tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung mengungkap penyebab fenomena angin kencang di wilayah Lampung dipicu oleh menguatnya Monsun Asia.
"Angin kencang yang dirasakan di wilayah Lampung ini dipengaruhi oleh menguatnya Monsun Asia atau angin baratan yang membawa massa udara basah dari Asia menuju Australia," ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Lampung, Rudi Harianto, saat dihubungi di Bandarlampung, Selasa (27/01/2026) dikutip dari Antara.
Rudi pun menjelaskan, angin kencang juga pengaruh tidak langsung dari aktifnya pola pertemuan dan belokan angin di sekitar Sumatera bagian selatan.
"Kombinasi ini meningkatkan gradien tekanan udara, sehingga kecepatan angin di wilayah Lampung menjadi lebih kencang dari normal," katanya.

Berdasarkan pemantauan BMKG, kata Rudi, kecepatan angin di wilayah Lampung umumnya berkisar antara 18-55 kilometer per jam. Terutama, di wilayah pesisir dan perairan seperti perairan Barat Lampung, Teluk Lampung bagian selatan, dan Selat Sunda bagian selatan.
"Sementara di daratan, hembusan angin dapat terasa lebih kencang saat terjadi hujan lebat akibat pengaruh downdraft dari awan hujan," ucap dia.
Ia mengatakan potensi cuaca ekstrim tersebut terutama di wilayah Lampung masih berpeluang berlangsung hingga akhir Februari 2026.
"Karena BMKG telah memprediksi puncak musim penghujan sampai Februari nanti," tambahnya.
Dia pun mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi pohon tumbang, atap ringan, dan baliho akibat angin kencang.
"Kemudian masyarakat harus berhati-hati saat berkendara, terutama saat hujan lebat disertai angin. Dan untuk nelayan serta pengguna transportasi laut agar memperhatikan peringatan dini cuaca maritim karena angin kencang dapat meningkatkan tinggi gelombang," ujar dia.
Ia pun mengingatkan kepada masyarakat agar selalu memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi dari BMKG.
Angin Kencang Rusak Puluhan Rumah di Jawa Barat dan NTT
Petugas memeriksa kondiri rumah warga yang rusak usai dihantam angin kencang di Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. ANTARA/HO-BPBD Kabupaten Bogor.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kejadian angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Provinsi Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur. Tercatat ratusan warga terdampak, selain itu terjadi kerusakan pada puluhan rumah dan fasilitas umum.
Abdul Muhari selaku Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan angin kencang di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat berdampak pada 137 jiwa warga setempat.
"Dari jumlah tersebut, tiga jiwa dilaporkan mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Angin kencang juga menyebabkan kerusakan pada 44 unit rumah warga serta empat unit fasilitas umum," kata Abdul di Jakarta, Selasa, dikutip dari Antara.
Abdul menyampaikan BPBD Kabupaten Ciamis telah melakukan pembersihan material, penyaluran bantuan logistik, serta perbaikan rumah warga terdampak untuk mempercepat pemulihan pascakejadian.
Peristiwa serupa sebelumnya juga terjadi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (25/1/2026), khususnya di Kecamatan Citeureup dan Kecamatan Caringin. Sebanyak 90 warga terdampak, dengan 16 jiwa mengungsi ke rumah kerabat.
Pusdalops BNPB melaporkan hasil pendataan yang diterima tercatat 15 unit rumah mengalami rusak ringan, delapan unit rusak sedang, dan tiga unit rusak berat.
Sementara itu, angin kencang pascahujan dengan intensitas tinggi juga melanda Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (24/1/2026), yang berdampak pada 188 jiwa dan menyebabkan tiga warga mengalami luka-luka.
Abdul menyebutkan bahwa angin kencang tersebut merusak 43 unit rumah warga dan BPBD Kota Kupang bersama instansi terkait telah melakukan penanganan kesehatan bagi korban, pembersihan material, serta penyaluran bantuan kebutuhan dasar.
"Hingga kini, sebagian rumah warga telah selesai diperbaiki," cetusnya.
Atas rentetan peristiwa tersebut BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, khususnya angin kencang yang dapat terjadi setelah hujan lebat, serta segera melapor kepada aparat setempat jika terjadi kondisi darurat.
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































