tirto.id - Indonesia tengah bersiap untuk mencalonkan diri sebagai Anggota Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) setelah setidaknya 25 tahun vakum dari lembaga tersebut.
Salah satu tawaran yang dibawa dalam pencalonan sebagai anggota Dewan ICAO adalah memperluas kontribusi melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas penerbangan bagi negara-negara berkembang.
Berbekal tawaran tersebut, Direktur Angkutan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Agustinus Budi Hartono, mengatakan Indonesia ingin menunjukkan bahwa pencalonan sebagai anggota Dewan ICAO bukan semata-mata untuk mendapatkan posisi, tetapi juga membawa kontribusi bagi negara lain.
Apalagi, Indonesia telah memiliki pengalaman dalam memberikan dukungan dan pelatihan kepada negara lain di bidang penerbangan.
“Terutama untuk negara-negara yang mungkin belum berkembang seperti Indonesia misalnya dengan Timor Leste, kita juga mau memberikan bantuan untuk training,” kata Agustinus dalam taklimat media di Aroem Resto & Cafe, Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2026).
Tak hanya negara di kawasan Asia-Pasifik, Indonesia juga membidik kerja sama pelatihan dengan negara-negara di kawasan lain, termasuk Afrika.
Melalui program ini, Indonesia berharap dapat sekaligus membantu negara lain mengembangkan sistem penerbangannya.
“Negara-negara Afrika lain apa yang bisa kita bagikan, dunia penerbangan mereka. Sebenarnya itu yang diharapkan, ada kontribusi dari kita untuk negara lain,” ujarnya.
Meski begitu, Agustinus menegaskan, posisi di Dewan ICAO nantinya tidak hanya menjadi simbol kehadiran Indonesia dalam tata kelola penerbangan global. Lebih jauh, Indonesia perlu menunjukkan peran serta dan kontribusi konkret apabila berhasil memperoleh kursi tersebut.
“Bukan cuma kita jadi anggota Council, tapi kita tidak punya peran serta,” katanya.
Menurut dia, Indonesia sudah mulai membangun kehadiran di lingkungan ICAO. Saat ini terdapat dua orang perwakilan Indonesia di kantor ICAO kawasan Asia-Pasifik di Bangkok, dari yang sebelumnya hanya satu orang. Keberadaan perwakilan tersebut dinilai penting untuk memperkuat keterlibatan Indonesia dalam pembahasan isu-isu penerbangan internasional.
Tidak hanya itu, upaya merebut kursi Dewan ICAO juga dilakukan melalui diplomasi dengan negara-negara lain.
Agustinus mengatakan Indonesia telah melakukan sejumlah komunikasi bilateral untuk memperkenalkan pencalonan tersebut dan mencari dukungan. Indonesia antara lain telah berkomunikasi dengan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik dan telah pula mendapatkan dukungan dari Australia.
“Dengan Australia kita sudah sampaikan juga dan mereka support kita,” ujar Agustinus.
Selain itu, Indonesia juga melakukan pendekatan kepada negara lain yang memiliki kepentingan dalam tata kelola penerbangan sipil internasional.
Lebih lanjut, Agustinus menjelaskan, kursi Dewan ICAO juga memiliki arti strategis bagi Indonesia karena memberikan ruang lebih besar untuk memengaruhi pembahasan kebijakan penerbangan global. Dalam hal ini, dengan menjadi anggota Dewan, Indonesia dapat menyampaikan kepentingan dan pandangannya secara langsung dalam forum tersebut.
“Keuntungannya kita bisa intervensi langsung kalau misalnya kita ada buat peraturan-peraturan di sana, di ICAO, kita bisa langsung intervensi. Bukan hanya sebagai pendengar saja, kita sebagai pembahas,” jelas Agustinus.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






































