tirto.id - Pemerintah menyiapkan 40.000 desa tematik budi daya ikan hingga 2029 sebagai langkah memperkuat produksi perikanan nasional. Program tersebut akan berjalan berdampingan dengan pembangunan 1.369 Kampung Nelayan Merah Putih yang ditargetkan rampung pada tahun ini sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada sekaligus menjadikan Indonesia sebagai eksportir protein ikan.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan, kedua program tersebut menjadi fokus pemerintah setelah dinilai berhasil mencapai swasembada pangan karbohidrat. Untuk memastikan pelaksanaannya berjalan sesuai target, pemerintah telah menggelar rapat koordinasi yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga.
“Sekarang perintah Bapak Presiden, kita fokus, kita swasembada, bahkan ingin menjadi eksportir terbesar protein ikan, khususnya. Ikan, udang ya. Nah tadi kami rapat koordinasi untuk mengawal, mengamankan, mensukseskan. Satu Kampung Nelayan Merah Putih, yang kedua akan dibangun budi daya (ikan) tematik 40 ribu desa,” kata Zulhas usai rapat koordinasi bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Menurut dia, pembangunan di 40.000 desa tematik budi daya ikan merupakan proyek berskala nasional yang tidak kalah besar dibandingkan program Koperasi Desa Merah Putih.
“Ya itu pekerjaan sangat besar juga, tidak kalah dengan Koperasi Desa Merah Putih itu, besar sekali ya,” ujar Zulhas.
Program tersebut, kata Zulhas, ditujukan untuk memperkuat kemandirian desa melalui pengembangan sektor perikanan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaannya membutuhkan persiapan dan koordinasi lintas kementerian maupun lembaga.
“Dan juga menyangkut apa namanya pekerjaan yang sangat mendasar. Bagaimana desa-desa itu bisa mandiri, protein, bisa mandiri pangan, karbohidrat, bisa tumbuh ekonominya. Oleh karena itu, perlu persiapan, perlu sosialisasi, perlu koordinasi antar kementerian lembaga," kata pria yang juga Ketua Umum PAN ini.
"Ini menyangkut kementerian dalam negeri, menyangkut SDM, menyangkut listrik dan lain sebagainya ya. Menyangkut lahan, menyangkut Menteri Desa. Ini perlu dikoordinasi sehingga ini kita kawal betul agar sukses seperti kita mengawal program-program yang lain,” lanjut Zulhas.
Program desa tematik budi daya ikan ini ditargetkan menjangkau 40.000 desa secara bertahap hingga 2029.
“Kalau desa tematik targetnya 40.000, tapi sampai tahun 2029,” ujar Zulhas.
Sementara itu, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih tetap akan berjalan dengan target 1.369 lokasi pada tahun ini.
“1.369. Tahun ini,” ujar Zulhas saat menjawab target pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih.
Sebelum rapat koordinasi terbatas tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono lebih dulu memaparkan kebutuhan pendukung program budi daya tematik saat peresmian Institut Kelautan Indonesia (IKI) di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan.
"Karena ini dipicu dari program prioritas dari Bapak Presiden dan dampaknya adalah kita harus siap dari sisi banyak hal seperti misalnya untuk mendukung program-program tersebut di antaranya adalah contoh misalnya budidaya tematik yang harus dibilang lebih dari ribuan ya, ada 40 ribu lah kurang lebih programnya sampai dengan 2029, itu butuh bibit saja tidak kurang dari 13 miliar ekor,” kata Trenggono.
Lebih lanjut, Trenggono mengatakan kebutuhan benih dalam jumlah besar itu mendorong KKP menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), politeknik di bawah KKP, serta balai-balai perikanan untuk mendukung pengembangan program budi daya tematik.
“Nah ini, ini kita gandeng Pak Kepala BRIN untuk kemudian bisa kerja sama dengan politeknik-politeknik kita yang dimanfaatkan dan kita juga punya balai-balai untuk mengembangkan itu,” jelas Trenggono.
Ia mengatakan pengembangan budi daya tematik juga diarahkan untuk memperkuat hilirisasi berbagai komoditas kelautan dan perikanan, termasuk rumput laut.
“Tidak hanya itu saja banyak sekali turunan daripada industri kelautan perikanan seperti kayak misalnya bagaimana kita mengoptimalisasi rumput laut yang kita bisa budidayakan karena turunan daripada rumput laut ini banyak sekali, nanti kita kerja sama dengan BRIN untuk kemudian bisa dorong ke arah hilirisasi di sana,” kata Trenggono.
Trenggono menilai pengembangan berbagai komoditas tersebut diperlukan agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing sektor kelautan dan perikanan.
“Ini yang harus kita kembangkan supaya kita bisa paling tidak bisa mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain," tuturnya.
Senada dengan itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mengatakan, program strategis pemerintah di sektor kelautan dan perikanan memerlukan dukungan riset dan inovasi agar implementasinya berjalan optimal.
“Program strategis Bapak Presiden pembangunan Kampung Nelayan yaitu adalah hilirisasi industri dibidang kelautan dan perikanan ini memerlukan riset dan inovasi yang kuat, sehingga dalam hal ini BRIN sudah mengidentifikasi inovasi-inovasi yang dimiliki oleh BRIN yang sudah dihasilkan, yang siap diterapkan di berbagai kampung nelayan sekaligus di berbagai wilayah di mana, hilirisasi dari produk perikanan dan kelautan itu akan dilakukan,” kata Arif Satria.
Penulis: Nanda Surya
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id







































