tirto.id - Ruang tamu di rumah dinas Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mendadak hening pada Selasa (21/7/2026). Di hadapan para jurnalis, Arifah membagikan lembaran cerita kelam dari kunjungannya ke Sampang, Madura.
Ini bukan sekadar laporan statistik di atas kertas. Ini adalah kisah tentang seorang anak perempuan berusia 15 tahun yang harus menanggung derita hebat, diperkosa oleh 27 pria di enam lokasi berbeda sejak November 2024.
"Anak ini tumbuh dalam kerentanan yang berlapis," tutur Arifah dengan nada bicara yang berat.
Sejak usianya baru menginjak tiga tahun, kedua orang tuanya berpisah. Ia kemudian dirawat oleh kakek dan neneknya di sebuah rumah yang sayangnya, tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah.
Berawal dari Sepasang Sepatu hingga Ancaman Video
Ilustrasi Kekerasan Seksual. FOTO/iStockphoto

Jalan hidup korban sebenarnya sempat menyentuh dinding pondok pesantren. Namun, dunia pendidikan tak ramah baginya. Ia kerap menjadi sasaran perundungan (bullying) dari teman-temannya hanya karena tidak memiliki sepasang sepatu yang bagus. Tak tahan, korban memilih keluar dan putus sekolah.
Kerentanan itulah yang dimanfaatkan oleh para predator. Suatu malam di sebuah taman kota, seorang pemuda mendatangi korban. Bermula dari obrolan ringan dan meminta nomor telepon, malam berikutnya berubah menjadi petaka.
Pelaku mengajak korban membeli kue. Ketika ditolak, pelaku mengeluarkan ancaman maut: menyebarkan sebuah video.
"Korban tidak berani menolak, dan tidak berani bercerita," ujar Arifah kata Arifah kepada wartawan di rumah dinasnya, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026).
Ketakutan itu terkunci rapat. Jangankan melapor ke polisi, untuk mengadu ke kakek dan neneknya saja ia tak sanggup karena kerap dipukul di rumah. Korban merasa tidak memiliki ruang aman untuk meminta pertolongan.
Senyap dalam Grup WhatsApp
Satu pelaku membuka pintu bagi pelaku lainnya. Lewat ancaman yang sama, korban terus digilir. Kasus ini baru terbongkar secara tidak sengaja ketika sang kakek melaporkan kehilangan cucunya ke kantor polisi karena tidak pulang selama tiga hari.
Ketika korban mendatangi rumah untuk mengambil baju, sang kakek langsung membawanya ke kantor polisi untuk mencabut laporan kehilangan. Di sanalah, di hadapan penyidik dan pendamping dari Dinas PPPA setempat, tangis korban pecah. Ia menceritakan seluruh neraka yang dialaminya selama ini, termasuk keterlibatan 27 pelaku.
Mendengar laporan tersebut, Menteri Arifah langsung menggelar rapat tertutup dengan Forkopimda, Bupati, dan Kapolres Sampang.
"Fokus utama kita adalah perlindungan total dan pemulihan trauma bagi korban. Penanganan hukumnya pun harus berjalan transparan," tegas Arifah.
Hingga saat ini, pihak kepolisian baru berhasil meringkus 13 pelaku. Tugas polisi di lapangan tidak mudah. Para pelaku, yang mayoritas anak putus sekolah, tergabung dalam satu grup WhatsApp yang sama. Mereka saling bersekongkol dan memberi informasi untuk melarikan diri.
Pelacakan juga terhambat karena di dalam grup tersebut, mereka hanya menggunakan nama panggilan atau alias. Dua dari total puluhan pelaku dipastikan sudah berusia dewasa.
Kini, kementerian bersama pemerintah daerah tengah berupaya memutus rantai hitam ini.
Bupati setempat diminta melakukan pembinaan masif bagi anak-anak putus sekolah di wilayahnya, sementara korban kini telah berada di tempat aman, perlahan merajut kembali masa depannya yang sempat dirampas paksa.
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































