) dengan perkembangan terbaru berupa ditemukannya satu jenazah yang diduga merupakan salah seorang penumpang kapal tersebut.

Korban KM Nurul Salsa

Tim SAR Gabungan mengevakuasi satu jenazah di duga korban KM Nurul Salsa ke atas kapal usai ditemukan nelayan mengapung di laut sekitar Pulau Pamulikang, wilayah Perairan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, Selasa (21/7/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi Tim SAR Gabungan.

Jenazah ditemukan oleh nelayan dalam kondisi mengapung di sekitar Pulau Pamulikang, wilayah perairan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, pada Selasa pagi.

Informasi penemuan itu segera dilaporkan kepada Basarnas Makassar, yang kemudian mengerahkan KN SAR Pacitan dan KN SAR Kamajaya menuju lokasi untuk melakukan proses evakuasi.

Setelah berhasil dievakuasi, jenazah dibawa untuk menjalani proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) sesuai prosedur di RS Bhayangkara Makassar. Basarnas menegaskan identitas korban belum dapat dipastikan hingga proses identifikasi selesai dan diumumkan secara resmi oleh pihak berwenang.

"Proses identifikasi sesuai prosedur di RS Bhayangkara Makassar. Kami belum dapat memastikan identitas korban sebelum proses tersebut selesai," ungkap Kepala Kantor Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar dikutip Antara News, Selasa (21/7/2026).

Meski telah menemukan satu jenazah, operasi pencarian terhadap korban lainnya tetap dilanjutkan secara maksimal. Kepala Kantor Basarnas Makassar sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengatakan seluruh unsur SAR gabungan masih bekerja secara intensif dengan memperluas area pencarian hingga mencapai 2.924 nautical mile (NM) persegi.

Wilayah operasi dibagi menjadi lima sektor pencarian yang didukung oleh enam Search and Rescue Unit (SRU) guna mengoptimalkan penyisiran di lokasi-lokasi yang diperkirakan menjadi jalur hanyut para korban berdasarkan analisis Search and Rescue Maritime Prediction (SARMAP).

Perluasan area pencarian dilakukan karena selama beberapa hari terakhir arus laut dan angin diperkirakan telah menggeser posisi korban dari lokasi awal kejadian, sehingga pencarian harus menjangkau wilayah yang lebih luas, termasuk perairan Kabupaten Pangkep.

Dalam operasi hari ketujuh ini, Basarnas mengerahkan berbagai armada laut, di antaranya RB Mataram 220, KN SAR Puntadewa, KN SAR Kamajaya 104, KN SAR Pacitan, KRI Marlin 877, dan KRI Hiu 634, serta didukung personel dari TNI, Polri, BPBD, Syahbandar, pemerintah daerah, kapal-kapal nelayan, dan berbagai unsur potensi SAR lainnya.

Selain menemukan satu jenazah, tim SAR gabungan juga menemukan sejumlah barang pribadi dan kartu identitas yang diduga milik para korban.

Basarnas menyampaikan bahwa setiap laporan dari masyarakat, khususnya nelayan yang beraktivitas di sekitar lokasi pencarian, menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan operasi dan akan segera ditindaklanjuti oleh tim di lapangan.

Berdasarkan data terbaru, dari total 78 orang yang berada di atas KM Nurul Salsa saat insiden terjadi, 59 orang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, satu korban sebelumnya telah teridentifikasi meninggal dunia, dan penemuan jenazah terbaru menambah jumlah korban meninggal menjadi dua orang, meskipun identitas jenazah yang baru ditemukan masih menunggu hasil identifikasi resmi.

Dengan demikian, masih terdapat 18 orang yang dinyatakan hilang dan terus dicari oleh tim SAR gabungan. Berdasarkan analisis kondisi arus laut dan temuan di lapangan, Basarnas menduga sebagian korban yang belum ditemukan hanyut ke arah wilayah perairan Pangkep.

Kronologi dan Penyebab KM Nurul Salsa Tenggelam

Musibah tenggelamnya KM Nurul Salsa bermula pada Rabu, 15 Juli 2026, ketika kapal tersebut berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, sekitar pukul 05.00 WITA.

Kapal mengangkut puluhan penumpang yang hendak menyeberang ke Selayar. Awalnya pelayaran berlangsung normal, namun saat berada di perairan sebelah barat Pulau Polassi, sekitar 43 nautical mile (sekitar 80 kilometer) dari Pelabuhan Benteng, kapal mengalami gangguan teknis berupa mati mesin.

Kondisi tersebut membuat kapal kehilangan tenaga penggerak sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan dan terombang-ambing di tengah laut. Setelah beberapa waktu dihantam gelombang dan tidak mampu bertahan, kapal akhirnya tenggelam di perairan Laut Flores.

Baca juga artikel terkait KAPAL TENGGELAM atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra